cerita dari tukang kayu

tanggal 16 juli 2016 jam 1 siang.

seperti biasa, saya dan ponyak ngobrol via hp. tentu saja obrolan ga penting. tentang ponyak yang sedang blusukan di cikini, saya yang baru selesai berenang, langit jakarta yang mendung. tak ada yang penting.

lalu ponyak mengirim gambar lemari bekas yang sudah beberapa kali saya lihat. saya yang sudah bersiap tidur siang, iseng beride untuk membuka toko online yang berisi barang-barang furniture. ini bukan obrolan pertama kami. hanya, kali ini kami serius membahasnya.

ponyak yang memang punya ketertarikan pada desain interior lantas setuju. barang-barang di rumah gunung, sepenuhnya dia yang mendesain, lalu membuatnya sendiri dengan dibantu pak tukang. hasilnya lebih dari sekedar lumayan. pun meja kerja di kamar saya. itu adalah hasil ponyak nongkrong di tukang kayu.

demikianlah.

sejak tanggal 16 juli 2016, saya dan ponyak tetiba punya ‘anak’ yang kami jaga bersama. tanpa berdebat panjang, kami sepakat untuk memberi nama ISIRUMAHKU. sangat deskriptif. straight forward. memang itulah. kami menjual barang-barang isi rumah yang berbahan kayu.

sejak tanggal 16 juli 2016, kami berdua jadi jauhhhh lebih sibuk. isi percakapan kami mendadak jadi penting. kalimat kami jadi panjang, tak lagi sekedar: ok, cu, tx, owh. :p

ponyak membongkar isi hp dan cameranya demi mencari foto-foto saat ia blusukan di workshop tukang kayu. saya meminta tolong sahabat saya untuk membuatkan logo sederhana. saya membuat sistem pemesanan, pengiriman, rekap data, membuat toko di IG. oh sibuknyaaa…

sejak tanggal 16 juli 2016, saya dan ponyak sibuk mengasuh ISIRUMAHKU.

ada teman bertanya soal ranjang, lemari 3 pintu, lemari 2 pintu, juga meja belajar. lalu kami sibuk membedakan antara kayu jati belanda, finishing, cat duko, dibakar dll…well, semua terasa asing di telinga saya. tapi, apa boleh buat. kami berdua sudah terlanjur basah.

hari ini tanggal 22 juli 2016.

ISIRUMAHKU menerima pembayaran pertama dari sebuah lemari dengan pintu sliding. lemarinya belum selesai dikerjakan. baru minggu depan akan kami kirim. itu membuat saya nyengir seharian.

hari ini, saya di jakarta dan ponyak di lombok. kami masih saja berkutat dengan anak baru kami. disela-sela saya memasak menu makan siang. di antara ponyak yang saya suruh ngejar sunset. ah!

saya sadar punya anak memang banyak challengenya. tapi saya yakin, tak ada yang ga mungkin. mungkin akan jadi besar, mungkin juga akan pudar.

untuk apa-apa yang masih abu-abu, saya memilih untuk ya pikirin aja ntar. hari ini cukuplah saya dan ponyak tetap memelihara semangat untuk bersabar membesarkan ISIRUMAHKU. membuatnya jadi tempat yang nyaman, tempat kami melempar ide, menulis mimpi lalu membayarnya dengan kerja keras. semoga semesta merestui.

pengen tau tentang ISIRUMAHKU, pls visit akun IG @isirumahku_id, silakan juga mengirim email ke pesanisirumah@gmail.com atau kirimkan WA ke 0815 1433 4835 atau 0813 1637 3878.

cek ig kami, sist1
cek ig kami, sist
duo isirumahku
duo isirumahku

 

cerita dari tukang kayu

adakah?

adakah yang lebih indah dari kita?
yang dalam diam, kita sibuk saling mendoa
yang tanpa kata, kita sibuk menyuburkan cinta

adakah yang lebih indah
dari kita?

aku yang selalu menantimu di sela sibukku
kamu yang selalu datang setelah kita lelah berjeda
dan kita yang sama-sama menjatuhkan diri
dalam kisah yang berulang

ah!

 

adakah?

harinya ibuk

2 tahun lalu, jam 7 pagi, handphone berbunyi membangunkan saya dari mimpi. Di seberang terdengar suara kakak pertama.

‘hei, udah bangun?’, sapanya
‘baru aja. mau jemput ibuk ya’, saya menjawab dengan semangat. pagi itu memang jadwal kakak saya menjemput ibuk yang punya jadwal operasi angkat pen di jam 4 sore.

semalam saya sudah menelepon ibu untuk mencek kesiapannya. dan seperti biasa, ibuk sangat bersemangat. walaupun saya tahu dia sedikit nervous, apalagi saya yang biasa jadi bodyguardnya tak bisa mendampingi. sengaja saya tak ambil cuti dihari ibu operasi. saya punya rencana sendiri, ingin memberinya surprise akan datang di hari jumat. pada ibu saya hanya bilang, tak bisa mendampinginya di operasi lepas pen. rencana surprise yang kemudian saya sesali seumur hidup saya.

di telepon, kakak saya ngomong dengan pelan bahwa ibu jatuh dan sudah tak ada.

saya diam beberapa saat. saya merasa harus mengumpulkan nyawa yang berhamburan entah kemana. mendadak saya merasa kosong sekali. kosong. melompong.

saya hanya mendengar satu kalimat penutup dari kakak saya bahwa..saya harus memberi tahu kakak ke dua tentang kabar ini. saya mengiyakan. lalu sudah.

setelahnya saya sibuk mencari oksigen. dada saya sesak. anehnya, air mata saya kering. mungkin saya sedang denial tingkat tinggi. atau mungkin saya sedang berpikir keras untuk mencari cara bagaimana menyampaikan kabar ini ke kakak ke dua. entahlah. saya ingat saya duduk diam cukup lama. entah dapat kekuatan dari mana, saya bisa menelepon kakak ke dua dengan tenang, nyaris tanpa perasaan. saya menutup telepon ketika mendengar kakak ke dua menangis histeris.

hari itu kemudian jadi hari yang sangat panjang.

saya pergi ke kamar windy, house mate saya, untuk memberi tahu kabar ini. saya memberi tahu dengan kalimat pelan. tangis windy pecah, tangisnya keras. tangisan windy menular. inilah tangis pertama saya ketika ibu pergi.

saya kembali ke kamar, menelepon kuyus sahabat saya. entah, saat menelepon kuyus, dada saya terasa sakit sekali. sa-kit-se-ka-li. berkali-kali saya menyebut namaNya, mencari kekuatan, mencari pegangan.

lalu penggalan-penggalan cerita berganti-ganti muncul di kepala. seperti slide presentasi.

saya ingat ketika saya datang ke pemakaman ibu-nya ponyak. saat itu saya sibuk bertanya pada diri sendiri. bisa nggak ya saya sekuat ponyak, yang hari itu tampak keren banget di mata saya. ponyak sangat tenang, cenderung dingin. dia sigap turun ke liang kubur untuk menangkap jasad ibunya. ponyak menguburkan ibunya dengan kedua tangannya. hari itu sibuk bertanya-tanya…apakah jika hal itu terjadi pada saya, saya bisa sekuat ponyak?

saya juga ingat semua tentang ibu saya. omelan-omelannya, masakannya, telepon-teleponnya, gosip ini itunya, dua gigi depannya yang ompong. saya juga ingat satu minggu bersama ibu di ruang icu, saya ingat betapa sulitnya meredakan amarah ibu yang sering tak terkendali.

saya ingat hari-hari saya di hadapan kabah, di raudah..dan semua doa dan harapan yang saya panjatkan. saya hanya minta satu, untuk selalu memiliki kesabaran menghadapi ibu saya. saya tidak mau jadi anak durhaka. lalu ketika ibu saya benar-benar pergi sendiri…tanpa ada seorang pun di sampingnya. tak ada anak-anaknya yang membantunya melewati sakaratul maut. saya merasa saya adalah pecundang yang benar-benar ga berguna. saya dihantui rasa bersalah yang membayangi seumur hidup saya.

**********

kemarin 12 juli, adalah hari ulang tahun ibu saya.

ketika ibu masih ada, saya nyaris tak pernah melewatkannya dengan biasa saja. saya mengiriminya kado, surprise bday cake dan mengundang teman-teman rumpinya. apa saja. saya hanya ingin bikin ibu saya senang.

setelah tak adapun saya berusaha bikin something special. saya pernah melewatkan peralihan tanggal 11 – 12 di resto padang pagi sore. saya rayakan ultah ibu dengan makan enak. saya rasa, jika ia masih ada..dia pasti akan sependapat dengan saya. pagi sore memang one of the best!

kemarin 12 juli, adalah hari ulang tahun ibu saya. kali ini saya hanya bisa bilang, saya kangen ngen ngen sama ibuk. pft!

senang-senang sama bapak ya, buk!

 

harinya ibuk

Lebaran Sudah Dekat

sebentar lagi ngemil nastar
sebentar lagi ngemil nastar

Lebaran sudah dekat.

Itu terbukti ketika tadi pagi saya mendapati Mbak Yem sudah sibuk di dapur. Menguleni tepung, telur, gula untuk berubah wujud jadi nastar yang aduhaiii rasanya.

Saya yang masih mengantuk urung melangkah kembali ke kamar.

Saya ambil dingklik, lalu duduk dan ambil bagian dengan membuat bola-bola nastar. Memlenet (apa ya istilahnya di bahasa Indonesia?), membuat lubang kecil untuk tempat selai nanas bersarang, menutupnya kembali dan mengolesi permukaan bola nastar dengan kuning telur agar nastar tampil cemerlang saat matang nanti.

Selama berkutat dengan adonan nastar, saya tak dapat menahan ingatan tentang ibu. Mungkin semacam rindu. Dan memang datangnya rasa rindu tak bisa kita prediksi. Datang tiba-tiba, menyelinap dan meninggalkan rasa nyelekit di dada.

Ibu si ratu dapur adalah dia yang tak pernah gagal membuat perut anak-anaknya berdendang. Jejak kelezatan olahan tangannya masih terlihat nyata di badan XXXL saya.

Masih terekam jelas di kepala, saat lebaran mulai dekat, Ibu akan menjadi sibuk (sekali) di dapur. Saya sempat heran melihat ibu-ibu di kota sibuk memesan makanan ini itu menjelang lebaran. Karena di masa saya tinggal bersama ibu bapak, hal itu tak pernah terjadi. Ibu memasak apapun yang akan kami makan.

Di awal-awal puasa, Ibu sudah mulai mencicil bahan-bahan yang ia prediksi akan naik di saat lebaran makin dekat. Tepung, gula ia bawa pulang. Lalu ia membayar telur, daging dan lain-lain. Barang-barang ini tak ia bawa pulang karena expired date nya yang singkat. Ia membeli dengan harga hari ini dan akan ia ambil saat dibutuhkan. Entah bagaimana cara negosisasi yang terjadi di tkp. Tapi bertahun-tahun lamanya, ibu selalu melakukannya.

Lebaran yang semakin dekat akan lebih terasa di dapur Ibu. Beliau tak pernah kembali tidur selepas subuh, Mixer akan meraung-meraung, tangannya putih tepung, aroma kue kering tercium dari oven andalannya. Ibu juga akan menumbuk ketan untuk dijadikan wingko babat kesukaan saya. Ya..WINGKO BABAT yang prosesnya subhanalloh susahnya. Itupun ia buat sendiri. Dan entah apa resepnya, sepanjang ingatan saya..rasanya selalu OKE BANGGET!

Walaupun di keluarga kami, Opor dan ketupat bukanlah item favorit, tapi ibu tetap akan membuatnya untuk dibagikan tetangga kanan kiri. Untuk kami, ibu selalu memasak sambal goreng kentang, soto babat dan iso dengan emping dan krupuk udang. Oh, di meja makan kami selalu terhidang tempe tepung. tentu saja itu adalah sajen untuk si bungsu.Tempe tepung tak pernah salah dan tak  mengenal musim.

Menu yang sering jadi favorit adalah pecel. Ibu selalu berpikir, orang-orang akan blenek makan menu santan. Dan semua rasa blenek itu tak akan terjadi di rumah kami. See, how thoughtful she’s.

Sepagi tadi saya menguleni cikal bakal nastar. Saya dan Mbak Yem asik mengobrol tentang ini itu, dengan otak saya tak lepas dengan episode-episode lebaran di rumah Ibu.

Rindu memang tak kenal waktu. Nyerinya tak habis oleh hitungan tahun. Dan untuk sebuah cinta yang dalam, kehilangan akan selalu terasa aktual.

 

 

Lebaran Sudah Dekat

Ngopi di Bukit Menoreh

Jauh dari hiruk pikuk kota Jogja, saya menyesap kehangatan kopi yang beda. Di Kopi Bukit Menoreh Pak Rohmat.

peggy di kedai kopi menoreh
                                                           peggy di kedai kopi menoreh
jalanan mulus, langit biru, sawah di kanan kiri jadi hiburan menuju Kopi Menoreh
jalanan mulus, langit biru, sawah di kanan kiri jadi hiburan menuju Kopi Menoreh
jalanan naik turun dan berliku menuju kedai kopi menoreh
                     jalanan naik turun dan berliku menuju kedai kopi menoreh

Bukit Menoreh sudah tak asing di telinga saya. Komik SH MIntarja yang berjudul Api di Bukit Menoreh menjadi salah satu komik andalan di masa lalu. Tapi saya tak pernah membayangkan benar-benar berkunjung di Bukit Menoreh. Sampai saya membaca ada kedai kopi yang asik di sana.

Adalah Pak Rohmat, petani kopi yang membangun warung kopi di ketinggian, tepatnya di desa Madigondo yang masuk di Kec. Samigaluh, Kab Kulonprogo.

Kopi Menoreh Pak Rohmat memang sulit dijangkau, jauh dari kota. Saya dan Peggy mengandalkan aplikasi waze dengan signal seadanya. Entah berapa banyak desa, kelokan, tanjakan berliku yang kami lalui. Sawah yang hijau kuning, jurang-jurang yang dalam, menjadi teman setia. Pemandangan sepanjang rute menuju Kopi Menoreh benar-benar asik.

Kedai Kopi Menoreh berukuran kecil saja. Menempati pekarangan belakang rumah Pak Soleh. Ada 2 saung di atas dan satu di bawah. Kami memilih saung di atas yang berkursi bambu. Satu saung lainnya dengan gaya lesehan (yang makin hari makin tidak cocok untuk perut gendut saya).

Begitu mendaratkan pantat di kursi bambu, seketika itu pula saya paham, mengapa kedai sederhana ini begitu diburu. Saya disergap rasa nyaman. Duduk memandang hutan tepat di depan mata. Tak ada pemandangan lain selain hutan. Telinga disergap oleh cicit burung, dan suara sungai mengalir di bawah sana. Kalau sudah begini, siapa tak jatuh cinta?

pemandangan di kedai kopi menoreh
                                            pemandangan di kedai kopi menoreh

Saya memesan kopi Arabica dan Peggy memesan Kopi Lanang. Keduanya datang bersama satu paket cemilan berisi kacang rebus, tahu goreng, singkong dan geblek. Dalam nampannya yang cantik, juga terdapat gula merah, gula pasir dan air jahe. Hidung kami kembang kempis.

kopi lanang dan arabica datang dalam tampilan yang cantik
                              kopi lanang dan arabica datang dalam tampilan yang cantik

Kami menunggu sesaat hingga tak ada kopi yang mengambang. Saya menyesap pelan. Rasanya pas. Pahitnya menyisakan sensasi manis setelahnya. Kopi Arabica pesanan saya sukses, pun juga sama dengan Kopi Lanang yang Peggy pesan. Pahitnya kopi Lanang lebih terasa tebal. Tapi tenang, semua akan menjadi biasa, termasuk kepahitan, bukan?! (curcol)

Setelah kopi, kami memesan makan siang. Menu sederhana nasi ayam goreng dan sambal kami pesan sebagai obat lapar. Entah karena perut memang lapar atau (lagi-lagi) karena suasananya yang enak, menu makan siang habis dalam hitungan menit. Duhhhh…mengerikan sekali!

Kedai Kopi Menoreh memang sangat mbetahi. Kami duduk-duduk santai, kadang mencek social media (teteup) sambil ngobrol dengan sesama pengunjung Kedai Kopi Menoreh. Berbagi cerita, tukar info ini itu, membuat rasa hangat menjalar di dada. Hangat yang seringkali dirindukan oleh orang-orang kota yang hidupnya habis untuk mengejar deadline.

Saya pasti merindukan kehangatan Kedai Kopi Menoreh. Jadi, saya pasti kembali!

Note:
jangan tanya bagaimana cara menuju Kedai Kopi Menoreh. Saya benar-benar mengandalkan waze!

Ngopi di Bukit Menoreh

Laku Ibu

sate klathak Pak Bari
sate klathak Pak Bari

Tadi malam, warung klathak Pak Bari tampak chaos. Saya yang datang sebelum warung Pak Bari buka, tak kunjung dilayani. Begitupun sekelompok anak muda yang duduk di tikar sebelah. Mereka bahkan sudah datang sebelum kami tiba.

Tak ada system catat pesanan di sini. Semua dilakukan dengan managemen warung pinggir jalan seadanya saja. Siapa yang kebetulan ada di dekat crew, bisa memesan dan jika beruntung langsung dilayani. Dan sebaliknya.

Semrawut memang. Kalau hal ini terjadi di Jakarta, niscaya akan terdengar rentetan kalimat bernada complain.

Untungnya, ini terjadi di Jogja. Tempat dimana selow menjadi bagian dari urat nadi. Jadi, sembari menungu tusukan sate klatak datang, pembeli melakukan interaksi ala mereka masing-masing.

Peggy, sahabat seperjalanan, menunggu dengan cara merebahkan badannya di atas tikar plastik meluruskan punggung yang kaku setelah seharian nyetir naik turun gunung. Usia memang tak bisa boong. Lagi-lagi, untung, ini adalah di Jogja. Jogja coret, bahkan dan di tengah pasar. Saya rasa, Peggy tak akan melakukannya jika kejadian ini ada di Jakarta. Sekawanan anak muda asik ngobrol di tikar yang lain. Saya memilih untuk ngobrol dengan ibunda Pak Bari, yang sedang ngeteh berteman onde.

‘Mbak, ndaleme pundi?’, tanya si ibu. Ketika saya menjawab Jakarta, si Ibu memberi respon yang atraktif. ‘Eyalahhhh….jauh sekali’, kata si ibu yang kemudian saya panggil dengan sebutan SImbah.

Simbah berumur 71 tahun. Masih sangat sehat. ‘Saya masih kuat kerja, ngurus anak, cucu dan cicit. Cuma saya sudah ompomg. Gigi habis semua’, kata Simbah dalam bahasa Jawa.

Ketika saya tanya apa resep awet muda yang dijalankan simbah, beliau menjawab, ‘Saya sedikit tidur dan jarang makan’. Simbah lebih suka ngemil dibanding makan besar.

Untuk kebiasaan tidurnya, simbah punya cerita. ‘Saya tidur setelah isya dan bangun jam 10 malam. Lalu saya melakukan pekerjaan rumah. Setiap jam 3 dini hari sampai jam 5 subuh saya jalan kaki mengelilingi rumah. Itu laku saya untuk keselamatan anak cucu cicit’, begitu jawab simbah ramah.

Jalan kaki mengelilingi rumah adalah ‘laku’ yang dijalaninya sekian lama. ‘JIka hujan, saya jalan mengelilingi rumah sambil payungan. tetangga-tetangga sudah hapal. sekalian ronda’, imbuh Simbah sambil terkekeh.

‘Laku’ ini adalah wujud doa Simbah agar anak, mantu, cucu dan cicitnya senantiasa dimudahkan jalannya dan terhindar dari marabahaya. Orang tua di Jawa memang kerap melakukan laku dengan caranya masing-masing. Ada yang puasa di hari pasar anaknya. Ada yang mutih. Dan Simbah memilih lakunya dengan cara mengelilingi rumah.

Mungkin terasa aneh bagi orang kota. Tapi sejatinya, itu adalah salah satu wujud cinta dan doa Ibu.  Doa yang mengalir tanpa henti, dalam versinya masing-masing. Dan untungnya (lagi), Tuhan yang maha segala, begitu mencintai sosok Ibu, lengkap dengan setiap versi doa yang ia lantunkan, laku yang ia jalankan.

Saya dan Simbah terus mengobrol. Tentang anak-anaknya. Tentang kebiasaannya makan Supermi yang kemudian saya larang. ‘Banyak pengawetnya, mbah. Mending dhahar onde, tiwul mawon’. SImbah pun setuju.

Begitulah. Managemen warung sate klatak Pak Bari yang acakadut, jadi termaafkan karena kami pembelinya, punya cara asik sembari menunggu sate dan tongseng datang.

Di Jogja semua jadi lebih mudah dimaafkan.

note:
photo taken by Peggy

Laku Ibu

Pantai-pantai di Lombok

Lombok memang spesial. Pulau ini dikelilingi pantai-pantai yang aduhai dan aduh sayang banget kalau nggak dikunjungi.

Pantai-pantai di Lombok tersebar di 4 penjuru mata angin: Barat – Timur – Selatan – Utara. Saya pribadi, sangat menikmati menjelajahi pantai-pantai di sudut Pulau Lombok. Menurut saya, lebih menyenangkan blusukan mencari pantai-pantai baru ketimbang island hopping di 3 gili yang, menurut saya, too mainstream.

Berikut adalah beberapa pantai di Pulau Lombok, yang menyenangkan untuk dikunjungi:

  1. Pantai Selong Belanak
    Pantai ini terletak di Lombok Selatan. Memiliki garis pantai yang panjang dan berpasir putih yang halus. Terletak sekitar 50 km dari kota Mataram, pantai yang berhadapan dengan Samudra Hindia ini menawarkan ketenangan. Jauh dari kata brisik dan sumpek. Jika datang di hari biasa (bukan saat liburan) pantai ini nyaris kosong. Di sini, pengunjung bisa berenang dengan aman, karena lautnya cenderung tenang.Mengunjungi Selong Belanak, berarti kita akan melewati jalanan yang tidak rata. Banyak kelokan dan bukit-bukit indah di kanan dan kiri jalan. Indah banget!

    pasir putih dan garis pantai yang panjang
    pasir putih dan garis pantai yang panjang
    we love selong belanak beach
    we love selong belanak beach

    jalanan yang asik
    jalanan yang asik
  2. Pantai Tanjung Aan
    Di Lombok Tengah, kita bisa berjumpa pantai Tanjung Aan yang masyur. Pantai ini unik. Terdapat 2 jenis pantai yang dipisahkan oleh bukit/tanjung yang dapat didaki oleh pengunjung. 2 pantai ini berpasir halus dan berpasir merica. Saat sunset, para pengunjung berduyun-duyun mendaki bukit karena pemandangannya indah betul.

    Tanjung Aan sebelum naik bukit
    Tanjung Aan sebelum naik bukit
    sunset from the hill
    sunset from the hill
    pantai yang di bawah itu yang berpasir merica
    pantai yang di bawah itu yang berpasir merica

     

  3. Pantai Mawun 
    Jika Anda penyuka pantai mungil, sepi dan cantik rupawan, segeralah pergi ke Pantai Mawun.
    Terletak di Lombok Selatan, pantai ini terletak di antara Pantai Selong Belanak dan Pantai Kuta Lombok. Bawalah perbekalan (makanan dan minuman) yang cukup, karena di pantai ini sangat minim warung. Hal ini salah satu kekurangan yang juga menjadi berkah…karena pantai ini benar-benar memberikan ketenangan yang maksimal.

    lengkung pantai yang sempurna
    lengkung pantai yang sempurna
    see...nobody there..so peaceful
    see…nobody there..so peaceful

     

  4. Pantai Tangsi
    Pantai Tangsi yang terletak di Lombok Timur ini mendadak heits karena punya pasir berwarna pink, seperti pantai pink yang terdapat di Pulau Komodo, Flores.Berbeda seperti pantai-pantai lainnya di Lombok yang bisa dijangkau dengan mobil, pantai-pantai di Lombok Timur lebih mudah dijangkau lewat jalur laut. Anda harus bermobil menuju pelabuhan Tanjung Luar dan menyewa kapal kayu di sana.

    Dari Tanjung Luar, Pantai Tangsi dapat dicapai dalam 30 menit. Selain Pantai Tangsi, Anda bisa mampir di Gosong Pasir (gundukan pasir yang timbul saat air laut surut) dan beberapa pantai (yang saya ga apal namanya). Pokoknya, tiap liat pasir putih, segera saja tambatkan perahu dan nikmati pantainya.

    gosong pasir yang kece
    gosong pasir yang kece
    salah satu pantai di Lombok Timur dari atas perahu. mampir saja!
    salah satu pantai di Lombok Timur dari atas perahu. mampir saja!
    nah..ayo kita mampir dan buka bekal makan siang di sana
    nah..ayo kita mampir dan buka bekal makan siang di sana
    kawan berlayar
    kawan berlayar
    our boat, the one and only boat at that time
    our boat, the one and only boat at that time

    20150514_114443

  5. Trio Gili di Lombok Barat
    Gili Nanggu, Gili Kedis & Gili Sudak

    Gili Nanggu adalah salah satu gili (pulau kecil) yang cukup terkenal, selain 3 gili yang sudah mendunia. Letaknya di perairan Selat Lombok, masuk di kawasan Lombok Barat. Di pulau kecil ini terdapat resort dengan harga yang sangat terjangkau.Gili Nanggu menjadi favorit snorkling para newbi. Dengan kedalaman sedengkulpun ikan-ikan aneka warna sudah berseliweran.

    mendarat di Gili Nanggu
    mendarat di Gili Nanggu
    Main ayunan di Gili Nanggu
    Main ayunan di Gili Nanggu
    sunset di Gili Nanggu
    sunset di Gili Nanggu
    pulau berpasir putih itu Gili Sudak
    pulau berpasir putih itu Gili Sudak
    Kami di Gili Kedis
    Kami di Gili Kedis

    Tentu saja masih buanyakkkk koleksi pantai di Lombok yang menunggu untuk didatangi. Jadi, kapan kita ke sana?

Note:
catatan lama, sekedarnya saja biar nggak lupa.

Pantai-pantai di Lombok