learn from other · my thought · personal · Uncategorized

reviewing my life

kemarin saya dihadapkan oleh kejadian yang membuat saya merasa insecure. saya mengingat banyak hal; tentang karir, keluarga, hubungan yang ga pernah jelas arah mata anginnya, pertemanan. semua.

setelah me-review 10 tahun perjalanan terakhir, berujung pada banyak sekali ketidakpuasan dan pertanyaan yang tak bisa saya jawab. bukan karena tidak tahu jawabnya, tapi saya benar-benar takut pada kenyataan hidup bahwa selama ini saya memang agak salah jalan. saya tahu saya salah jalan, tapi saya diam dan hanyut makin dalam. i hate myself for being so damn stupid, stubborn and atulah…ngepet!

hari ini saya ada di titik di mana saya harus mengambil sebuah keputusan besar. dimana keputusan yang saya ambil memberi dampak pada kehidupan saya seluruhnya. saya merasa lemah, lalu merasa butuh pertolongan. ketika orang-orang yang anggap bisa menolong ternyata tidak sesuai harapan, saya jadi gemas-gemas beringas. itu baru satu hal.

di saat genting seperti ini, saya ingin sekali fokus bekerja, tidak mendengar kabar sumir, tidak melihat hal-hal yang tidak ingin saya lihat. ketika inipun gagal…saya bertambah emosi. yawlaaaa…saya beneran kesel sampai ke ubun-ubun.

lalu hari ini saya ngobrol banyak dengan sahabat saya. dimana kami saling nyampah, bercerita apa saja.

saya bercerita tentang kegamangan yang sedang saya alami. diapun mengeluarkan semua keruwetan hidup yang sedang dijalani. mendengar dia bercerita, saya nangis. saya merasa Tuhan menjawab semua pertanyaan yang tak bisa dan tak berani saya jawab sendiri. sekali lagi, God is always Great! Tuhan menjawab semua kegamangan  lewat sahabat saya.

sepanjang kami ngobrol, sahabat saya terus-terusan ngingetin bahwa kami memang terlahir sebagai pejuang yang teruji di medan laga. sahabat saya ‘membesarkan hati’ bahwa saya pasti bisa melewati ini semua. pasti bisa karena saya sudah teruji di medan-medan pelik di hari-hari kemarin. tak perlu memikirkan yang tak penting. prioritaskan apa dan siapa saja yang memrioritaskan kita. bahwa berbuat bodoh adalah manusiawi…terima saja and take a good learnt from our lesson.

betapa Tuhan memang maha pembuat skenario. jika kemarin Ia membuat saya bertanya dan mempertanyakan banyak hal, hari ini Ia memberi saya jawaban. Clear and bold!

so, keep on fighting..dear me!

 

Advertisements
learn from other · personal

cerita tukang kayu

16 Oktober kemarin, isirumahku berusia 3 bulan. kalo berwujud anak, isirumahku adalah bayi yang belum bisa apa-apa selain nangis, nenen dan tidur. paling banter belajar tengkurep atau mesem dikit saat mimpi ketemu bidadari.

isirumahku, anak kandung saya dan agan, yang kami lahirkan dengan kesadaran penuh. walau terkesan begitu tergesa, tapi kami, saya dan agan sudah kadung cinta. mau bilang apa.

seperti bayi 3bulan lainnya, isirumahku sukses bikin kami, orang tuanya, sibuk luar biasa. yang biasanya tidur on time, bisa nulis blog, sedikit nongkrong atau nonton…setelah punya anak isirumahku..waktu 24 jam terasa kurang. tidur pun kadang sambil mikir. saya tak sempat lagi ngariung breakfast club bareng remaja putri #bpm. agan pun tak sempat lagi olah raga (katanya). pendeknya hidup kami berubah.

saya ingat saat agan bertanya serius…‘ semalem tidur jam berapa kamu?’…pertanyaan yang rada mustahil dilayangkan pada saya yang sering bilang ‘aku molor duluan ya’ atau ‘aku udah bangun tp masih punya waktu sejam buat tidur lagi’ saat jam sudah di angka 8 pagi.

saat itu saya tidur jam 2 pagi dan di jam 4.30 sudah terbangun oleh tang ting tung di wa. oh well…urusan isirumahku bisa seserius ini. :p

saya dan agan tidak membayangkan isirumahku akan jadi hal yang bikin hidup kami makin sibuk. awalnya kami hanya ingin coba-coba aja. dapet pesanan syukur…nggak juga tak apa. santai saja.

tapi, siapa sangka jika tiba-tiba ada apartemen yang harus diisi ini itu…lalu ada rumah yang baru dibeli juga butuh diisi dengan perabot kayu. siapa sangka saya harus mringis kesel saat itung-itungan cash flow meleset angkanya..dan bikin agan misuh? lalu, siapa kira saya harus belajar kayu dengan sistem kebut semalam. dan bahkan tak hanya kayu…tapi juga cor-cor-an dapur, marmer, granite, lalu urusan harga kenop yang kecil tapi mahal. siapa pula saya, yang bego bgt soal gambar dan angka-angka…lalu musti memahami gambar perspektif, pola kitchen set, roda macam apa yang kuat menahan beban sekian kilo ..YAWLAAAAAAAAAAAAAA….IT’S BEYOND MY WORD!

segitu doank riweuhnya?

cencu tidak.

ada lagi urusan yang selalu sukses bikin saya sembelit. apalagi kalo bukan urusan tukang kayu, dari mulai cerita lucu, polos, ngeselin, sampai rasanya saya mati rasa dan cuma bisa nyengir saat hidup rada tergoncang karena drama tukang kayu.

begini kira2 dramanya…

drama 1, antara agan dan tukang kayu yang siap memasang kitchen set di rumah customer
agan: heh, mau kemana?
tk kayu: lho, katanya mau masang kitchen set
agan: kok masih pake sarung
tk kayu: apa ndak bole? *cuek bebek
agan: &*_#__$)*#*#
(lalu terbit surat perintah pake baju rapi saat ke rumah customer. surat perintah yang berasa segitunya amat….tapi HARUS dibuat saat itu juga!)

drama 2, antara saya dan tukang kayu, yang baca WA tapi yagitu deh sama info didalamnya
pesan di wa tertulis ‘mas, kirim barang ga jadi sabtu ya..minggu aja’ 
dan di WA ada tanda centang 2 warna biru yang artinya pesan sudah terbaca. lalu siapa yang tak jantungan saat tukang kayu menelpon di sabtu pagi dan mengabarkan dia sudah berangkat dari bengkel di depok menuju CIKUPA…dengan bersungut-sungut saya bangun..lalu saya dan agan terlibat ‘komunikasi intens *baca: komunikasi dgn nada tinggi’ dan terjadilah sabtu yang saya gadang-gadang jadi sabtu santai jadi sabtu yang sibookkk amattttttt…*hakdezz

masih buanyakkkk banget drama-drama tukang kayu yang lain. mulai dari keliru ukur, keliru beli barang, miss comm ini dan itu. huvt!

dalam masa-masa genting trimester pertama, masalah komunikasi menjadi barang berharga. betapa saya yang hidup di industri komunikasi, sering merasa gagal jadi komunikator yang baik.

ya begitulah. 3 bulan punya bayi isirumahku mengajarkan buanyaaaaaaakkkkk sekali.

lebih dari sekedar itung-itungan bisnis, tapi juga bagaimana mengendalikan emosi, menyimpan ego di tempat yang paling tersembunyi.

sudah tak terhitung agan bertanya ‘are you okay?’…saat saya mendengus kesal, saat saya tak mampu mengendalikan air muka atau saat saya begitu dodol, gagal paham tentang suatu bahasan yang terjadi dijam yang salah. siapalah yang mampu memikirkan urusan detail kayu saat mama macan juga mengejar deadline apalah apalah.

dari berbagai drama, ada banyak pula kantung-kantung bersyukur yang tumbuh subur.

menjadi orang tua bayi isirumahku membuat saya dan agan jadi jauuuuh lebih dewasa. kami tak lagi lari jika ada hal-hal menyebalkan yang datang menghampiri. semua masalah harus dicarikan SOLUSInya. semua harus diupayakan jalan keluarnya. sekesal apapun saya pada agan (dan sebaliknya) kami tak berbalik badan dan pergi. semasam apapun muka saya (dan agan) kami tak pernah lari. biasanya, kami akan duduk dan berdiskusi. mungkin ada nada-nada tinggi, tapi kami anggap itu manusiawi.

kami bersyukur kami punya teman-teman dan keluarga baru lewat isirumahku. kami belajar banyak hal baru, kami punya kesempatan untuk menjadi murid dan guru, di saat yang sama. dan yang paling penting, kami punya kesempatan untuk berbagi ilmu….berbagi rejeki, berbagi hal-hal baik.

isirumahku adalah jalan. adalah usaha kami menjadi manusia yang lebih baik. yang lebih pandai bersyukur. semoga Tuhan memberkahi kesabaran dan kemampuan.

 

 

 

learn from other · my thought · personal

memeluk kehilangan

Semalam, sepulang dari meeting panjang di salah satu mall paporit ibukota, saya terlibat dalam obrolan ngalor-ngidul tapi kok ya ternyata dalam.

Seorang kawan yang usianya jauh lebih senior, bercerita pengalamannya berpuluh tahun lalu ketika anaknya terpuruk dalam sakit yang serius. Anak bungsu yang masih 7 bulan tersiram air panas, menimbulkan luka yang membahayakan nyawanya. Segala macam upaya sudah dilakukan, namun tak kunjung membawa perubahan.

‘Saya marah sama Tuhan, saya kalut. Saya bilang sama Tuhan..kalo anak saya mati, saya juga mati’, begitu kata kawan saya. Dengan jiwa hampa, Tuhan mempertemukannya dengan Romo yang mengajaknya untuk berserah. Pasrah. Kisah ini (syukurnya), berakhir bahagia.

Saya juga teringat, dalam beberapa fase hidup, saya pernah dipertemukan dengan kejadian-kejadian yang bikin hati nyeri bukan kepalang. Saat seorang client kesayangan meninggal dan 8 hari kemudian putra 8 th nya pun menyusul. Saat satu keluarga client (client saya, suami, dua anak dan pembantu) meninggal dalam keadaan rumah yang terbakar hebat. Saat sahabat saya mengalami keguguran. Lalu, pada saat saya (akhirnya) jadi yatim piatu.

Betapa hidup kita sangat rentan dengan kehilangan. Betapa kita sebenarnya tidak memiliki apa-apa. Kita terlahir sendiri, pun nanti pada saatnya berpulang.

Ada berapa banyak rasa sakit yang timbul dari kehilangan?

Saya mencoba hitung. Saat saya kehilangan Bapak, saya pikir rasa sedih akan hilang seiring waktu. Tapi hingga kini, sudah nyaris 16 tahun Bapak berpulang, rasa sakit itu masih sama. Jangan tanya pula apa rasanya ketika Ibu pergi. Saya yakin, untuk beberapa hal, istilah ‘time heals all wounds’ seperti tak ada artinya.

Kita hidup dan tumbuh dewasa dalam pelukan kehilangan. Dari mengalami kehilangan kita belajar rasa sakit, penyesalan, marah. Tapi dari kehilangan pula, Tuhan memberi pelajaran tentang menghargai apa-apa saja yang kita miliki lalu kemudian bersyukur untuk apa-apa saja yang selalu ada, yang memilih untuk tinggal dalam hidup kita, yang setia bersama menemani kita saat melintas jalanan berbatu, di saat angin kencang dan badai menerpa.

Saya memeluk kehilangan. Menghargainya. Mencintainya. Karena itulah hakikat hidup sesungguhnya.

 

 

 

 

 

learn from other · makan di mana · me time · nonton apa? · personal

Mina Wakatobi: Mencicip kuliner otentik Wakatobi

Wakatobi, deretan pulau-pulau kece di Sulawesi Tenggara, sudah lama kondang karena alam bawah airnya yang aduhai. Tapi tidak banyak yang tahu bahwa Wakatobi juga punya banyak sajian kuliner yang khas. Saya salah satunya.

Walopun pernah mengunjungi Wakatobi, pengetahuan kuliner Wakatobi yang saya tahu hanya sebatas soami. Lainnya tidak.

Selama di Wakatobi, saya sudah cukup hepi jika pagi bertemu pisang goreng dan kopi lalu makan siang di pulau antah berantah dengan menu ikan bakar…dan makan malam pun berjumpa ikan (lagi). Itulah menu yang diulang selama 5 hari di Wakatobi.

Lalu ketika saya diajak untuk mengenal Wakatobi dengan cara lebih lezat, maka siapa yang berani menolak?

Dipandu Mbak Lisa Virgiano, saya dan beberapa pecinta ngemil-ngemil diajak untuk menikmati kelezatan Wakatobi sebagai menu berbuka dalam acara icip-icip ngabuburit berjudul Mina Wakatobi.

Ada beberapa jenis masakan yang super duper jenius, baik dari bahan-bahan yang digunakan maupun cara pengolahannya. Walaupun ada beberapa bahan yang disubstitusi karena alasan kelangkaan bahan di Jakarta, namun semua tidak mengurangi esensi acara ini. Semua senang, semua kenyang!

So, mari kita intip yang lezat-lezat dari dapur Wakatobi…

  1. Soami Pepe
toast cassava pancake with natural fish floss
kenyel-kenyel gimana gitu

Soami adalah satu-satunya makanan khas Wakatobi yang pernah saya makan. Penganan yang terbuat dari soami kikiri; singkong yang diparut – keringkan – ayak dan kukus – ini rasaya hambar-hambar gimana gitu. Saya menemukan soami berbentuk kerucut yang disebut soami togi, dalam jumlah massive di pasar rakyat Wanci.

Tapi, yang dihidangkan pada acara Mina Wakatobi bentuknya berbeda. Bukan kerucut melainkan pipih. Soami pepe, namanya. Pepe dalam bahasa Wakatobi berarti dipukul. Penampilan soami pepe ala Mina Wakatobi pun lebih cantik dibanding aslinya dengan taburan abon ikan dan potongan cabe merah sebagai aksesoris. Soami pepe-pun tampil cantik dan rasanya sungguh ciamik!

2. Jojolo

IMG-20150712-WA0005
lembut di mulut, nyaman di perut!

Sebagai pendamping soami, sebagai menu pembuka kami disuguhi Jojolo yang manis-manis lembut. Ini adalah semacam klapertaart dengan tingkat kemanisan yang lebih bersahabat. Terbuat dari jagung muda, daging kelapa muda, dan parutan kelapa tua dengan harum pandan, Jojolo sangatlah pas disajikan sebagai menu pembuka saat buka puasa. Lembut di mulut, aman di perut!

3. Kentakalla Ni Santai alias tuna masak santan

cara bikinnya ga sesantai namanya
cara bikinnya ga sesantai namanya

Menu selanjutnya yang kami cicipi adalah Kentakalla Ni Santai, semacam fillet ikan tuna masak santan. Saya tebak dalam kelezatan menu ini terkandung kunyit, kemiri, ketumbar, gula dan garam…selain santan yang cukup kental. Mungkin inilah satu-satunya menu Wakatobi yang kaya bumbu.

Kentakalla ni Santai punya rasa yang sangat unik. Saat menyerput kuah santannya…langsung terhirup rasa kecut yang menyeruak…yang ternyata berasal dari daun  kedondong. Wuihhh…daun kedondong benar-benar memberi signature taste yang djempolan.

4. Kosea Nu Lobha

segarnya nyandu
segarnya nyandu

Jika kentakalla ni santai sup berkuah santan yang pekat, maka kosea nu lobha adalah sup dengan kuah bening yang ringan.

Kosea Nu Lobha berisi daun melinjo, daun ubi dan daun katuk plus parutan kelapa dan ikan bakar suwir sebagai pemberi rasa gurih dengan bumbu bawang merah dan sejumput garam. Perpaduan bahan dan bumbu memberi rasa segar dan pengen nambah lagi (dan lagi)…;p

5. Tumis Kempa

Walopun namanya tumis, tapi cara memasaknya tidak menggunakan minyak goreng. Tumis kempa adalah kerang batik yang dimasak santan cair dengan menggunakan bumbu bawang merah, cabai merah dan tomat.

Kerang batik yang masih sangat segar memberi rasa manis gurih yang khas. Tumis kempa bisa dimakan dengan soami kikiri. Tapi pada acara Mina Wakatobi, tumis kempa disandingkan dengan soami ondo-ondo bhiru yang penampakannya mirip banget tiwul.

Sayangnya, saya tidak punya foto tumis kempa ini…yah, memang sulit untuk konsentrasi jika berada diantara kudapan-kupadan lejat. hih!

6. Seafood Sinole

ga punya foto hasil akhir seafood sinole...
ga punya foto hasil akhir seafood sinole…
mbak Lisa dengan sabar memasak sembari menjawab pertanyaan dari peserta Mina Wakatobi
mbak Lisa dengan sabar memasak sembari menjawab pertanyaan dari peserta Mina Wakatobi

Ahhhh…inilah menu yang bikin peserta Mina Wakatobi berbaris rapi dan setia menunggu. Mba Lisa Virgiano turun tangan memasak sendiri menu ini.

Seafood Sinole adalah semacam nasi goreng seafood-nya warga Wakatobi, dimana peran nasi digantikan granule singkong. Buat saya pemakaian granule singkong adalah pencapaian luar biasa bagi kecerdasan kuliner Indonesia. Betapa tidak, membuat granule singkong butuh extra effort. Singkong diparut lalu diperas hingga menjadi ampas kering lalu diayak. Hih..susah amat!

Memasaknya pun tanpa menggunakan minyak, hanya mengandalkan minyak yang keluar dari parutan kelapa. Selebihnya hanya mengandalkan bawang merah dan sejumput garam. Itu saja!

Sebagai penyempurna rasa, granule singkong diberi taburan ebi dan abon ikan, disamping irisan cumi dan kerang batik yang hadir dalam jumlah massive. Hasilnya? Wooowwwwwww!!!!

***********

Begitulah, Wakatobi tak melulu soal alam bawah lautnya saja tapi juga kekayaan kulinernya yang sangat layak untuk dijelajahi dan dilestarikan sebagai asset Indonesia yang luar biasa!

Note:
• Thanks to Andi Fachri yang mengajak saya ikut di acara ajib ini sebagai bagian dari menu ngabuburit Ramadhan 2015.

Acara Mina Wakatobi digagas oleh Azanaya, event promotor yang aktif menyelenggarakan event-event culinary/gastronomy. Salah satunya adalah Underground Secret Dining. Lebih jauh tentang Azanaya, baca di sini

learn from other · my thought · personal

life lesson

Ramadhan selalu saja jadi bulan penuh kesan. Lebih dari sekedar puasa dan ibadah lainnya, di bulan penuh berkah ini, saya selalu (merasa) punya waktu untuk ‘me time’.

Minggu lalu saya menghabiskan waktu berdua dengan sahabat saya. Diantara hingar bingar musik, kami ngobrol ini itu. Saya bercerita tentang ‘kepandaian mengolah kesedihan’ yang sudah ada di level advance. Sepanjang kami ngobrol, saya dan sahabat saya menarik kesimpulan bahwa kepandaian saya itu sangat berbahaya. Kepandaian mengolah rasa sangat mungkin menghasilkan manusia yang mati rasa. Yassalam…bahaya amattt..lalu kami berdua tertawa berderai-derai. *sigh

Lalu malam ini.

Saya melewatkan dengan ngobrol panjang lebar dengan seorang teman yang baru patah hati. Oh ya…umurnya baru 20-an. Dia yang masih muda jadi kurusan karenanya. Patah hati yang membawa berkah.

Saya mengenalnya sebagai wanita (belia) yang tangguh. Bukti bahwa umur tak berkorelasi lurus dengan kedewasaan. Dia jauh dari alay dan mengambil sikap untuk ‘say no to drama’ dalam hidupnya.

Datang dari keluarga kaya raya yang broken home tak membuatnya jadi rapuh. Dia sangat mandiri, cerdas dan memilih santai menghadapi ‘belaian angin pantai’…begitu dia memberi istilah pada cobaan-cobaan dalam hidup. Pendeknya….di usia belia dia sudah pandai mengolah kesedihan. *degh

Kembali saya teringat obrolan dengan sahabat saya yang mengawatirkan fase ‘mati rasa’ yang saya alami. Dia berpendapat, adalah berbahaya jika kita bebal menghadapi kesedihan. Menganggap terpaan-terpaan badai yang datang jadi hal yang biasa. Terlatih patah hati, begitu kata sebuah lagu.

Tapi apakah memang berbahaya ketika kita sudah biasa menghadapi hidup yang bergejolak?

Menghadapi -dia-yang-kau-sebut-partner-in-crime yang sungguhlah tak bisa dinyana arah mata anginnya – dan-kau-gagal-pergi-ber-kali-kali. YAK…BERKALI-KALI!

Menghadapi keinginan yang seringnya berujung jadi wacana

Bertemu dengan orang yang tak diharapkan tapi -harus-biasa-aja-like-nothing-happened….

Beradu kenyataan bahwa dunia oh sungguh bergerak melesat hingga sering telat sadar bahwa ada hal penting yang terlewat

Lalu –mereka-yang-disebut-sahabat-satu-persatu-hilang-melanjutkan-hidup...

Merasa lelah saat -kebodohan-orang-lain-tiba-tiba-jadi-masalahmu-dan-kau-tak-bisa-menghindar-dari-tanggung-jawab…

Lalu…apakah berbahaya jika kita merasa semua jadi biasa?

Benarkan merasa biasa aja sama dengan mati rasa?

Entahlah….

Saya cuma berpegang pada satu hal…

People can be broken, but what’s broken can be mended. So, be happy!

That’s all…

learn from other · my thought · personal

pagi romancis

tadi pagi, selepas melek mata dengan sempurna, seperti biasa saya mengecek email yang masuk di hp. biasanya ada email-email yang masuk di jam-jam kecil, bisa dari anak-anak nakal TBK yang setor PR selepas deadline atau seringnya dari mama boss yang seneng banget kirim email pagi buta.

salah satu email, berasal dari salah satu client, membuat pagi saya begitu romantis.

email yang masih berbau-bau ‘minta tolong’ dari salah satu client.

saya mengenalnya dengan baik. nyaris disepanjang karir, saya bersinggungan dengan beliau. lelaki santun berotak besar. cerdas dan halus sekali budinya. email itu berisi permintaan tolong untuk membuat sebuah kado berisi album foto, kado untuk temannya (baca: anak buah).

dalam emailnya, beliau sudah menulis apa-apa saja yang harus ditulis dalam album foto tersebut. saya membacanya runut. barisan kata-katanya indah dan lucu, khas tulisan beliau. di beberapa titik, tulisannya membuat saya tersenyum. membayangkan kedekatan seorang boss dan anak buahnya yang sudah layaknya teman, bahkan sahabat.

hingga pada suatu titik, tulisannya membuat hati saya begitu hangat. saya menangkap maksud kado tersebut. pak client mengirim kado sebagai penghiburan untuk temannya yang baru saja tertimpa kesedihan.

saya membaca salah satu kalimatnya..

kita selalu menyimpan foto kenangan indah di dalam album. tapi anehnya kit selalu menyimpan semua kenangan buruk di album yang bernama hati. hati dan perasaan kita selalu membawa ‘foto’ yang mengandung moment yang menyedihkan, momen saat frustasi, saat terpuruk, momen masa lalu yang terus kita bawa.
you can’t start the next chapter of your life if you keep seing the last one.

ahhh, kita memang tak dapat bergerak jika terbebani banyak hal. kita tak pernah bisa berpindah saat kaki kita digelayuti beban. hati kita akan berat jika dibebani bermacam cerita susah, sedih yang kita pendam dan kita biarkan terpendam.

pak client sudah membuat anjuran move on yang ditulis dengan sangat indah dan juga sangat tulus. hati saya hangat.hangatnya menjalar, hingga mata saya merebak dibuatnya. pagi yang romancis.

-21 maret 2013-


 

learn from other · oleh-oleh jalan-jalan · personal

belajar dari nenek amas…

nenek amas (paling kanan) and the gank

Pagi ini saya teringat Nenek Amas. Seorang nenek berusia 70 tahun asal Toli-toli, Sulawesi Tengah. Saya mengenal Nenek Amas dari perjalanan umrah yang saya lakukan 2 minggu lalu.

Nenek Amas, pertama kali melihatnya, saya langsung jatuh hati. Wajahnya polos, kalau tak mau menyebutnya ‘datar-tanpa ekspresi’. Nenek Amas terlihat cemas pagi itu. Atau bingung. Entahlah. Yang pasti, saya berbagi kursi yang limited edition kala itu. Pagi yang sangat hiruk pikuk. Petugas dari travel agent sibuk membagi-bagikan id card dan lembar itinerary. Hati saya hiruk pikuk membayangkan apa yang saya jumpai di tanah nabi.

Saya membuka perbincangan dengan ‘nama nenek siapa?’, ‘asal dari mana?’. Ketika nenek Amas menyebut Toli-toli, dengan bodoh saya membayangkan gunung Sitoli, Sumatra Utara. Hadeuuhhh….dan saya baru tersadar, ketika nenek Amas menceritakan rute yang harus ia tempuh: dari rumahnya – menuju bandara Palu yang nyaris 24 jam….dari Palu terbang ke Jakarta. Ketika saya bertanya ‘dianterin siapa?’ dan Nenek Amas menjawab ‘sendiri’…entah mengapa ada palu yang terasa menggetok kepala dan hati saya. 70 tahun, dengan kemampuan berbahasa Indonesia ala kadarnya..jauuuhh dari pelosok Indonesia, sendiri…untuk pergi ke tanah nabi.

Lalu, Tuhan seperti berkata-kata lebih banyak pada saya lewat Nenek Amas. Perjuangannya yang tidak mudah. Tubuhnya yang renta. Kemampuan komunikasinya yang terbatas. Dan semua kekurangannya. Tapi tetap saja, Tuhan yang Maha Sempurna, menyempurnakan kekurangan yang ada, dengan kelebihan. Tuhan melebihkan ‘niat yang luar biasa’ yang dimiliki Nenek Amas, yang memungkinkan apapun yang sudah ia niatkan, bisa ia wujudkan. Saya makin nunduk dalam-dalam.

Setelah bertemu Nenek Amas, saya tahu, perjalanan umrah saya akan jadi perjalanan yang luar biasa. Lebih dari sekedar saya akan bertetangga dengan Rasul di Madinah. Lebih dari sekedar saya akan merasakan tawaf – sai – tahalul seperti yang diajarkan oleh uztad dan muthawif saya.

Tuhan berbicara banyak. Banyak sekali. Lewat semangat Nenek Amas. Lewat tubuh mungil Nenek Rojanah yang sukses mencium hajar aswad, dan ketika saya tanya…berdoa apa di hajar aswad, Nenek Rojanah menjawab…’semoga Alloh mengembalikan Al Quran saya yang hilang’. Lalu, ketika saya mengembalikan Quran Nenek Rojanah, yang memang saya simpan, Nenek Rojanah berucap…’alhamdulillah, Alloh mengabulkan doa saya’. Ah, Nenek Rojanah….rupanya dia lupa, saya menyimpan sebagian isi tas nya agar dia nyaman saat tawaf dan sai.

Saya belajar banyak dari nenek-nenek, teman seperjalanan. Lewat kesederhanaan hidup, mereka tampak sangat menikmati hubungan yang akrab dengan Tuhan. Hubungan yang sederhana. Tapi pasti kualitasnya luar biasa. Disaat orang-orang mati-matian berdoa ini itu di hajar aswad, nenek Rojanah ‘hanya’ berdoa agar Alloh mengembalikan Al Quran-nya. How lovely! Akrab sekali. Dan saya ngiri to the max.

Tuhan yang Maha Baik memertemukan saya dengan banyak nenek. Mungkin itu sebagai hadiah untuk mulut saya yang sering berucap ‘saya ga punya memori bagus tentang nenek’. Dan begitulah, selama nyaris 2 minggu, Tuhan memberi hadiah berjumpa dengan banyak nenek yang luar biasa. Yang juga tak bisa saya lupa adalah, ketika berjumpa dengan nenek asal Johor, Malaysia. Nenek yang tak sempat saya tahu namanya ini, sejak awal ngobrol sudah seperti ‘nenek yang menasehati cucunya’. Ia mengajari saya bagaimana cara memakai mukena yang benar, lalu sikap duduk dan bagaimana seharusnya jari telunjuk diacungkan saat duduk tasyahud. Nenek Johor berkata…‘sikap tubuh saat shalat haruslah benar, karena semua anggota tubuh kita akan jadi saksi di hari perhitungan.’ #JLEB! Saya hanya bisa manggut-manggut dan sibuk menahan air mata yang berebut turun.

2 minggu bersama nenek-nenek. Adalah skenario sempurna Tuhan untuk membuat saya belajar lebih tekun. Belajar bahwa ibadah semestinya dinikmati. DINIKMATI. Entahlah, sejujurnya, saya kurang setuju dengan ibadah yang penuh dengan matematika. Yang mengejar shalat di masjidil haram karena shalat di sana pahalanya 100.000x lipat dibanding tempat lain. Atau memohonlah di spot ini dan itu karena masuk dalam tempat yang mustajab, dimana setiap doa akan terkabul. Sungguh, saya percaya dan meyakini bahwa itu memang benar, tapi saya juga meyakini…dalam mengabulkan permohonan dan doa-doa, Tuhan tidak pernah pilih kasih. Dan kita tidak pernah tahu, apakah ibadah kita diterima atau malah berpotensi menimbulkan dosa, karena sebagai manusia biasa…hati kita begitu rapuh untuk terserang penyakit riya.

Tuhan memberi kesempatan untuk ‘merasakan punya nenek’ selama 2 minggu. Merasakan dinasehati. Digandeng. Menemani mereka makan. Ditatap oleh mata-mata teduh. Mendengar cerita lucu bahkan jadi saksi ketika mereka berkata ‘kemarin kami bertengkar, tapi lalu baikan. tak baik marah terlalu lama’.

Umrah adalah ibadah sunah. Jika kau sehat dan mampu, tak ada salahnya untuk mengerjakannya. Lakukan dengan niat yang kuat, dan pasrahkan kepada Tuhan apapun yang akan kita lalui di sana. Nikmatilah setiap saatnya. Saya menikmati saat tertangkap basah membawa kamera di Masjid Nabawi…lalu ditolong oleh petugas kebersihan yang berbagi tips ‘bagaimana tips meloloskan kamera’. Saya menikmati duduk-duduk saja di antara wanita Turki yang sedang mengaji. Menikmati lantunan ayat-ayat suci dari suara-suara yang indah dan menusuk hati. Menikmati saat imam besar masjid nabawi nangis sesengukan saat membaca ‘ihdinash sirathal mustaqim‘. Menikmati setiap kurma yang dibagikan orang-orang yang tak saya kenal, lalu permen. Menikmati masjid yang fungsinya tidak cuma sebagai tempat beribadah…tapi juga belajar, bersosialisasi, jadi halaman bermain untuk anak-anak. Masjid adalah tempat kita berbagi dan belajar hidup.

Saya belajar untuk menikmati ibadah. Agar tak membuatnya jadi ‘sebatas ritual’. Menikmati bahwa ibadah sebaiknya ‘tidak egois’, bahwa Tuhan mencintai umat yang mencintai sesamanya…tak hanya umat yang mencintai-Nya. Sungguh Tuhan Maha Sempurna dan Maha Besar…yang memberi hadiah Rasul terbaik yang memberi contoh agar kita berbagi kebaikan dengan sesama. Jika Rasul mau, tentusaja Beliau bisa melakukan ibadah haji dan umrah sebanyak yang ia mau. Tapi nyatanya tidak, hingga Rasul wafat, Rasul hanya beribadah haji sebanyak 3x dan umrah hanya 2x. Rasul bahkan mengajarkan untuk lebih memprioritaskan ibadah sosial daripada ibadah individual, apabila dua ibadah itu hukumnya sunnah.

Tuhan berbicara banyak lewat nenek Amas, nenek Rojanah dan teman-teman seperjalanan. dari mereka saya belajar, tentang ibadah yang dinikmati, yang lebih dari sekedar upaya kita mengejar surga dan menghindari neraka. Lebih dari sekedar perhitungan-perhitungan pahala.

Saya belajar banyak tentang keikhlasan dari nenek Amas yang gagal bertemu cucunya yang bekerja di Mekkah. Menerima kenyataan, walau saya tahu, nenek Amas pastilah sedih. Jika kemudian, nenek Amas memberi saya oleh-oleh yang ia bawa dari Toli-toli, yang sedianya ia berikan pada cucunya…maka sesungguhnya Tuhan sedang berkata lembut ‘bersyukurlah, maka nikmatmu akan Kutambah….berbagilah, maka bahagiamu akan bertambah’. Ya, oleh-oleh nenek Amas adalah segenggam merica kualitas terbaik yang lalu saya bagi untuk sahabat, teman seperjalanan saya. Saya yakin, Tuhan akan memperpanjang berkah kebaikan untuk nenek Amas, karena dari segenggam merica itu…sahabat saya akan menyajikan masakan-masakan lezat penuh cinta untuk keluarganya. Kebaikan yang berumur panjang.

Terima kasih, Tuhan..telah memberi kesempatan untuk belajar lebih mencintaiMu, dengan cara yang indah.

note:
terima kasih saya tak akan cukup untuk sahabat-sahabat saya. tanpa dukungan mereka, saya tak akan bertemu nenek amas dan berbagi cerita…

learn from other · my thought · personal

life moves on

heihooo…

berjumpa lagi dengan saya yang sudah malas bekerja di H-2 mudik lebaran 2011. rasanya gimana gituh, saat hati sudah terbayang-bayang adegan bersenang-senang di pasar pagi, trus lamunan manis itu digusur oleh slide-slide presentasi yang bikin otak mengerut. ah!

begini, ini kan baru hari senin yaa…jadi mari kita rumpi, tentang temuan saya di hari wiken kemarin. temuan ini baru saya sadari beberapa menit yang lalu. saat saya duduk santai di toilet. tempat merenung nomer satu.

kesimpulan tentang wiken kemarin adalah ‘move on’.

di ruangan favorit tempat merenung tadi, saya mengingat banyak hal. tiba-tiba saya ingat ibu saya. ibu yang saya sayangi luar dalam, yang kadang bikin kami anak-anaknya geleng-geleng kepala memang pribadi yang unik. tapi dari semua sifat-sifat anehnya *maaf*, saya mengacungkan jempol pada kemampuannya ‘menerima kenyataan’ yang luar biasa.

satu yang saya ingat adalah ketika ibu mampu merima kenyataan saat ‘tiba-tiba punya 2 adik kandung dari orang yang tak pernah ia *sangka (baca: harapkan)’. tentu saja ini kejadian besar dan mengejutkan. tentu saja ini membawa dampak besar. menurut cerita, pada awalnya ibu memang marah. sempat terjadi ribut besar. tapi pada kenyataannya, ibu mampu menerima keadaan dan bisa bilang ‘yang sudah ya sudah…’. dan 2 adik ‘baru’ nya bahkan hidup bersama, menjadi tanggungan ibu dari mulai sekolah hingga mereka menikah. ibu bilang ‘tak ada manusia yang tak berdosa, tinggal bagaimana kita memperbaiki keadaan..karena hidup akan terus berjalan’

ingatan wiken kemudian menyeruak. hmm, tepatnya mengingat film kungfu panda yang baru saja saya tonton sabtu kemarin. diantara banyak kalimat-kalimat yang artinya ciamik. saya mengingat 2 hal. satu, kalimat Po saat di kuil Shen…“i meet my old enemy…stair”…huehehehhee, ini kalimat yang ‘gw banget’. saya bisa merasakan apa yaang Po rasakan, saat dihadapkan pada ratusan anak tangga. #plak.

eitttt…tentu saja, saya tak akan membahas ‘our old enemy’. saya ingat saat Po berkata pada Shen You got to let go of the stuff from past, because it just doesn’t matter. The only thing that matters is what you choose to be now’..Hmm, Po menyarankan Shen untuk let go of the stuff from past…untuk move on. Tinggalkan masa lalu, karena memang itu sebuah hal yang sudah berlalu…dan yang terpenting, apa-apa yang terjadi sekarang. saat ini.

ahhh…life moves on.

lalu tanpa sengaja, saya menonton kick andy tayangan ulang tentang beberapa tokoh yang pernah merasakan penjara karena terkait masalah korupsi. terlepas dari apakah mereka benar-benar melakukan tindakan korupsi, atau kena sial ‘harus terkait’ karena mereka ada di posisi pemangku keputusan.

bukan korupsinya yang jadi fokus utama. tapi masalah penerimaan. bagaimana mereka menerima kenyataan. berdamai dengan kenyataan. memaafkan dan meneruskan hidup.

life moves on.

itu yang terlintas di lintasan-lintasan ingatan saat saya merenung di toilet tadi siang. tentang hidup yang terus berjalan bahkan kadang terasa terlalu cepat. tentang hidup yang sebenarnya adalah kumpulan cerita yang sangat logis. tentang hitam-putih. naik turun. senang sedih. seperti ketika kita naik sepeda, hati senang bila berjumpa jalan yang menurun. kaki tak lelah mengayuh. saat itu seharusnya kita juga mengingat, jika ada turunan, pasti ada tanjakan. jadi bersiaplah.

life moves on. apa yang sudah terjadi, biarlah berlalu. sebagai mahluk yang diciptakan berakal, Tuhan membekali kita dengan otak. Modal utama agar kita mampu mengambil pelajaran dari apa yang terjadi. karena mencaci hanya menyiksa diri. mengumbar emosi hanya menguras energi.

life moves on. berdamai dengan diri. berdamai dengan yang terjadi. berbahagialah karena hidup terus berjalan.

*selesai urusan toilet, memencet tombol fluzz…karena saya tak ingin menyimpan racun masa lalu ;p

learn from other

rinjani hari ini

ah. hari ini saya terlalu senang. sampai-sampai, saya tak bisa menahan air mata yang tiba-tiba keluar tanpa dikomando.

 

pagi ini sahabat-sahabat saya memberi kabar tentang Rinjani. Ya, gunung Rinjani. gunung cantik dan menjulang di belahan pulau lombok. sahabat-sahabat saya, 3 perempuan hebat yang awam dunia per-gunung-an. 2 diantaranya, kuyus dan dhora..sama sekali tak pernah naik gunung sebelumnya. sebelumnya, kami hanya sampai kelimutu. perempuan ke-3 adalah desma, lebih berpengalaman dengan dunia gunung. desma pernah menaklukkan kinabalu. tapi, kinabalu telah tertata rapi dengan semua fasilitasnya. begitu yang saya baca.

 

sahabat-sahabat saya menari di rinjani. saya tak bisa henti mengagumi mereka. rinjani adalah satu hal. tapi yang patut dicatat dengan tinta emas, tentu saja adalah kekuatan semangat dan keberanian.

 

sahabat-sahabat saya. kuyus, dhora dan desma..adalah salah 3 nya. perempuan-perempuan macan, hadiah dari Tuhan, tempat saya berkaca dan belajar tentang hidup. sahabat-sahabat saya, macan-macan perempuan dengan semangat dan keberanian luar biasa.

 

saya masih ingat, duluuu..di akun friendster, salah satu sahabat kami menulis tentang kuyus. kurang lebih begini…’kepandaiannya jauh melebihi apa yang ia sangka. kekuatannya jauh melebihi apa yang ia duga’. ya. sayalah saksi hidup yang membenarkan kalimat itu. saya dan kuyus benar-benar melewati apa yang dinamakan hidup keras. hidup yang tak mudah. kuyus, dengan segala keberanian yang ia miliki…’berlagak tenang’ saat mendampingi dokter yang sedang kisruh dengan luka operasi saya. saya yang penakut bahkan tak berani membuka mata. kuyus juga yang menemani saya mencari obat-obat, terus memberi semangat disaat-saat saya ada di titik terendah. berantem? sering juga…tapi tentu, kami lekas berbaikan. hehehe…kuyus yang kuat dan berani, sekali lagi membuktikan apapun bisa diwujudkan. apapun. sesulit apapun.

 

dhora lain lagi. dialah wujud keras kepala yang berujung bahagia. saya mengagumi keras kepala kelas atas yang dia miliki. keras kepala dan semangat, yang mengantarkan ke mimpi-mimpinya yang tertinggi. sebelum berangkat ke rinjani, saya sempat mengawatirkan kesehatan punggungnya. saya berpesan ‘jangan memaksa…’ dhora memang tidak sampai puncak rinjani,  ‘hanya’ sampai ketinggian 3700 dpl..W O WWWW…bahkan tak hanya rinjani yang bisa ia takluk-kan…dhora berhasil mengalahkan dirinya sendiri. tidak memaksa menaklukkan rinjani. menakluk-kan diri sendiri…jauhhhhh lebih sulit menaklukkan puncak manapun juga. rinjani benar-benar jadi hadiah hebat buat ultahmu yaaaa…

 

dan desma. kakak kami yang cerdas dan tangguh. kecerdasan, semangat dan keberaniannya jauhhhhhh melebihi badan kecilnya. belahan-belahan dunia telah ia datangi, hutan belantara…laut dan sekarang puncak rinjani…tak ada yang lebih pas untuk menggambarkan kekaguman saya…ahhh, ibu ratu..kamu memang huebaaaattttttt….

 

hidup memang penuh cerita. tak pernah berjalan lurus. seringkali jurang menghadang, kerikil dan batu besar menghalang. hanya dengan  semangat, kekuatan dan keberanian kita bisa melaluinya. hanya dengan semangat kekuatan dan keberanian…tapi kita pasti bisa sampai di mimpi-mimpi tertinggi…menjejakkan kaki di negeri-negeri yang jauh..menyelami laut biru…

 

hanya dengan semangat kekuatan dan keberanian kita bisa memenangkan hidup.

 

tulisan ini untuk kalian. perempuan-perempuan macan yang hari ini, kembali melukiskan semangat kekuatan dan keberanian dengan gagah berani …dari puncak rinjani.

learn from other · my thought

(sedang) berbelok arah

dalam perjalanan saya lebih menyukai jalanan berbelok naik turun. bukan jalan lebar dan lurus tanpa hambatan seperti jalan tol. jalanan yang berkelok-kelok lebih menantang dan seringnya saya dapat bonus pemandangan bagus di kiri kanannya. kadang jurang, tebing yang rontok, sawah, hutan. mata saya dimanjakan. otak saya sibuk menebak “apalagi setelah ini?”

 

begitu juga dengan hidup. walau saya yakin, tak ada hidup yang lurus-lurus saja. setiap orang pasti punya cerita ini itu lengkap dengan sedih senang nya masing-masing.

 

hidup, saya yakin pasti ada jalan berbeloknya. pasti ada the unexpected things-nya. kalo ngga ada…boseeenn cyinnnn…:)

 

benarlah, Tuhan itu Maha Sutradara yang Luar Biasa. Dia menciptakan manusia dengan jalan cerita yang berbeda. tak ada setitik kisah dalam perjalanan hidup manusia yang tak Ia ketahui. semua ada dalam kuasaNya. semua ada ditanganNya.

 

hari ini teman baik saya berkata..”saya sedang berbelok arah”. saya tersenyum membayangkan hmm…muka manyun-nya yang sedang serius…;p

 

teman baik saya sedang “berbelok arah”. bukan hal yang mengejutkan untuk saya. karena hidup tak ada yang lurus-lurus saja. karena hidup penuh kelokan yang memperkaya cerita. tanpa kita rencanakan sekalipun, hidup bisa berbelok 180 derajat tanpa kita minta.

 

teman baik saya sedang “berbelok arah”. bukan hal yang luar biasa bagi saya. hidup saya yang berkelok-kelok tanpa saya minta banyak mengajarkan hal baik. setiap kelokan pasti mengajarkanmu sesuatu. setiap kelokan, pasti membawamu pada sensasi rahasia yang luar biasa. tajamkan rasa agar kau bisa mendapat hikmahnya.

 

teman baik saya sedang “berbelok arah”. dalam hati saya berdoa, semoga dia baik-baik saja. semoga kemanapun dia berbelok, semoga dia selalu bisa melihat kebaikan, merasakan nikmat dan menyukurinya.

 

satu yang perlu diingat. kemanapun dia berbelok, apapun yang dia pilih…dia tetap teman baik saya.

note:
hmm, satu yang perlu diingat…dia janji mau kasih saya cemilan. semoga dia ga lupa yaa..amin!