me time · oleh-oleh jalan-jalan · personal

Lebaran bersama Agan

Lebaran tahun ini saya tidak pulang. Alasannya? Tentu karena ibu dan mamak sudah tak ada. Rasanya saya nggak siap untuk menikmati sepi di rumah sendiri. Pedih, kak!

Jadilah lebaran kali ini jadi lebaran yang paling santai selama saya jadi imigran gelap ibukota.

Saya tidak begadang rebutan tiket mudik. Nggak blusukan Tanabang. Ngga nuker-nuker duit (tapi teteph transfer sana sini sik ;p)..dan nggak-nggak yang lain. Beneran woles.

Lebaran hari pertama, saya shalat di dekat rumah, lalu ngacir ke rumah kakak ke-2 untuk salam-salaman dan makan opor. Ga pake lama karena jam 10 pagi saya sdh sampai Pejaten lalu nonton tv dan bobok siang. Nonton tv dan bobok siang kemudian diulang dilebaran ke dua, plus saya nge-mall demi menghindari santan.

Bangun pagi di lebaran ke-tiga, Agan mengirim pesan..bertanya apakah saya ingin menepi ke rumah gunung. Saya menolak. Entah darimana ceritanya, tiba-tiba saya dan Agan bersepakat untuk pergi ke Lombok. Agan sudah punya tiket, saya belum. Maka, segera saya cek website tiket online dan segera membeli tiket untuk penerbangan jam 18.30. Well…saya harus segera berkemas.

Agan yang terbang jam 3.30 tentu saja lebih dulu sampai. Dia menunggu saya landing nyaris 3 jam setelahnya. Ketika saya turun dari lantai 2 bandara, saya melihatnya duduk persis di dekat eskalator. Kami bertukar senyum lebar. Lalu saling minta maaf…dengan agak-agak dramatis. yah, hidup tanpa drama pasti akan terasa datar saja kan…

Dari bandara, kami menuju rumah Fian untuk menunggu pagi dan bisa berpikir jernih tentang ‘mau kemana sih kita?’ kami memang pergi tanpa rencana. Terserah hati dan kaki saja.

Maka, ketika pagi hari Agan mengajak untuk bablas ke Maluk, saya langsung oke saja. Saya janji akan jadi anak manis..no rewel..no protest..

Mungkin karena saya berjanji akan jadi anak manis…maka Agan juga jadi anak manis (banget). hahahha…duh, saya harus akui ini…biasanya he’s the reseh and nyebelin and nyiyir to the maxx…tapi kemaren Agan berubah jadi malaikat. Selama nyaris seminggu hidup bareng, kami bahkan ga sempet berantem. Ini PRESTASI yang membanggakan!

Jadi, ngapain aja selama kami di Maluk?

                                                              lebaran di seberang
  1. Piknik dari pagi sampai menjelang sore dimana tiap pagi Agan belanja cemilan dan ransum makan minum. Seperti biasa, saya bangun siang, cuci muka dan cuss…duduk bonceng motor menuju spot-spot pantai
  2. Berenang
  3. Saling foto dan record some moments to remember *uhuk…sebenernya Agan si yang lebih rajin…dia kan lebih narsis…;p
  4. Baca buku *salah bawa buku..ketebelan jd ga kelar-kelar
  5. Dengerin musik dari playlist Agan. Selera musik kami kebetulan sama
  6. Tidur siang
  7. Pulang…mandi dan nerusin tidur siang..
  8. Bangun sore…lapar…makan (lagi)
  9. Malam makan lagi
  10. diulang berhari-hari

Diantaranya…kami sempat piknik sama penduduk sekitar dan makan siang bareng mereka. Diantaranya kami berburu sunset sampai ke Nomad Cafe…demi mengabulkan permintaan saya nyari yang dingin-dingin menyegarkan.

Kami juga sempat melihat-lihat celah untuk mewujudkan impian rumah pantai…YaTUHANNNN…saya deg-deg-an…hvft!

_____________________

Note:
– Seminggu hidup enak bareng Agan berakibat fatal. Saya menderita  ga bisa mikir ga bisa kerja berkepanjangan.
– Teluk Maluk ada di Kabupaten Sumbawa Barat. Pantainya banyak, semua cakep, mostly ga pake ombak goyang dombret, jd aman sentosa buat berenang syantiekk.
– Bagaimana cara ke Maluk?
a. Pesawat Jkt – Lombok = sekitar 700rb harga normal
b. damri dr bandara lombok ke kota mataram = 25rb
c. travel (inova) dari mataram ke pelabuhan kayangan = 50rb
d. speed boat dari kayangan ke benete = 135rb
sampai deh di Maluk….

Gampang kan?! #AyoKeMaluk

 

 

Continue reading “Lebaran bersama Agan”

Advertisements
me time

Reuni:ON

Beberapa saat lalu, saya masih memicingkan mata kakak sulung saya yang – demen banget reuni sd-smp-sma. bentar-bentar ngumpul sama anak smp, lalu minggu depan ngariung sama anak-anak sma. Begitu terus. Sering banget.

Saya cukup sinis dengan berkomentar, ‘yaelah, tua amat broh!‘ ;p

Tak lama berselang dari komen saya yang jahap, keadaan berbalik 360 derajat. Memang, kata-kata adalah musuh manusia. Bahkan tajamnya kata-kata bs membuat luka yang susah sembuh. Ah, syurem betul!

Iyak!

Tak lama setelah saya berkomentar, muncul invitation di layar hp. Ajakan untuk masuk di group SMA. Wuidih…SMA lho…jaman putih abu-abu! Jaman keemasan umat manusia. Saat manusia sedang bertumbuh, masa transisi dari remaja yang -entah apa maunya apa aja pokoknya salah – , menjadi manusia dewasa yang -setelah dewasa beneran, beneran saya pengen balik ke masa remaja – masa yang paling indah!

Setelah  masuk group SMA, lalu ada ide untuk …jeng jeng.…yak REUNI, event yang menurut saya TUAK BANGGET! *ngakak sampe gurun sahara

Tapi ya gitu. Namanya juga manusia yang banyak lupanya. Ketika diajak reuni, mendadak saya amnesia bahwa reuni adalah milik mereka yang tak lagi muda. Reuni adalah ajak om dan tante yang udah PULUHAN TAHUN GA KETEMU. Rrrrrr…tapi emang sih. Saya dan teman-teman saja udah masuk fase ini. Fase puluhan tamu ga ketemu. Dan hebatnya, ga cuma diundang reuni, kok ya berani2nya saya jadi panitia! *salto ke Timbuktu

Lalu hari-hari saya menjelang reuni menjadi sangat riuh.

Bayangkan saja, panitia Reuni Kepriwe Kabare 98 (ternyata) begitu militan. Panitia meeting online 24/7 non stop. Hmm…kecuali saat tidur sih. Pagi saya berubah jadi pagi yang hangat oleh sapaan assalamualaikum dari ketua panitia yang luar biasa rajinnya. Sekarang saya tahu kenapa Okki selalu dipilih jadi ketua ini dan itu. Panitia lainnya pun tak kalah hebat. Rina, sahabat saya yang didapuk jadi bendahara, begitu rajin memberi laporan siapa yang sdh transfer, menghitung anggaran yang saya yakin..jika posisi saya jadi bendahara…hasilnya akan kusut!

Begitulah. Reuni Priwe Kabare 98? Reuninya SMA 1 Cilacap angkatan 98 akhirnya berlangsung heboh, gegap gempita…warbyasakkkkkk

Siapa sih yang ga kangen sama pangsit PDS? selain rasanya yang aduhai…pasti banyak yang punya memori daun pisang di kedai pangsit yang mangkal di depan sekolah.

Atau, siapa sih yang ga deg-deg-an ketemu mantan? Biarpun kisah kasih tak berujung di depan penghulu, tapi tetep aja rasanya nano-nano kan…hmm..ada semriwing gimana gitu kan yaaaa…

Lalu, siapa yang ga kangen sama mantan teman duduk, teman bolos, temen beli jajan, teman curhat…saya bahkan kangen bgt sama guru-guru yang dulu bikin keder. Ga usahlah sebut guru matematika, salah satu yang jadi voldemort- mata pelajaran yang tak perlu disebut namanya – pada jamannya.

Saya bahkan pengen ketemu bgt sama guru biologi. Namanya pak Bangun. Kenapa? Karena beliaulah satu-satunya guru yang memberi angka merah di rapor saya. Seumur hidup, hanya beliau yang berani melakukannya. Kenapa? Apa karena saya bego? Owh, tentu saja tidak, kisanak! Rahasianya adalah…karena saya ketauan nyontek di salah satu ulangan harian. Semester berikutnya…saya kembali mencetak angka 8 di rapor. Pelajaran penting: ati2 kalo nyontek! eh nggak ding…pelajarannya, jadi anak sekolah ya musti siap ulangan kapan aja. siap setiap saat jadi resep jitu menjalani hidup hari ini!

Senyum dan tawa tak pernah lepas di tgl 26 Des kemarin. Bahagia melihat sahabat-sahabat saya jadi mama papa yang bertanggung jawab. Bangga melihat sahabat-sahabat saya sukses di bidangnya masing-masing dan (semoga) bahagia menjalani hidupnya. Haru melihat para guru yang lelah letihnya sudah mengantar kami menjadi seperti sekarang. Surga untukmu, wahai ibu dan bapak guru!

Akhirnya saya tahu rasanya reuni.

1% senengnya….sisanya SWENENG BWANGETTTTTT *goyangdombret

terima kasih sudah mau berteman sama saya. terima kasih sudah memberi warna cerah di masa yang paling genting dalam fase kehidupan manusia. terima kasih untuk cerita yang mengalir tanpa henti dan tawa yang membahana.

Ingat…2 th lagi kita ketemu di reuni 98 berikutnya. AJA KELALEN!

15726987_10208704407472636_1869695279101196912_n
sebagian panitia. kami berasal dari SMP yang sama…SMP 1 CLP :*
15940806_10154535281924191_2783072311121236530_n
Panitia ber pose sebelum basah kuyup mandi keringat
15740856_10207863232690991_8640261576947912234_n
cewe-cewe macyannnnn. saya paling pendiam di antara lainnya
15698169_10154496070834191_2521079806106434820_n
this is US…

*tulisan pertama di 2017. ayo, jangan males nulis!

 

 

me time · oleh-oleh jalan-jalan · personal

Blusukan candi-candi di sekitar Borobudur

4 candi dalam satu hari
4 candi dalam satu hari..dari ki-ka: Ngawen, Selogriyo, Pawon dan Mendut

Oh well, saya seperti berhutang pada diri sendiri karena belom juga mem-posting candi-candi yang ada di seputaran candi Borobudur. *tsah

Di pertengahan Desember, saya mengunjungi kawasan Borobudur dan sekitarnya. Awalnya, saya memang berniat menikmati sunrise, either di Stumbu atau langsung di Borobudur. Tapi (sayangnya), niat sunrise-an selalu berujung gagal bangun pagi. Suasana EloProgo Art House memang terlalu enak untuk dibawa tidur.

Setelah gagal mengejar sunrise, saya segera memutar otak untuk mengisi waktu luang (selain duduk bengong – makan – tidur – ngegosip sama si Ulis. huehehhehee…;p;p)

Sayapun segera menghubungi Pak Joko, pak ojek yang menemani saya makan siang di warung mangut beong dan akhirnya mengantarkan saya ke EloProgo. Bersama Pak Joko, akhirnya saya berhasil mengunjungi candi-candi (selain Borobudur) di Magelang dan sekitarnya

CANDI MENDUT

Pagi sesudah sarapan, Pak Joko sudah siap menjemput. Candi yang pertama kali kami singgahi adalah Candi Mendut yang berjarak sekitar 2 km dari Candi Borobudur. Candi Mendut terletak strategis, persis di tepi jalan besar. Semua yang menuju candi Borobudur dari arah Jogja, pasti melintasi Candi Mendut.

Candi Mendut berukuran jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan Candi Borobudur. Secara bentuk, candi ini termasuk dalam candi Budha. Menurut prasasti Karang Tengah, diperkirakan candi ini dibangun oleh Raja Indra dari dinasti Syailendra pada 824 M, yang artinya lebih tua dibanding Candi Borobudur.

Pengunjung dapat memasuki area utama, sebuah ruang yang menjadi pusat candi Mendut, melalui pintu masuk yang ada di sebelah Barat.

Ruang utama Candi Mendut lumayan luas. Dinding candi yang terbuat dari batu andesit memberi sensasi dingin yang menyenangkan, setelah saya berpanas-panas di atas sadel motor Pak Joko.

Saya sangat betah berlama-lama ngadem di dalam Candi Mendut. Ngobrol bersama pak satpam Candi Mendut yang sungguh sangat well info tentang cerita-cerita yang ada di relief. Juga tentang 3 patung Budha yang ada di ruangan inti candi.

“Patung yang di tengah, yang menghadap ke pintu atau arah barat adalah patung Budha Sakyamuni, yang kanan Bodhisatva Avalokiteswara dan yang kiri adalah Maitreya”, jelas Pak Satpam Candi Mendut. Tampaknya beliau sangat menguasai medan.

Patung Budha Sakyamuni adalah pencerminan Budha saat sedang berkhotbah yang digambarkan dengan tangan seperti memberi nasihat. Patung Bodhisatva adalah ‘patung Budha dalam posisi santai’ dimana kaki kiri dilipat dan kaki kanan menjuntai dan menginjak bunga teratai. Sedangkan Maitreya menggambarkan posisi Budha sedang duduk dengan sikap tangan simhakarnamudra dengan jari-jari tertutup.

Ahh, saya betah sekali di candi Mendut ini. Sembari neduh dalam candinya yang adem dan tenang, saya sungguh berterima kasih kepada Pak Satpam yang begitu murah hati menjawab rupa-rupa pertanyaan saya.

CANDI PAWON

Hanya sekitar 5 menit bermotor dari Candi Mendut, sampailah kami di Candi Pawon.

Menurut saya, Candi Pawon adalah salah satu candi dengan desain yang cantik. Terletak di tengah perkampungan penduduk, Candi Pawon tampak berdiri dengan anggun.

Menurut catatan yang ada di kawasan candi, nama Pawon berasal dari kata ‘awu’ yang berarti abu. Sangat mungkin, pada jamannya, Candi Pawon berfungsi sebagai tempat perabuan atau  menyimpan abu jenazah raja. Jika dirunut dari tahun dibangunnya Candi Pawon, abu jenazah yang mungkin disimpan di candi ini adalah abu jenazah Raja Indra dari dinasti Syailendra yang merupakan ayah dari Raja Samarattungga. Sebagai pengingat, Raja Samaratungga adalah raja yang mendirikan candi Borobudur. Jadi, Candi Pawon berusia lebih tua dari Candi Borobudur.

CANDI NGAWEN

Candi Ngawen terletak di desa Ngawen yang hijau oleh sawah dan perkebunan warga. Lokasinya yang tidak terletak di jalur utama, membuatnya sepi pengunjung. Tapi, hal ini tidak mengurangi kecantikan candi yang dibangun di abad 9 – 10 Masehi ini.

Candi Ngawen adalah candi yang unik karena dibangun oleh dua dinasti dengan latar belakang yang berbeda; dinasti Syailendra yang beragama Budha dan dinasti Rakaipikatan yang beragama Hindu.

Perpaduan 2 keyakinan ini memberi karakter yang berbeda pada Candi Ngawen dibanding candi-candi lainnya. Candi Ngawen berbentuk ramping seperti candi Hindu pada umumnya, tapi dibangun dengan stupa dan teras berundak yang sangat khas dijumpai pada candi-candi Budha.

Di komplek Candi Ngawen, terdapat 5 buah candi yang rata-rata dalam keadaan rusak hingga rusak parah. Hanya ada 1 candi, candi ke-empat ditilik dari arah pintu masuk, yang berdiri (nyaris) utuh dengan patung Budha tanpa kepala.

Ciri khas lain Candi Ngawen terletak pada empat patung singa  jantan yang terletak di 4 pojok masing-masing candi. Mungkin, patung Singa tersebut melambangkan sebagai penjaga.

CANDI SELOGRIYO

Awalnya saya tidak berniat ke Candi Selogriyo yang menurut Pak Joko, ‘candinya di atas bukit dan pemandangannya bagus’. Tapi Pak Satpam Candi Mendut akhirnya sukses mengompori saya dengan cerita ‘Tamunya Aman Jiwo rata-rata ke Selogriyo lho mbak!’ dan menegaskan dengan kalimat pembujuk ‘ga jauh kok, paling setengah jam juga nyampe’.

Akhirnya saya memutuskan untuk mengunjungi Selogriyo.

Jika setahun lalu saya mengalami naik motor paling challenging ketika menuju titik 0 di Sabang, maka rekor itu terpatahkan di Selogriyo.

Perjalanan menuju Selogriyo memang tak mudah. Saya menempuh waktu nyaris 1.5 jam (termasuk nyasar 2x) sebelum akhirnya sampai di desa Campursari, desa terakhir sebelum trakking menuju Candi Selogriyo. Dari arah Borobudur, Pak Joko mengambil arah jalan utama Magelang lalu berbelok menuju arah desa Blandongan. Dari desa Blandongan, jalanan naik turun bukit dengan sawah membentang luas di kanan dan kiri jalan sudah menghiasi perjalanan.

Berlokasi di lereng Gunung Sumbing, perjalanan menuju Selogriyo menyuguhkan pemandangan yang sangat cantik. Sawah terasiring yang sangat luas mengingatkan saya pada persawahan di Bali. Udara segar dengan kabut tipis-tipis menyelimuti bukit Giyanti, Condong dan Malang, menjadi kawan perjalanan yang asik. Jalan setapak selebar 1 m dengan tanjakan dan turunan yang curam membuat siapa saja harus berhati-hati. Apalagi, kadang kami harus berbagi dengan pedati bermuatan tebangan pohon berukuran besar atau warga dengan bawaan sekarung rumput yang menutupi jalanan.

Selogriyo, seperti halnya candi Hindu lainnya, terletak di ketinggian. Umat Hindu percaya candi di ketinggian akan membuat mereka semakin dekat dengan dewa-dewa di kahyangan. Merupakan peninggalan Wangsa Sanjaya, Selogiyo diperkirakan seumuran dengan candi-candi Hindu di pegunungan Dieng.

Sayangnya, saat saya datang, candi dikeliingi ‘police line’, membuat saya urung masuk ke area utama candi. Keberadaan ‘beberapa anak alay’ yang asik pacaran di tempat-tempat tersembunyipun harus menjadi perhatian para petugas candi. Jangan sampai kawasan candi yang berfungsi sebagai tempat peribadatan beralih fungsi jadi kawasan remang-remang.

terasiring di lereng Sumbing
terasiring di lereng Sumbing
Bodhisatva, Sakyamuni dan Maitreya
Bodhisatva, Sakyamuni dan Maitreya
Candi Pawon
Candi Pawon
dari sini...candinya masih...uhmm...lumayan jauh sik..;p;p
dari sini…candinya masih…uhmm…lumayan jauh sik..;p;p
bukit-bukit di lereng Sumbing
pemandangan menuju Selogriyo…bukit-bukit di lereng Sumbing
candi Selogriyo yang lagi diiket...:(
candi Selogriyo yang lagi diiket…:(
komplek candi Ngawen...foto2 candi Ngawen ga ada yang maksimal karena udah keburu loyo setelah turun dari Selogriyo.. *alasan
komplek candi Ngawen…foto2 candi Ngawen ga ada yang maksimal karena udah keburu loyo setelah turun dari Selogriyo.. *alasan
learn from other · makan di mana · me time · nonton apa? · personal

Mina Wakatobi: Mencicip kuliner otentik Wakatobi

Wakatobi, deretan pulau-pulau kece di Sulawesi Tenggara, sudah lama kondang karena alam bawah airnya yang aduhai. Tapi tidak banyak yang tahu bahwa Wakatobi juga punya banyak sajian kuliner yang khas. Saya salah satunya.

Walopun pernah mengunjungi Wakatobi, pengetahuan kuliner Wakatobi yang saya tahu hanya sebatas soami. Lainnya tidak.

Selama di Wakatobi, saya sudah cukup hepi jika pagi bertemu pisang goreng dan kopi lalu makan siang di pulau antah berantah dengan menu ikan bakar…dan makan malam pun berjumpa ikan (lagi). Itulah menu yang diulang selama 5 hari di Wakatobi.

Lalu ketika saya diajak untuk mengenal Wakatobi dengan cara lebih lezat, maka siapa yang berani menolak?

Dipandu Mbak Lisa Virgiano, saya dan beberapa pecinta ngemil-ngemil diajak untuk menikmati kelezatan Wakatobi sebagai menu berbuka dalam acara icip-icip ngabuburit berjudul Mina Wakatobi.

Ada beberapa jenis masakan yang super duper jenius, baik dari bahan-bahan yang digunakan maupun cara pengolahannya. Walaupun ada beberapa bahan yang disubstitusi karena alasan kelangkaan bahan di Jakarta, namun semua tidak mengurangi esensi acara ini. Semua senang, semua kenyang!

So, mari kita intip yang lezat-lezat dari dapur Wakatobi…

  1. Soami Pepe
toast cassava pancake with natural fish floss
kenyel-kenyel gimana gitu

Soami adalah satu-satunya makanan khas Wakatobi yang pernah saya makan. Penganan yang terbuat dari soami kikiri; singkong yang diparut – keringkan – ayak dan kukus – ini rasaya hambar-hambar gimana gitu. Saya menemukan soami berbentuk kerucut yang disebut soami togi, dalam jumlah massive di pasar rakyat Wanci.

Tapi, yang dihidangkan pada acara Mina Wakatobi bentuknya berbeda. Bukan kerucut melainkan pipih. Soami pepe, namanya. Pepe dalam bahasa Wakatobi berarti dipukul. Penampilan soami pepe ala Mina Wakatobi pun lebih cantik dibanding aslinya dengan taburan abon ikan dan potongan cabe merah sebagai aksesoris. Soami pepe-pun tampil cantik dan rasanya sungguh ciamik!

2. Jojolo

IMG-20150712-WA0005
lembut di mulut, nyaman di perut!

Sebagai pendamping soami, sebagai menu pembuka kami disuguhi Jojolo yang manis-manis lembut. Ini adalah semacam klapertaart dengan tingkat kemanisan yang lebih bersahabat. Terbuat dari jagung muda, daging kelapa muda, dan parutan kelapa tua dengan harum pandan, Jojolo sangatlah pas disajikan sebagai menu pembuka saat buka puasa. Lembut di mulut, aman di perut!

3. Kentakalla Ni Santai alias tuna masak santan

cara bikinnya ga sesantai namanya
cara bikinnya ga sesantai namanya

Menu selanjutnya yang kami cicipi adalah Kentakalla Ni Santai, semacam fillet ikan tuna masak santan. Saya tebak dalam kelezatan menu ini terkandung kunyit, kemiri, ketumbar, gula dan garam…selain santan yang cukup kental. Mungkin inilah satu-satunya menu Wakatobi yang kaya bumbu.

Kentakalla ni Santai punya rasa yang sangat unik. Saat menyerput kuah santannya…langsung terhirup rasa kecut yang menyeruak…yang ternyata berasal dari daun  kedondong. Wuihhh…daun kedondong benar-benar memberi signature taste yang djempolan.

4. Kosea Nu Lobha

segarnya nyandu
segarnya nyandu

Jika kentakalla ni santai sup berkuah santan yang pekat, maka kosea nu lobha adalah sup dengan kuah bening yang ringan.

Kosea Nu Lobha berisi daun melinjo, daun ubi dan daun katuk plus parutan kelapa dan ikan bakar suwir sebagai pemberi rasa gurih dengan bumbu bawang merah dan sejumput garam. Perpaduan bahan dan bumbu memberi rasa segar dan pengen nambah lagi (dan lagi)…;p

5. Tumis Kempa

Walopun namanya tumis, tapi cara memasaknya tidak menggunakan minyak goreng. Tumis kempa adalah kerang batik yang dimasak santan cair dengan menggunakan bumbu bawang merah, cabai merah dan tomat.

Kerang batik yang masih sangat segar memberi rasa manis gurih yang khas. Tumis kempa bisa dimakan dengan soami kikiri. Tapi pada acara Mina Wakatobi, tumis kempa disandingkan dengan soami ondo-ondo bhiru yang penampakannya mirip banget tiwul.

Sayangnya, saya tidak punya foto tumis kempa ini…yah, memang sulit untuk konsentrasi jika berada diantara kudapan-kupadan lejat. hih!

6. Seafood Sinole

ga punya foto hasil akhir seafood sinole...
ga punya foto hasil akhir seafood sinole…
mbak Lisa dengan sabar memasak sembari menjawab pertanyaan dari peserta Mina Wakatobi
mbak Lisa dengan sabar memasak sembari menjawab pertanyaan dari peserta Mina Wakatobi

Ahhhh…inilah menu yang bikin peserta Mina Wakatobi berbaris rapi dan setia menunggu. Mba Lisa Virgiano turun tangan memasak sendiri menu ini.

Seafood Sinole adalah semacam nasi goreng seafood-nya warga Wakatobi, dimana peran nasi digantikan granule singkong. Buat saya pemakaian granule singkong adalah pencapaian luar biasa bagi kecerdasan kuliner Indonesia. Betapa tidak, membuat granule singkong butuh extra effort. Singkong diparut lalu diperas hingga menjadi ampas kering lalu diayak. Hih..susah amat!

Memasaknya pun tanpa menggunakan minyak, hanya mengandalkan minyak yang keluar dari parutan kelapa. Selebihnya hanya mengandalkan bawang merah dan sejumput garam. Itu saja!

Sebagai penyempurna rasa, granule singkong diberi taburan ebi dan abon ikan, disamping irisan cumi dan kerang batik yang hadir dalam jumlah massive. Hasilnya? Wooowwwwwww!!!!

***********

Begitulah, Wakatobi tak melulu soal alam bawah lautnya saja tapi juga kekayaan kulinernya yang sangat layak untuk dijelajahi dan dilestarikan sebagai asset Indonesia yang luar biasa!

Note:
• Thanks to Andi Fachri yang mengajak saya ikut di acara ajib ini sebagai bagian dari menu ngabuburit Ramadhan 2015.

Acara Mina Wakatobi digagas oleh Azanaya, event promotor yang aktif menyelenggarakan event-event culinary/gastronomy. Salah satunya adalah Underground Secret Dining. Lebih jauh tentang Azanaya, baca di sini

me time

Cerita dari secangkir kopi

a cup of love

 

aha!
aha!

Malam minggu kemarin, saya mencuri waktu untuk sendiri, setelah melalui satu minggu yang hiruk pikuk. Saya nonton film Filosofi Kopi yang sedang jadi talk of the town saat ini.

Sendiri, saya ngantri tiket, lalu membeli bekal nonton yang habis saya makan sebelum masuk ke studio 3 XXI Penvil. Buru-buru saya makan tahu isi daging yang harganya warbyasak itu. Rp 20 ribu gitu loh. Harus cepat dimakan sebelum value si tahu turun karena saya kzl amat waktu mengulurkan uang saat membayarnya.

Me time nonton Filosofi Kopi. Saya berusaha menjadi penonton yang woles. Menikmati scene demi scene tanpa protes berlebih. Tidak nyinyir saat Joko Anwar yang seperti kurang hapal dialog, lalu kurang konsisten menyebut dirinya ‘saya’ dan ‘aku’, atau mengapa Jajang C Noor seperti kosong saja di film itu, tanpa jiwa. Ndak, saya ndak akan protes berlebih. Saya paham bener, bikin film itu susah.

Saya juga tak akan berusaha membandingkan film dan bukunya. Over all, film nya baik-baik saja kok. Bagus!

Selama 2 jam nonton Filosofi Kopi, saya menikmati betul adegan-adegan dimana kopi jadi bintang utamanya. Menikmati saat air panas dikucurkan dan uap naik mengudara. Saat aromanya menguar dan dihirup perlahan. Bahasa visual yang cantik. Seolah saya bisa membaui aroma kopi yang ada di layar besar. Secangkir kopi memang mengandung magic. Ajaib gitu efeknya!

Saya ingat, ibu sering menceritakan kisah perkenalan saya dengan kopi. Entah sudah berapa puluh kali ibu menceritakannya. Berulang-ulang, dengan intensitas ke-excited-an yang sama.

‘Dulu, waktu kamu lahir, nangis kenceng…langsung cep mingkem pas bapak suapin sesendok kopi anget. Bapak diomelin dokter, tapi ya mau gimana, buktinya kamu diem keenakan. Jadi, minuman pertama mu bukan ASI. Tapi kopinya bapak!’, begitu cerita ibu.

Di rumah kami, kopi dan teh bersanding sama kuat. Sebagai yang berdarah Aceh dan besar di Sulawesi, Bapak begitu akrab dengan kopi. Dan ibu yang Jawa asli, nyaris tak pernah melewatkan pagi tanpa segelas teh tubruk nasgitel.

Pada jamannya, saya adalah gadis kepercayaan bapak dalam membuat secangkir kopi. Pagi hari selepas subuh, kopi panas sudah terhidang berteman ketan atau jajanan pasar lainnya. Kopi yang sama segera terseduh saat motor tua bapak terdengar masuk halaman, tanda pulang dari kantor. Pun sore setelah bapak bangun dari tidur siang. Lalu muncul lagi saat bapak bekerja malam hari. Itu belum termasuk jika bapak sedang berlatih keroncong  atau sekedar ngobrol bersama teman-temannya. Pendeknya, minum kopi seharian.

Kopi bapak tentu saja kopi kampung. Ibu beli di pasar dalam bentuk kopi giling kasar kiloan. Terkadang, bila tak malas, ibu menggoreng biji kopi di rumah, lalu menumbuknya sendiri. Aromanya menguar seantero rumah. Harum kopi yang aduhai.

Saat itu saya belum tahu bahwa kopi ada bermacam jenis dengan style penyajiannya yang beragam. Saya hanya kenal kopi tubruk. Kental dan menyisakan ampas yang banyak.

Kami sekeluarga pernah kaget berjamaah, saat kakak sulung bercerita bahwa ia minum kopi seharga Rp 25 ribu. Kakak sulung memang sedang berada di Jakarta pada saat itu bersama beberapa sepupu. Kami kaget, kok ada kopi semahal itu. Lalu ibu sempat membayangkan berapa yang harus bapak bayar untuk bercangkir-cangkir kopi yang ia minum setiap hari. Ckckckckckkck!

Kebiasaan ngopi bersama bapak, luntur ketika saya keluar dari rumah. Makin luntur saat bapak berpulang. Aroma kopi semakin jarang tercium di rumah ibu. Aroma kopi tergantikan oleh teh nasgitel yang entah kenapa, saya kurang suka. Walopun begitu, saya rajin menemani ibu menghabiskan teh paginya sambil nonton pengajian di tivi, saat saya sedang pulang kampung.

Lalu bertahun-tahun kemudian, saya kembali akrab dengan kopi. Kali ini diiringi oleh pengetahuan tentang kopi yang makin luas. Saya mulai paham jenisnya, dan membedakan rasanya. Sayangnya, sekarang saya tak lagi rajin membuatnya. Entahlah saya malas betul membuat secangkir kopi. Saya memercayakan kopi yang saya minum pada Ismanto, OB andalan atau si Cubi, partner saya di TBK.

Jika boleh jujur, Popon adalah orang yang sukses mengembalikan kopi dalam hidup saya. Bersama Popon, saya menikmati kopi di taman-taman kota atau menjadi teman saat kami ngobrol di meja makan. Sesekali kami ngopi di kedai kopi, tempat gaul di Jakarta. Tapi, yang lebih sering terjadi adalah Popon rajin membuat kopi dan saya rajin mengacungkan cangkir kosong, menghabiskan kopi buatannya.

Begitulah. Selama 2 jam nonton Filosofi Kopi, pikiran saya melayang-layang berhamburan. Saya inget saat saya mengaduk kopi untuk bapak. Ingat saat ibu masih rajin menggoreng kopi dan menumbuknya di rumah. Ingat saat terakhir piknik, Popon menuangkan kopi Papua yang subhanalloh..rasanya aneh sekali, dan Popon mengaku bahwa panci yang digunakan untuk merebus seduhan kopi adalah panci bekas merebus kunyit. Huekkkk…

Senyum saya hilang muncul selama 2 jam nonton Filosofi Kopi. Senyum dan garuk-garuk kepala karena si Chicko itu gantengnya masyaAlloh…senyum saat saya mengingat betapa secangkir kopi memang menyimpan kenangan-kenangan yang muncul seketika saat aroma kopi meraja.

Begitulah.

Setelah menyesap beragam jenis kopi, dari yang grade A sampai sachetan biasa, dari yang bikin deg-deg-an semalaman sampai yang ringan tak berbekas, pada akhirnya kopi hanyalah kopi. Seperti hidup yang tak pernah sempurna, kopi semata minuman hitam yang selalu menyisakan pahit. Jika ada yang bilang kopi itu manis, mungkin itu tergantung dengan siapa kita meminumya, lokasi kita minum kopi…dan mungkin sekali ada cinta yang terasa saat kita bersama secangkir kopi.

Ah…ngopi yuk!

note:
 photos taken  by Popon.

 

me time

Ngopi di Pasar Santa

Merayakan sebulan full di Jakarta, saya dan Popon menuntaskan hasrat ngupi-ngupi yang membara. *tsah. Setelah ngopi serius di Treeangelo, kami memilih berlabuh di Pasar Santa. Pasar? Santa?

He eh. Di dalam Pasar Santa memang ada kedai kopi yang sangat layak buat diicip. Minggu sore kemarin kami mampir di sebuah kedai kopi yang bernama…ABCD, A Bunch of Caffeine Dealers.

Pertama kali denger ABCD sih dari mas client yang jadi temen nongkrong. Lalu tanpa ba bi bu, gank AnakAsik membawa saya ke ABCD di satu wiken bulan lalu.

Perjumpaan pertama dengan ABCD memberi kesan ‘ini yang punya pasti kreatip banget. sakses bikin kopisop yang manis di tengah pasar gini’…kesan berikutnya adalah ‘hmm, ini duduknya dimana yak..penuh amat’..beneran deh, tempat duduk di lorong pasar memang sempit, apalagi untuk yang berbadan xxl macam saya *uhuk!

Nah, karena Popon teguh kukuh berlapis baja buat nyamperin ABCD, maka kamipun mampir di mari. Tak ada yang berubah. Masih ramai oleh anak-anak gahul, kopinya masih bayar suka-suka dan masih sumuk …:p

Kami hanya memesan secangkir cappuccino yang datang dengan hiasan foam berbentuk hati dan sekeping crackers. *eaaaaa…lope banget yak Pon! 

Menurut Popon, cappuccino nya biasa aja, kalo menurut saya sih enak. Nggak terlalu manis, pas buat saya yang sudah cukup manis. *iyadutiyaaa! Tapi, Popon cukup senang dengan ide bikin kopisop yang serius di tengah pasar. Membumi dan berhasil membuat orang-orang yang jarang ke pasar buat berlama-lama di pasar rakyat.

Selama di ABCD, kami beberapa kali berpindah tempat, sebelum akhirnya menemukan spot yang agak minggir dan tenang. Di spot itulah kami banyak berdiskusi. Tentang harga sewa kios, harga biji kopi, harga mesin grinder, cangkir-cangkir mungil dan berapa harga yang pas buat bayar barista dan waiters.

Boelahhh, Pon…kita serius amat sik!

note:
all photos taken by popon. iya, saya seneng jadi modelnya. ahak!

tuh..tuh ABCD yang pake dinding kayu
tuh..tuh ABCD yang pake dinding kayu…rame yaaaa..

nah kan duduknya rasul...rada sulit..:p
nah kan duduknya rasul…rada sulit..:p

barista yang ceria
barista yang ceria

pasar itu tempat bertemu yang asik
pasar itu tempat bertemu yang asik

suara mas-nya asik betul lho!
suara mas-nya asik betul lho!

a cup of love
a cup of love

iya, ini sok candid! :p
iya, ini sok candid! :p

udah, donk..jangan poto2 aku terus..*dikeplakPopon
udah, donk..jangan poto2 aku terus..*dikeplakPopon

nice try, gan!
nice try, gan!

tuh...baca tuh!
tuh…baca tuh!

sampai jumpa di pemberhentian berikutnya!
sampai jumpa di pemberhentian berikutnya!

me time · personal

Ngopi di Treeangelo

 

DSCF8373
silakan masuk!
DSCF8321
ayo dipilih..dipilih..dipilih

 

Jumat lalu, saya dan Popon bersepakat untuk duduk-duduk dan ngopi. Ya, kami memang sudah terlalu lama tidak melakukan ritual ini. Sejak Popon pindah dan dapur favorit kami lenyap, ngopi-ngopi memang cenderung jarang terjadi.

‘Aku mau ngopi yang serius’, begitu kata Popon yang terlihat sedikit manyun karena pilihan tempat ngopi nomer satu ternyata brisik sekali. Live music penyebabnya.

Kami pindah coffeeshop. Tanpa alasan jelas, kami masuk ke Treeangelo di bilangan Kemang.

Tak lama, seorang waiter datang dan memberi buku menu. Popon langsung memilih menu kopi dari list ‘manual brewing’. Hmm, saya yang berjanji akan jadi makmum yang baik, cukup menangguk dan mengiyakan.

Malam kemarin kami memilih menu yang dibuat dengan teknik ‘DRIP’ dan ‘SYPHONE’. Keduanya memakai kopi Lombok Robusta. Errr, kami berdua cukup asing dengan kopi jenis ini. Favorit kami berdua adalah kopi aceh dan sayangnya Treeangelo tak punya jenis ini.

Mas barista pun lincah melayani. Cekatan dia meletakkan peralatan perangnya.

Saya sedikit shock sebenernya. Abisan, bener-bener serius. Ada 2 tabung ala lab kimia nangkring di atas meja. Lalu ada banyak cangkir untuk saya dan Popon. Kami yang cuma berdua, dihadapkan dengan (sekitar) 8 cangkir. Woohhhhh…!

Emari kita bahas yaaa kopi yang dibikin dengan cara yang rada rempong itu…

1. DRIP

sotoy lah pokoknya
DSCF8348
duh lama bgt si, bikin secangkir kecil doank padahal yak!
DSCF8357
akhirnya jadi juga yaaa…
DSCF8362
sslllrrppp..enak yaaaa…IYA!

Kami tak asing dengan teknik ini. Beberapa kali kami mencobanya, walau dengan peralatan yang sederhana. Drip atau kopi tetes sebenernya memang biasa. Peminum kopi rata-rata pernah memesannya.

Di Treeangelo, satu porsi DRIP bisa untuk 3 cangkir dengan tingkatan yang berbeda: strong-medium-standar. Tetesan kopi pertama adalah kopi dengan kadar strong dan selanjutnya.

Dengan cekatan, barista menuang air mendidih ke kopi bubuk yang ditumbuk kasar, yang diletakkan di kertas saring. Air mendidih mengucur, dan tetesan-tetesan kopi masuk ke dalam cangkir. Bau harum sontak meruak!

Kopi hasil saringan pertama menjadi milik Popon. Saya memilih cangkir kopi dengan tingkatan medium. Tapi, tentu saja kami saling icip.

Kopi strong milik Popon, benar-benar strong. Rasanya menyengat, menyerang indera pencecap. Popon meminta sedikit susu untuk menurunkan kadarnya. Kopi medium milik saya terasa sangat mulus. Saya menyesapnya pelan. Rasanya pas sekali.

2. SYPHONE

DSCF8424
siap2 untuk syphone style
DSCF8430
nyala api jangan terlalu besar. bisa retak pantat tabungnya
DSCF8439
beuhhh…rempong amat bikinnya ya cyinn..
DSCF8392
tuang..tuang..cepattt…


Nah, teknik ini lain lagi ceritanya dan tentunya lebih heboh dari teknik pertama. Syphone sebenernya nama tabung pemanas air. Bentukannya sangat mirip dengan tabung-tabung yang kita jumpai di lab kimia.

Alatnya terdiri dari dua tabung (atas dan bawah), pipa yang mengalirkan air dari tabung bagian bawah ke atas, filter untuk menyaring ampas kopi, dan terakhir adalah pemanasnya itu sendiri.

Syphon bekerja dengan menggunakan teknik ***** (Popon menyebut sebuah istilah fisika dan tentusaja saya lupa) tentang tekanan yang dihasilkan oleh uap panas . Tekanan ini mengakibatkan aliran air naik ke atas melewati filter dan membasahi kopi. Air kopi akan ter-filter dan turun ke bawah ketika sumber panasnya dimatikan. Filter yang berada tepat di bagian tengah akan berfungsi sebagai penyaring ampas kopi.

Barista beberapa kali memadamkan api yang terlalu besar membakar pantat tabung pemanas. Api yang digunakan untuk memanaskan air, tak bisa terlalu besar karena bisa bikin tabung pecah. Nah, berbeda dengan DRIP yang mengenal skala strong, medium dan standar…hasil racikan Syphone menghasilkan seduhan yang sama rata sama rasa.

 

Begitu seduhan kopi mengucur ke cangkir, kami bergegas menyesap dan lalu sepakat dengan SATU KATA….ENAKKKKKKKK!!!

************

DSCF8360
sampai jumpa di acara nyeruput kopi selanjutnya….

Begitulah ngopi serius kami Jumat lalu. Terimakasih kepada mas bartender yang begitu sabar melayani kami (saya terutama) yang crewet nanya ini itu dan Popon yang setia mengcapture setiap momen selama kami ngupi dengan camera Fuji X100s, mainan barunya yang sungguh bisa diandalkan.

Walopun setelahnya, hati deg-deg-an dan mata melek maksimal…tapi bole donk kita cari tempat ngupi dengan teknik2 yang lain. Ya, Pon yaaaaa…..*kedip2

 

Note:

all photos taken by Popon.

 

me time · personal

tak lagi muda…

sabtu sore minggu lalu, saya dan dbrother duduk mengelilingi meja makan di ndalem gurnanto. kami ngobrol berteman bertusuk-tusuk sate ayam, sekeranjang rambutan dan 2 botol wine. membuat mulut kami tak henti bergerak.

seperti biasa, obrolan bersama dbrother adalah obrolan seputar rumah tangga dan nostalgia. tapi di sabtu sore itu, obrolan rumah tangga yang berkuasa.

obrolan yang serius tentang susahnya mencari sekolah anak.

sebagian besar anak-anak dbrother, keponakan-keponakan saya yang lucu-lucu itu…memang mulai masuk usia sekolah.

mba lila, keponakan yang cantiknya juara, sudah akan masuk sd. anak-anak lainnya beragam. beberapa akan masuk tk dan ada pula yang masuk masa playgroup.

dbrother saling menukar info. papoth melempar info bahwa harga uang masuk sd x di bilangan jagakarsa mencapai harga Rp 30 juta. gondrong, yang anaknya akan masuk playgroup langsung menambahkan 20% untuk 2 tahun ke depan. walahhhh…muahalee rekkkk!

tentu saja biaya masuk sekolah yang mahal tidak datang sendirian. dia datang bersamaan dengan iuran bulanan yang mencapai Rp 2jtaan, belom lagi biaya mobil jemputan yang ga kenal harga turun. untuk nimas, keponakan saya lainnya, bahkan tidak diikutkan mobil jemputan…bapak ibunya menggunakan langganan ojek dengan harga Rp 250rb/bln.

tiba-tiba, mba lila mendekat dan nempok di pangkuan saya. keponakan yang saya yakin akan jadi idola sekolahan ini lalu bercerita pengalamannya ikut test masuk sd.

‘tadi ditest bacaan al-fatihah sama al-ikhlas’, kata mba lila, yang lalu dilanjutkan dengan ‘aku juga ditanya soal tambah-tambahan dan kurang-kurangan’.

saya langsung menjawab..’duh, susah amattt, jaman budhe dulu ga pake test-test-an’. menurut saya, test masuk sd memang makin ga masuk akal. mosok ya ditest bacaan, itung-itungan…lah nanti gurunya ngapain donk…*sewot

obrolan tentang mencekiknya biaya sekolah anak, biaya kesehatan, dan biaya ini itu lainnya sungguh membuat malam minggu terasa cepat berlalu.

setelah obrolan biaya sekolah yang ‘serius banget’ itu, kami terdiam. hingga terdengar celetukan pelan yang menghujam…

‘ealahhh, dhewe ki wis tuwa tenan yoo…’ kalimat pelan itupun disambut dengan tawa kami yang berderai-derai.

nasibbbb…nasibbb!

saya dan dbrother. toss untuk hari-hari masa dewasa!
saya dan dbrother. toss untuk hari-hari masa dewasa!
me time

(bukan) lari dari masalah

Senin kemarin saya membuka hari dengan cara yang cukup spesial. Saya mengajak Dul untuk sarapan bareng. Mungkin, Dul sedikit surprise dengan ajakan ini.

‘Kamu masuk jam 9 kan..’, begitu balasan yang saya terima di layar hp.

‘I can make it at 11’, jawab saya.

Iya. Senin kemarin saya malas banget pergi kerja. Dari Jumat hingga wikend hidup seperti dihantui pekerjaan yang bikin deg-deg-an. Saya tahu pasti, Senin akan jadi hari yang heboh. Rusuh. Saya beneran males membuka minggu ini dengan yang sesuatu yang nggak  enak. Dan saya ingin sejenak melipir, stealing time, untuk menyiapkan hati, otak dan semuanya untuk menghadapi hari Senin yg sudah hampir pasti rusuh.

Saya dan Dul kemudian mampir ke Antipodean, sebuah cafe mungil di komplek Hero, Kemang. Tujuan awal kami adalah berburu egg benedict, menu sarapan favoritnya.

Antipodean sangat ramai. Sesuatu yang nggak saya duga sebenernya. Awalnya saya berharap, saya bisa ‘diam’ sejenak dan jauh dari kebisingan sembari sarapan. Hmm, tapi, demi melihat Antipodean yang full house, saya hanya bisa menghela napas, sambil berusaha menjaga muka saya tak tampak bete. Saya tak mau merusak selera makan Dul.

Saya tak hendak menceritakan apa yang kami makan dan bagaimana rasanya. Tidak. Saya hanya ingin bilang, bahwa stealing time adalah cara yang cukup ampuh untuk menyelamatkan hari yang tersisa.

Sepanjang makan, saya dan Dul ngobrol tanpa arah. Disela-sela obrolan kami, bahkan saya sempat diam mengenang bapak. Rindu bapak selalu datang tiba-tiba dan selalu ampuh membuat hati saya tiba-tiba ringsek tanpa komando. Untung, saya nggak mewek…kalo ini terjadi, mungkin Dul akan meledek saya habis-habisan.

Saya juga sempat berpikir, jika bapak masih ada dan saya sedang dirundung masalah, pasti bapak adalah tujuan pertama yang saya datangi untuk stealing time. Saya akan sibuk ngomel menceritakan apa-apa yang membuat saya kesal sampai puas. Dan bapak akan tetap setia pada koran di tangannya. Matanya tak akan beranjak dari koran, tapi saya tahu, kuping dan hatinya selalu ada untuk saya. Kemungkinan besar, bapak akan diam dan hanya tersenyum. Biasaya bapak akan mencium kening dan ngusrek rambut saya. 2 hal itu saja dan entah mengapa, selalu ampuh menghilangkan beban yang bikin sesak dada.

Saya tak bisa mengembalikan waktu. Saya pun tak bisa ngarep adegan cium kening dan ngusrek rambut berulang. Tapi saya selalu bisa stealing time untuk pergi sejenak dari keseharian. Bukan untuk lari dari masalah, tapi memberi ruang untuk berpikir lebih jernih dan menyiapkan mental jika sesuatu yang buruk benar-benar terjadi.

Tiba-tiba sampailah pada jam 10.30.

‘Sebentar lagi jam 11. Jam-nya kamu harus sudah ada di kantor’, kata Dul mengingatkan saya untuk berkemas.

Saya tahu, hari ini akan rusuh. Tapi setidaknya, dengan perut kenyang dan otak yang enteng, saya lebih siap menghadapinya.

-91213-

me time · oleh-oleh jalan-jalan

1 piknik, dua taman, banyak cemilan

Ini adalah piknik keluarga bantal. Iya. Saya dan Popon, bertemu di Minggu pagi dengan muka bantal, lengkap dengan mata bengkak, perut lapar dan segepok gosipan yang ga sabar untuk disebar.

Minggu kemarin kami berencana piknik di taman langganan, Taman Surapati di kawasan Menteng. Sedari pagi, Popon yang bangun lebih pagi, sudah datang dan mencari pohon besar idola kami. Kami senang duduk-duduk dibawahnya. Adem. Foto yang mengabarkan Popon berhasil ‘merebut’ spot favorit membuat saya lega. Tapi setelah saya tiba di spot tersebut, saya dibuat heran, karena Popon sedang sibuk memasukkan alas duduk ke dalam tas ranselnya. Whatttt…

Ternyata eh ternyata Popon diusir dari spot favorit. Setelah kami kasak-kusuk, ada jam-jam tertentu dimana pengunjung Taman Surapati tidak diperbolehkan menggelar bekal dan duduk-duduk di rumput karena penyemprot air otomatis bekerja untuk menyiram rumput dan tanaman. Iya deh iyaaa…

Karena kami penganut ‘piknik duduk di rumput’, maka kami mencari taman lain di seputaran Menteng. Popon membawa saya ke Taman Situ Lembang. Jaraknya ga jauh dari Taman Surapati. Hmm..paling 200m.

Taman Situ Lembang jauh lebih kecil dibanding Taman Surapati. Di tengah taman ada danau kecil yang sering disebut situ. Situ Lembang, sini? Isshhh…krikkk

Ini kali ke-dua saya mampir di Situ Lembang. Duluuu, saya sempat main di sini bareng kakak pertama dan kakak kedua. Duluuu, Situ Lembang masih sepi dan kurang terawat. Sekarang sudah jauh berbeda. Pak Jokowi dan Pak Ahok nyatanya berhasil mendandani taman kota di seputaran Jakarta. Taman Situ Lembang sekarang tampak cantik. Rumputnya lebih hijau, jogging track nya rapi, ada ayunan yang tampil manis…dan sebuah sepeda pemungut sampah yang rajin berkeliling seputaran taman. TOP!

Pagi kemarin saya dan Popon berhasil menduduki satu pohon yang cukup rindang. Cukuplah untuk kami berdua duduk adem dan cukup juga untuk CHERO, sepeda jepun yang baru dibeli Popon, bersandar dengan anggun.

Seperti biasa, piknik kami dipenuhi dengan cemilan dan gosipan. Popon banyak mendongeng tentang Jepang dan si Chero, sepeda barunya, seminar dan ini dan itu…Sayapun mengupdate gosip arteis terkini; tentang Ayu ting-ting sampai mertua dian sastro yang kalo marah serem…Kami pun sepakat bahwa di bawah Pak Jokowi dan Pak Ahok, taman-taman di Jakarta makin enak disambangi….horreeeeeee….

Minggu kami makin lengkap dengan beragam cemilan bekal piknik. Saya masih ingat, Popon membawa siomay, pastel, coklat sampai bacang isi daging dan saya melengkapinya dengan anggur segar. Menu yang lengkap untuk pagi yang cerah. Piknik kami pun makin sempurna ketika mampir di Taman Surapati, kami mendapati sekelompok anak band sedang menyanyikan lagu woles…‘I’m easy like Sunday morning….’

Sampai jumpa di piknik keluarga bantal berikutnya. Salam manis dari Samsul dan Popon.

Taman Situ Lembang
Taman Situ Lembang
sepeda kuning itu sepeda pengangkut sampah. rajin berkeliling menjaga kebersihan taman.
sepeda kuning itu sepeda pengangkut sampah. rajin berkeliling menjaga kebersihan taman.
aturan piknik di taman surapati
aturan piknik di taman surapati
band di taman surapati...i'm easy like sunday morning
band di taman surapati…i’m easy like sunday morning
Pon, lg ngapain sih?
Pon, lg ngapain sih?
camilan anti lapar
camilan anti lapar
salam dari keluarga muka bantal..samsul dan popon!
salam dari keluarga muka bantal..samsul dan popon!