learn from other · my thought · personal · Uncategorized

reviewing my life

kemarin saya dihadapkan oleh kejadian yang membuat saya merasa insecure. saya mengingat banyak hal; tentang karir, keluarga, hubungan yang ga pernah jelas arah mata anginnya, pertemanan. semua.

setelah me-review 10 tahun perjalanan terakhir, berujung pada banyak sekali ketidakpuasan dan pertanyaan yang tak bisa saya jawab. bukan karena tidak tahu jawabnya, tapi saya benar-benar takut pada kenyataan hidup bahwa selama ini saya memang agak salah jalan. saya tahu saya salah jalan, tapi saya diam dan hanyut makin dalam. i hate myself for being so damn stupid, stubborn and atulah…ngepet!

hari ini saya ada di titik di mana saya harus mengambil sebuah keputusan besar. dimana keputusan yang saya ambil memberi dampak pada kehidupan saya seluruhnya. saya merasa lemah, lalu merasa butuh pertolongan. ketika orang-orang yang anggap bisa menolong ternyata tidak sesuai harapan, saya jadi gemas-gemas beringas. itu baru satu hal.

di saat genting seperti ini, saya ingin sekali fokus bekerja, tidak mendengar kabar sumir, tidak melihat hal-hal yang tidak ingin saya lihat. ketika inipun gagal…saya bertambah emosi. yawlaaaa…saya beneran kesel sampai ke ubun-ubun.

lalu hari ini saya ngobrol banyak dengan sahabat saya. dimana kami saling nyampah, bercerita apa saja.

saya bercerita tentang kegamangan yang sedang saya alami. diapun mengeluarkan semua keruwetan hidup yang sedang dijalani. mendengar dia bercerita, saya nangis. saya merasa Tuhan menjawab semua pertanyaan yang tak bisa dan tak berani saya jawab sendiri. sekali lagi, God is always Great! Tuhan menjawab semua kegamangan  lewat sahabat saya.

sepanjang kami ngobrol, sahabat saya terus-terusan ngingetin bahwa kami memang terlahir sebagai pejuang yang teruji di medan laga. sahabat saya ‘membesarkan hati’ bahwa saya pasti bisa melewati ini semua. pasti bisa karena saya sudah teruji di medan-medan pelik di hari-hari kemarin. tak perlu memikirkan yang tak penting. prioritaskan apa dan siapa saja yang memrioritaskan kita. bahwa berbuat bodoh adalah manusiawi…terima saja and take a good learnt from our lesson.

betapa Tuhan memang maha pembuat skenario. jika kemarin Ia membuat saya bertanya dan mempertanyakan banyak hal, hari ini Ia memberi saya jawaban. Clear and bold!

so, keep on fighting..dear me!

 

Advertisements
my thought · personal

jangan (cepat) menyerah

malam ini saya menghabiskan 2 cangkir kopi pahit demi membahas hal-hal yang pahit dalam hidup. *duh

baiklah.

diumur yang menjelang 40 *bookkk…, kisah hidup terasa semakin lucu.

tetangga kanan kiri sudah bersarang dan membangun hidup baru. banyak cerita bahagia menguar. tak sedikit juga cerita sedih terdengar.

si A baru saja memutuskan mengadopsi anak setelah gagal program bayi tabung. si B memutuskan pisah rumah karena jika bersama, hidup dua hati akan makin susah. si C sedang iri melihat teman-temannya yang tampak bahagia dan dia tidak. si D sedang berkeras hati untuk berpisah.

ah, hidup.

dalam sepenggal waktu minum kopi malam ini, saya sempat menggumam, ‘mengapa orang terlalu cepat menyerah, padahal untuk bersama butuh usaha, untuk bersatu rasanya harus menaklukkan jalan berliku’.

duh, saya terjebak jadi tukang tuduh! 😦

siapa tahu mereka yang kini sedang ingin berpisah sudah melalui keluh resah gundah yang tak sudah-sudah. siapa tahu mereka yang kini sedang ingin sendiri sudah melewati hari hiruk pikuk yang melelahkan, hingga mereka begitu rindu pada sunyi sepi. mereka rindu (untuk) sendiri.

*********

paham bahwa hidup bisa demikian rapuh, saya ingin mengingatkan diri sendiri, untuk tidak (mudah) menyerah dengan apapun yang membuat hati (saya) gundah. untuk tidak mudah menyerah walau rasanya ingin. walau suara-suara ajaib seringkali berkata ‘sudah!’

 

jika rasanya duniamu akan runtuh, semoga Tuhan hadir dalam ingatan-ingatan saat duniamu terasa biru. semoga Tuhan hadir dalam tarikan nafas yang membawa harapan.

jika rasanya kau tersudut di jalan yang buntu, jangan ragu untuk berbalik arah. saya yakin saat kau berjalan, ada Tuhan di sana. ada Semesta yang mendukung. ya, Semesta selalu mendukung…kalau Ia (kadang) terasa menikung…Ia hanya ingin menguji sebentar. selalu ingat, susahmu datang diapit dua kemudahan. jadi, jangan terlalu kalut dan larut.

saya tahu dan paham benar, ada kala hati terasa berat. rasanya, bernapaspun satu-satu. jika kau sedang merasa begitu, pejamkan matamu dan berusahalah untuk tenang. aturlah napas, karena ada Tuhanmu di situ. di udara yang kau hirup dan memenuhi rongga dadamu.

***************

ingat, jangan (mudah) menyerah. karana kita (aku dan kamu) ditakdirkan untuk berjuang. berusaha sebaik kita bisa. dan yakinlah kita (memang) bisa (pada akhirnya).

***************

learn from other · my thought · personal

memeluk kehilangan

Semalam, sepulang dari meeting panjang di salah satu mall paporit ibukota, saya terlibat dalam obrolan ngalor-ngidul tapi kok ya ternyata dalam.

Seorang kawan yang usianya jauh lebih senior, bercerita pengalamannya berpuluh tahun lalu ketika anaknya terpuruk dalam sakit yang serius. Anak bungsu yang masih 7 bulan tersiram air panas, menimbulkan luka yang membahayakan nyawanya. Segala macam upaya sudah dilakukan, namun tak kunjung membawa perubahan.

‘Saya marah sama Tuhan, saya kalut. Saya bilang sama Tuhan..kalo anak saya mati, saya juga mati’, begitu kata kawan saya. Dengan jiwa hampa, Tuhan mempertemukannya dengan Romo yang mengajaknya untuk berserah. Pasrah. Kisah ini (syukurnya), berakhir bahagia.

Saya juga teringat, dalam beberapa fase hidup, saya pernah dipertemukan dengan kejadian-kejadian yang bikin hati nyeri bukan kepalang. Saat seorang client kesayangan meninggal dan 8 hari kemudian putra 8 th nya pun menyusul. Saat satu keluarga client (client saya, suami, dua anak dan pembantu) meninggal dalam keadaan rumah yang terbakar hebat. Saat sahabat saya mengalami keguguran. Lalu, pada saat saya (akhirnya) jadi yatim piatu.

Betapa hidup kita sangat rentan dengan kehilangan. Betapa kita sebenarnya tidak memiliki apa-apa. Kita terlahir sendiri, pun nanti pada saatnya berpulang.

Ada berapa banyak rasa sakit yang timbul dari kehilangan?

Saya mencoba hitung. Saat saya kehilangan Bapak, saya pikir rasa sedih akan hilang seiring waktu. Tapi hingga kini, sudah nyaris 16 tahun Bapak berpulang, rasa sakit itu masih sama. Jangan tanya pula apa rasanya ketika Ibu pergi. Saya yakin, untuk beberapa hal, istilah ‘time heals all wounds’ seperti tak ada artinya.

Kita hidup dan tumbuh dewasa dalam pelukan kehilangan. Dari mengalami kehilangan kita belajar rasa sakit, penyesalan, marah. Tapi dari kehilangan pula, Tuhan memberi pelajaran tentang menghargai apa-apa saja yang kita miliki lalu kemudian bersyukur untuk apa-apa saja yang selalu ada, yang memilih untuk tinggal dalam hidup kita, yang setia bersama menemani kita saat melintas jalanan berbatu, di saat angin kencang dan badai menerpa.

Saya memeluk kehilangan. Menghargainya. Mencintainya. Karena itulah hakikat hidup sesungguhnya.

 

 

 

 

 

my thought · personal

Masa Pensiun

Beberapa waktu lalu saat saya sedang bekerja di salah satu event di Surabaya, saya berkenalan dengan seorang agen asuransi. Orangnya ramah dan agresif, seperti agen asuransi pada umumnya. Saya meladeni saat beliau menanyakan ‘kapan saya berkeinginan pensiun?’ .

Tak seperti agen-agen yang cenderung agresif jualan, teman baru saya mengajak diskusi. Menghitung berapa yang harus saya persiapkan agar saya tetap bisa hidup dengan normal, tak berkurang kualitas hidup yang dijalani. Itung-itungan teman baru saya menghasilkan angka Rp 9,2M saja, angka yang harus saya miliki untuk hidup layak dengan rentang waktu 30 th menjalani masa pensiun.

Lalu tadi pagi, entah dapat wangsit dari mana, Agan melayangkan bahan diskusi hari ini dengan tema ‘pensiun’. Duhhhh, Agan ini lhooo…umur kita kan baru 27, kok udah mikir pensiun sihhh…*dikeplakAgan

Pensiun.

Awalnya saya berpikir, masa pensiun adalah masa bersenang-senang. Masa menikmati hasil kerja keras kita selama menjalani masa produktif. Tapi, itu adalah pemikiran saya di jaman baheula. Sekarang sih sepertinya sudah jauh dari ide masa pensiun adalah masa bersenang-senang.

Agan tadi bilang, masa pensiun adalah masa…melakukan yang belom sempat dilakukan saat masa produktif. Misal traveling. Buat sebagian orang, mungkin bisa jadi demikian. Tapi buat saya? Buat Agan? Mungkin tidak. Saya merasa, sekarangpun saya masih punya waktu untuk sekedar menengok saudara di pulau sebelah. Walaupun ga sering, saya masih punya waktu untuk camping di hutan pinus atau main air di pantai. Agan apalagi…dia sih udah masuk kategori over dosis!

Hmm..wait..wait…

Sebelumnya, mari kita samakan persepsi.

Di kepala saya, pensiun itu saat kita berhenti bekerja buat orang lain. Jadi ingat, batasannya ‘bukan berhenti bekerja’. Saya paham banget saya adalah orang yang suka begini begitu. Ngurusin ini dan itu. Jadi, mustahil kalo di masa pensiun saya akan asik leyeh-leyeh.

Jadi begini…

(mungkin) saya akan pensiun saat saya punya anak. aamiin donk…iya, punya anak itu butuh komitmen super duper tinggi sekali. jadi, sepertinya ga mungkin lah ya begadang ngejer deadline atau marathon meeting seharian. ohh bisa dislepet sama Gusti Alloh kali yaaa….

Lalu, kalopun anak pun tiada *hiks…saya tetep akan pensiun. Mungkin di usia 45. Trus ngapain kalo udah ga jadi manusia kantoran?

(mungkin banget) saya akan meneruskan hobby lama untuk ngebantuin pesta pernikahan seseorang. saya senang beli-beli bunga, ketemu dan dealing dengan orang-orang catering, tukang tenda, orang gedung, nyusun budget. saat itu, mungkin make up artist saya, si MUA Martina Lova sudah lebih punya daya untuk bersaing dengan MUA-MUA lain di ibu kota. kami bisa bikin paket pernikahan yang affordable yet memorable.

(mungkin banget) saya ada diantara anak-anak kecil yang brisik nyanyi dan lari-larian. saya pengen punya taman bermain. jadi anak-anak yang jadi murid di taman bermain saya…akan sibuk dengan nyanyi, menari, bermain dan mendengar dongeng. sesekali mereka akan saya bawa piknik ke pasar basah supaya mereka paham bedanya kunyit dan lengkuas.

(mungkin banget) saya sibuk melayani tamu yang datang menginap di homestay. oiya, saya pengen juga punya homestay kecil tapi asik. Murah tapi ga murahan.

(mungkin banget) saya akan melayani tamu-tamu yang datang ke warung makan atau kedai ‘bu konjen’. ingat…gini-gini saya kan chef parah queen! Saya juga akan rajin mengundang teman-teman saya untuk sekedar minum kopi sebulan sekali. atau mengundi arisan oh my gold, seperti kebiasaan saat ini.

bagaimana dengan berkebun? duhhh, saya sadar tangan saya kurang diberkahi dengan kemampuan berkebun. dalam hal ini, saya harus angkat topi pada Agan yang begitu telaten merawat kebun belakang rumahnya. Dia benar-benar all out dalam hal ini!

bagaimana dengan beternak? inipun bukan bidang saya. ingat akuarium dan penghuninya yang merana? saya benar-benar loser. bidang inipun, Agan jauhhhh lebih piawai. Dia berbakat dalam bekebun dan beternak.

jadi gitu yaa…

masa pensiun bisa jadi masa keemasan. masa produktif, bukan saja saya melakukan hal-hal yang saya sukai tapi juga menghasilkan sesuatu yang dapat digunakan sebagai modal menikmati hidup.

bagaimana dengan Rp 9.2M? itu mah kita pikirkeun sambil piknik aja kali yaaaa…

*dear Agan, lunas yak!

 

learn from other · my thought · personal

life lesson

Ramadhan selalu saja jadi bulan penuh kesan. Lebih dari sekedar puasa dan ibadah lainnya, di bulan penuh berkah ini, saya selalu (merasa) punya waktu untuk ‘me time’.

Minggu lalu saya menghabiskan waktu berdua dengan sahabat saya. Diantara hingar bingar musik, kami ngobrol ini itu. Saya bercerita tentang ‘kepandaian mengolah kesedihan’ yang sudah ada di level advance. Sepanjang kami ngobrol, saya dan sahabat saya menarik kesimpulan bahwa kepandaian saya itu sangat berbahaya. Kepandaian mengolah rasa sangat mungkin menghasilkan manusia yang mati rasa. Yassalam…bahaya amattt..lalu kami berdua tertawa berderai-derai. *sigh

Lalu malam ini.

Saya melewatkan dengan ngobrol panjang lebar dengan seorang teman yang baru patah hati. Oh ya…umurnya baru 20-an. Dia yang masih muda jadi kurusan karenanya. Patah hati yang membawa berkah.

Saya mengenalnya sebagai wanita (belia) yang tangguh. Bukti bahwa umur tak berkorelasi lurus dengan kedewasaan. Dia jauh dari alay dan mengambil sikap untuk ‘say no to drama’ dalam hidupnya.

Datang dari keluarga kaya raya yang broken home tak membuatnya jadi rapuh. Dia sangat mandiri, cerdas dan memilih santai menghadapi ‘belaian angin pantai’…begitu dia memberi istilah pada cobaan-cobaan dalam hidup. Pendeknya….di usia belia dia sudah pandai mengolah kesedihan. *degh

Kembali saya teringat obrolan dengan sahabat saya yang mengawatirkan fase ‘mati rasa’ yang saya alami. Dia berpendapat, adalah berbahaya jika kita bebal menghadapi kesedihan. Menganggap terpaan-terpaan badai yang datang jadi hal yang biasa. Terlatih patah hati, begitu kata sebuah lagu.

Tapi apakah memang berbahaya ketika kita sudah biasa menghadapi hidup yang bergejolak?

Menghadapi -dia-yang-kau-sebut-partner-in-crime yang sungguhlah tak bisa dinyana arah mata anginnya – dan-kau-gagal-pergi-ber-kali-kali. YAK…BERKALI-KALI!

Menghadapi keinginan yang seringnya berujung jadi wacana

Bertemu dengan orang yang tak diharapkan tapi -harus-biasa-aja-like-nothing-happened….

Beradu kenyataan bahwa dunia oh sungguh bergerak melesat hingga sering telat sadar bahwa ada hal penting yang terlewat

Lalu –mereka-yang-disebut-sahabat-satu-persatu-hilang-melanjutkan-hidup...

Merasa lelah saat -kebodohan-orang-lain-tiba-tiba-jadi-masalahmu-dan-kau-tak-bisa-menghindar-dari-tanggung-jawab…

Lalu…apakah berbahaya jika kita merasa semua jadi biasa?

Benarkan merasa biasa aja sama dengan mati rasa?

Entahlah….

Saya cuma berpegang pada satu hal…

People can be broken, but what’s broken can be mended. So, be happy!

That’s all…

my thought · oleh-oleh jalan-jalan

Semua Ada Ilmunya

Dalam perjalanan pulang dari Banda Aceh beberapa waktu lalu, saya mendapat pelajaran hidup yang asik dan menarik dari obrolan 2,5 jam bersama seorang teman baru. Dia adalah lelaki muda yang duduk di sebelah saya selama di pesawat.

Saya membuka percakapan demi melihat buku yang ada di pangkuannya. Buku berjudul Immunology. Sebagai seorang yang dikaruniai bermacam alergi, saya merasa harus bertanya ini itu pada teman sebelah. Ya siapa tahu, dia adalah dokter dan saya bisa konsultasi gratis. *lah

Teman sebelah saya adalah pemuda Aceh asli. Beneran masih muda. Baru 28 th dan sedang menempuh pendidikan Phd nya di Inggris dengan spesialisasi (jika saya tak salah ingat) penyakit yang disebabkan oleh cacing.

Walaupun jurusan yang dia ambil tidak berhubungan dengan alergi yang saya alami, tapi saya sungguh terkesan dengan isi pembicaraan kami selama penerbangan.

Ada satu kata yang membuat saya diam cukup lama. Kata yang sering saya dengar tapi belum sempat saya maknai. Teman duduk saya bilang, ‘….semua ada ilmunya’. Saat itu, teman duduk saya sedang bercerita tentang keputusannya untuk tidak menjadi petani seperti ayah dan ibunya.

Teman saya menjelaskan tentang kondisi petani di Indonesia yang lebih banyak sedih dibanding gembiranya. Tentang hasil panen yang melimpah tapi tidak berbanding lurus dengan pendapatan, tentang lahan yang butuh banyak orang untuk mengerjakannya, tentang tengkulak, tentang impor beras dan dilema kehidupan petani lainnya. Sepanjang dia bercerita, saya sering mengernyitkan dahi lalu termenung. Miris.

Cerita sedih petani, menurut teman saya, bermuara pada ‘petani tidak diberdayakan dengan ilmu pengetahuan. padahal semua ada ilmunya.

Teman saya melanjutkan cerita bahwa petani-petani di Eropa, mengerjakan hektaran lahannya seorang diri. Tak perlu banyak tenaga manusia karena teknologinya sudah maju. Menyemai benih tak harus lelah menunduk-nunduk. Begitupun dalam menyebar pupu hingga memanen. Semua bisa dilakukan sendiri dengan bantuan teknologi. Iya, semua ada ilmunya.

Petani di Eropa banyak belajar tentang musim dan ilmu tentang karakter tanah. Jenis-jenis apa yang cocok untuk musim panas dan sebaliknya. Tanah jenis a lebih cocok untuk sayur dan buah, sedangkan jenis b cocok untuk padi atau lainnya. Lalu pengetahuan bagaimana mengembalikan kesuburan tanah. Pendeknya, semua ada ilmunya. Dengan ilmu yang mumpuni, manusia bisa hidup lebih baik.

Tentu saja hukum ‘semua ada ilmunya’ berlaku untuk segala hal dalam hidup. Ilmu bergaul dan berkomunikasi, ilmu dalam berbelanja, ilmu memasak..bahkan beragama pun ada ilmu. Ilmu yang membuat hidup dapat berjalan dengan lebih baik. Ilmu yang membuat kita jadi manusia yang lebih baik sebagai khilafah di dunia.

Baiklah, sebagai pengingat untuk diri sendiri…karena semua ada ilmunya, maka..jangan malas untuk belajar di mana saja, kapan saja dari siapa saja. Ambil ilmunya, ambil kebaikannya, lalu abaikan sisanya.

Selamat hari Jumat. Selamat menyambut Sabtu.

 

my thought · personal

Rejeki

dalam sebuah obrolan antar kota antar pulau, saya dan popon terlibat pembicaraan tentang arti kesuksesan. saat itu popon tidak menuntut saya menjawab langsung pertanyaan ‘apa sukses buatmu?’ yang dia lontarkan tepat ketika adzan maghrib berkumandang di Jakarta. dia bilang ‘jawabnya kalo udah sempet aja’.

pagi keesokan harinya, beberapa detik setelah bangun, saya teringat pertanyaan yang masih belum terjawab.

saya lalu mengirim pesan. saya menulis ‘sukses itu jika saya ga sering komplain, merasa cukup’.

ya, akhir-akhir ini, saya dan popon memang sering terlibat dalam pembicaraan yang serius. di umur kami yang sudah tidak muda *hiks…kami sering membahas…kapan ya enaknya kita putusin buat pensiun? kapan ya kita mulai hengkang dari jakarta? kapan ya kita bisa bangun pondasi rumah tepi pantai? duuhh, serius banget kannnnn…

belum lagi, popon yang sedang giat-giatnya mencari rumah dan bahkan dijadikan resolusi 2015, membuatnya harus berpikir ini dan itu, lebih dari biasanya. saya yang jauhhh lebih woles, tentu saja jadi ikutan mikir. jadi ikutan ngitung. jadi ikutan pusing. lha wong harga rumah sama harga diri ga beda jauh gitu lho, harganya…:(

pendeknya, hidup kami kian serius.

memang, jakarta dan segala macam problematika hidup *blah* sehari-hari dan tuntutan hidup yang semakin tinggi dan urusan-urusan dewasa lainnya, kerap bikin kepala migrain lalu tensi pun naik 10 angka…*astaghfirullah *nyebut

disaat-saat inilah saya jadi makin merenung.

apa sih sukses? apa sih bahagia? buat apa kita hidup? mau kemana kita setelah 5th, 10 th, 15th…apa ya selama itu kita masih hidup?

entahlah.

tiba-tiba, saya membaca postingan lelaki hidung besar, sahabat saya. saya membaca…

Hakikat rizqi bukanlah yang tertulis dalam angka; tapi apa yang dinikmatinya. Setiap langkah kaki adalah karunia, setiap tarikan nafas adalah nikmat.

JLEB! Hati saya ketusuk!

ya, untuk semua yang saya tidak (belum) tahu, atau saya tidak (belum) punya..saya tak perlu sampai kurus memikirkannya. karena apapun yang saya nikmati, dan alhamdulillah jumlahnya buanyakkk sekali, adalah REJEKI.

ini yang saya sering lupa. maklum, saya manusia biasa.

saya sering lupa, bahwa udara yang saya hidup tiap saat itu GRATIS. bahwa saya masih mampu makan (kadang lebih dari) 3x sehari. saya masih bisa cekikikan sama sahabat-sahabat saya. masih bisa blusukan di sini dan di sana. masih bisa becandain keponakan saya yang penakut. saya punya buanyakkkk keponakan yang lucu dan menghibur. saya masih tidur selimutan di kamar kos saya yang lapang. masih bisa kena ac di kantor. masih bisa hts-an, aku-kamu-an. masih punya banyak cerita yang bisa dibagi kapan saja. bisa baca buku yang buanyakkk jumlahnya. sepatu saya lebih dari satu. saya masih punya mimpi..karenanya saya masih hidup

ah, maafkan…saya memang kadang kurang bersyukur. sebenarnya, saya hanya harus terus berusaha sebaik-baiknya, urusan hasil..kita serahkan saja pada Ahlinya.

*ditulis dalam keadaan kenyang setelah makan chicken katsu don. alhamdulillah ya Alloh

 

my thought · personal

saya dan ingatan-ingatan tentang pesta demokrasi

Sebentar lagi kita nyoblos. Kita, rakyat Indonesia, akan secara LANGSUNG MILIH PRESIDEN untuk 5 tahun kedepan.

Setiap kali masa coblosan datang, tentu saja tak pernah tidak, kita mengalami masa kampanye. Dan tiap-tiap masa kampanye datang, ingatan saya tak pernah lepas dari bapak.

Semasa hidup, bapak saya berprofesi sebagai guru. Sudah menjadi rahasia umum, bahwa pada jamannya, guru dan pegawai negeri lainnya WAJIB memilih partai pohon beringin. Tiap-tiap masa kampanye datang, bapak saya termasuk yang diwajibkan ikut datang jika partai beringin berkampanye. Bapak selalu mengajak saya dan tentu saja ibu.

Bapak mengajak kami bukan tanpa alasan. Kami menjadi alasan agar bapak bisa cepet pulang dari acara tersebut. Bagi bapak, yang penting sudah setor muka. Saya masih ingat, bapak tidak pernah memakai kaus kuning dengan benar. Kaus kuning dipotong sebesar celemek, lalu bapak akan memakai baju safari andalannya. ‘Celemek kuning’ akan tampak sebagai kaos dalam. ‘Yang penting identitas kuning-nya keliatan’, begitu katanya

Lalu di rumah, bapak akan nggrundel. Di rumah, bapak akan sibuk mengeluh kesal mengapa ia harus mencoblos yang ia tidak suka. Mengapa harus dipaksa. Mengapa pak harto kok ngga turun-turun dari kursi presiden. Dan mengapa-mengapa lainnya. Lalu bapak akan mengulang cerita betapa heroiknya Bung Karno. Tentang orasi-orasi Bung Karno yang menggerakkan. Iya. MENGGERAKKAN. Tak sekedar menggetarkan, tapi MENGGERAKKAN. Bapak bercerita tentang pemimpin yang dicintai rakyatnya.

Dulu, Bapak yang rakyat biasa, pns biasa, merasa haknya diserobot. Haknya dicabut. Dia memendam geram. Tak berani bersuara. Saat itu, jika bersuara lantang, bisa fatal akibatnya. Setiap masa kampanye datang, bapak selalu resah. Dia sedih karena ia tak dapat menyuarakan pilihannya. Ia diam karena ada ketakutan jika ia bersuara. Ia cemas jika bersuara lalu ada apa-apa dengan keluarganya.

Saya tahu benar, Bapak adalah orang yang sangat mencintai Indonesia. Matanya selalu berbinar saat menjelaskan peta Indonesia, bercerita tentang danau-danau di Sulawesi. Bapak selalu bersemangat bercerita tentang perjuangan mbah Kung melawan Jepang. Bapak yang punya sahabat Om Maulete, yang asli Maluku, yang pernah bercerita betapa Pulau Seram itu jauhhhh dari seram. Bapak yang mengijinkan saya meminjam dan membaca injil Om Maulete. Bapak yang pernah bilang Indonesia indah karena keragamannya.

Mungkin ‘keterkekangan’ itu yang membuat bapak selalu bilang ‘kamu bebas memilih sejauh itu menurutmu benar, memilih yang lebih banyak manfaat dibanding mudharat dan kamu bertanggung jawab atas pilihanmu’. Bapak cuma bilang, hati nurani tak pernah bohong. Jika kau bingung, tanyakan hatimu. Bicaralah dengan hatimu.

Bertahun-tahun kemudian, pemilu menjadi pesta demokrasi yang sebenar-benarnya.Sayangnya, bapak tak pernah merasakan ‘menyuarakan pilihan’ yang sebenarnya. Bapak wafat tepat saat masa pensiun datang dan bukan dalam masa pemilu. Bapak tak sempat merasakan euforia memilih pemimpin yang ‘gue banget’.

Ingatan-ingatan tentang hak bersuara yang terampas membuat saya, kali ini, begitu bersemangat untuk turun tangan. Hari ini saya BEBAS BERSUARA. Saya PUNYA PILIHAN yang GUE BANGET. Saya punya pilihan yang MENGGERAKKAN…ngga sekedar menggetarkan.

Saya nggak mau masa-masa penuh ketakutan, kecemasan, keterkekangan datang lagi. Saya mau Indonesia yang beragam, bukan seragam. Saya mau saya dan sahabat-sahabat saya bebas beribadah, bebas memilih, bebas Saya mau Indonesia jadi negara yang asik, yang kewl…yang dicintai rakyatnya, yang dirindukan rakyatnya.  Jauh dari kekerasan, pemaksaan, perampasan hak.

Saya mau Indonesia yang masyur karena keindahan budaya, alam dan penduduknya…bukan masyur karena korupsi dan pemimpinnya yang bikin KZL!

Saya mau teman-teman juga bersuara. Sekarang kita BEBAS MEMILIH. Pergunakan hak kita. Apapun pilihanmu, siapapun yang nantinya memimpin…saya berdoa untuk Indonesia yang asik. Indonesia yang A S I K!

AYO SUARAKAN PILIHANMU!

-salam cinta dari pojokan bu konjen-

 

 

beda pilihan, nggak berarti musuhan
beda pilihan, nggak berarti musuhan

 

 

 

my thought · personal

dealing with life’s turbulence

Setuju kan ya, kalau hidup tidak pernah selalu baik-baik saja?

Semua orang, saya kamu mereka, pasti pernah merasa saat hidup terasa berat. Seperti, semua yang disekeliling kita berkonspirasi dengan begitu sempurna untuk membuat rasa nggak enak, membuat migren mendadak, mual, kesal…you named it!

Seperti sekarang-sekarang ini.

Saya sedang menjalani masa-masa turbulence. Angin kencang, kadang kilat menyambar lalu gempa bumi. Yah, semakin usia bertambah, persoalan hidup terasa makin challenging. Turbulence datang bahkan disaat saya merasa saya sudah melakukan yang baik-baik dan menurut perkiraan di atas kertas saya akan baik-baik saja.

Tapi itulah hidup.

Siapa yang dapat menerka arah angin? Siapa yang dapat menebak daun yang tiba-tiba  melayang, lalu jatuh tergilas truk sampah?

Tapi memang, kita tak pernah jadi lebih baik tanpa mencicipi masalah-masalah hidup. Kedewasaan, dan bahkan kecerdasan kita diuji saat hidup kita terterpa hujan badai dan angin putting beliung.

Saya sungguh beruntung punya lifeguard-lifeguard yang djempolan. Mereka (nyaris) selalu ada ketika saya ada di fase galau maksimal. Fase dimana saya nggak tahu musti ngapain.

Hari dimana saya ada di masa dont know what to do, saya dievakuasi Dul. Malam itu kami habiskan di warung mijawa yang rasanya ga enak banget di mulut saya. Dul dengan kesabaran ekstra berusaha menjadi kuping yang baik malam itu. Mulut saya masih bisa cerewet, tapi otak dan hati saya entah ada di mana.

Beberapa hari setelahnya saya mengadakan sesi curhat akbar dengan lelaki hidung besar, sahabat saya. Bersamanya saya muntahkan apa yang menyumpal di hati. Kala itu, muntahan saya sudah agak terstruktur. Kalimat-kalimat yang keluar dari mulut saya, sebisa mungkin runut. Curhat akbar yang nggak pake nangis. Siang itu, setelah curhat akbar 3 jam, saya merasa lega luar biasa.

Saya mulai bisa berpikir jernih. Tahu mana yang harus saya lakukan sebagai tindakan P3K (pertolongan pertama pada kerusuhan). Hal yang terpenting adalah, saya tidak diam saja. Apapun yang terjadi, saya berusaha untuk tidak lari. Tidak mudah, tapi juga bukan perkara mustahil. Tidak mudah memelihara harapan, tapi itulah yang harus tetap dilakukan.  I try my best to clean up the mess.

Sudah lebih dari seminggu sejak hidup terasa dalam putaran turbulence dan belum juga usai. Turbulence memang datang membawa serta sampah sampah beterbangan dan tak akan usai dalam hitungan 10 hari. Bahkan, mungkin, bekas-bekasnya akan menempel dalam waktu yang tak sebentar.

Tapi saya tahu, setelah masa turbulence, udara akan terasa lebih segar. Langit akan kembali biru dan semua akan baik-baik saja. Doakan ya, turbulence (cepat) berlalu.

my thought · personal

Are you still who I raised you to be?

kalimat di atas adalah kalimat yang diucapkan oleh dr. arizona robbin dalam salah satu adegan di series grey’s anatomy. scene saat dr. arizona bertemu ayah dr. torres, pasangan lesbinya.

scene itu adalah salah satu scene favorit sepanjang saya nonton grey’s anatomy. scene yang menceritakan bagaimana dr. arizona ‘membela’ dr. torres, mempertahankan yang dia cintai. dalam kalimat yang panjang, dr. arizona berkata…

I was raised to be a good man in a storm. Raised me to love my country. To love my family. To protect the things I love. When my father – heard that I was a lesbian, he said he had only one question. “Are you still who I raised you to be?” My father believed in country the way that you believe in God. And my father is not a man who bends, but he bent for me because I’m his daughter. I’m a good man in a storm. I love your daughter. And I protect the things that I love. Not that I need to. She doesn’t need it. She’s strong, and caring, and honorable. She’s who you raised her to be.

episode ini membuat saya merenung agak lama. tentang apakah saya tumbuh menjadi seperti harapan mereka yang membesarkan saya? apakah bapak ibu cukup senang punya anak yang cukup bengal kayak saya? *sigh

jika dr arizona dibesarkan untuk menjadi orang yang mencintai negara, keluarga, melindungi yang dicintai…maka bapak membesarkan saya agar saya menjadi orang yang tahu apa yang saya inginkan lalu bertanggung jawab penuh atas semua pilihan-pilihan saya. saya ingat, bapak seringkali berkata ‘apa yang baik menurutmu…yang lebih banyak manfaat dibanding mudharatnya’

saya juga ingat, ibu membesarkan saya dengan aturan-aturan, yang kadang membuat saya begah. tapi, saat saya makin dewasa, aturan-aturan ibu menjadi kendali yang menarik kaki saya kembali menjejak bumi. aturan-aturan ibu seakan menjadi pagar batas yang saya tak akan sampai hati melanggarnya. sejauh apapun saya melangkah, aturan-aturan itu seakan melekat erat, seperti bayang-bayang ibu yang memayungi kemanapun saya pergi.

are you still who i raised you to be?

kalimat itu terus terngiang. semoga saya ga katro-katro amat jadi anak yang dibesarkan ibu dan bapak.