me time · oleh-oleh jalan-jalan · personal

Lebaran bersama Agan

Lebaran tahun ini saya tidak pulang. Alasannya? Tentu karena ibu dan mamak sudah tak ada. Rasanya saya nggak siap untuk menikmati sepi di rumah sendiri. Pedih, kak!

Jadilah lebaran kali ini jadi lebaran yang paling santai selama saya jadi imigran gelap ibukota.

Saya tidak begadang rebutan tiket mudik. Nggak blusukan Tanabang. Ngga nuker-nuker duit (tapi teteph transfer sana sini sik ;p)..dan nggak-nggak yang lain. Beneran woles.

Lebaran hari pertama, saya shalat di dekat rumah, lalu ngacir ke rumah kakak ke-2 untuk salam-salaman dan makan opor. Ga pake lama karena jam 10 pagi saya sdh sampai Pejaten lalu nonton tv dan bobok siang. Nonton tv dan bobok siang kemudian diulang dilebaran ke dua, plus saya nge-mall demi menghindari santan.

Bangun pagi di lebaran ke-tiga, Agan mengirim pesan..bertanya apakah saya ingin menepi ke rumah gunung. Saya menolak. Entah darimana ceritanya, tiba-tiba saya dan Agan bersepakat untuk pergi ke Lombok. Agan sudah punya tiket, saya belum. Maka, segera saya cek website tiket online dan segera membeli tiket untuk penerbangan jam 18.30. Well…saya harus segera berkemas.

Agan yang terbang jam 3.30 tentu saja lebih dulu sampai. Dia menunggu saya landing nyaris 3 jam setelahnya. Ketika saya turun dari lantai 2 bandara, saya melihatnya duduk persis di dekat eskalator. Kami bertukar senyum lebar. Lalu saling minta maaf…dengan agak-agak dramatis. yah, hidup tanpa drama pasti akan terasa datar saja kan…

Dari bandara, kami menuju rumah Fian untuk menunggu pagi dan bisa berpikir jernih tentang ‘mau kemana sih kita?’ kami memang pergi tanpa rencana. Terserah hati dan kaki saja.

Maka, ketika pagi hari Agan mengajak untuk bablas ke Maluk, saya langsung oke saja. Saya janji akan jadi anak manis..no rewel..no protest..

Mungkin karena saya berjanji akan jadi anak manis…maka Agan juga jadi anak manis (banget). hahahha…duh, saya harus akui ini…biasanya he’s the reseh and nyebelin and nyiyir to the maxx…tapi kemaren Agan berubah jadi malaikat. Selama nyaris seminggu hidup bareng, kami bahkan ga sempet berantem. Ini PRESTASI yang membanggakan!

Jadi, ngapain aja selama kami di Maluk?

                                                              lebaran di seberang
  1. Piknik dari pagi sampai menjelang sore dimana tiap pagi Agan belanja cemilan dan ransum makan minum. Seperti biasa, saya bangun siang, cuci muka dan cuss…duduk bonceng motor menuju spot-spot pantai
  2. Berenang
  3. Saling foto dan record some moments to remember *uhuk…sebenernya Agan si yang lebih rajin…dia kan lebih narsis…;p
  4. Baca buku *salah bawa buku..ketebelan jd ga kelar-kelar
  5. Dengerin musik dari playlist Agan. Selera musik kami kebetulan sama
  6. Tidur siang
  7. Pulang…mandi dan nerusin tidur siang..
  8. Bangun sore…lapar…makan (lagi)
  9. Malam makan lagi
  10. diulang berhari-hari

Diantaranya…kami sempat piknik sama penduduk sekitar dan makan siang bareng mereka. Diantaranya kami berburu sunset sampai ke Nomad Cafe…demi mengabulkan permintaan saya nyari yang dingin-dingin menyegarkan.

Kami juga sempat melihat-lihat celah untuk mewujudkan impian rumah pantai…YaTUHANNNN…saya deg-deg-an…hvft!

_____________________

Note:
– Seminggu hidup enak bareng Agan berakibat fatal. Saya menderita  ga bisa mikir ga bisa kerja berkepanjangan.
– Teluk Maluk ada di Kabupaten Sumbawa Barat. Pantainya banyak, semua cakep, mostly ga pake ombak goyang dombret, jd aman sentosa buat berenang syantiekk.
– Bagaimana cara ke Maluk?
a. Pesawat Jkt – Lombok = sekitar 700rb harga normal
b. damri dr bandara lombok ke kota mataram = 25rb
c. travel (inova) dari mataram ke pelabuhan kayangan = 50rb
d. speed boat dari kayangan ke benete = 135rb
sampai deh di Maluk….

Gampang kan?! #AyoKeMaluk

 

 

Continue reading “Lebaran bersama Agan”

Advertisements
makan di mana · oleh-oleh jalan-jalan

Ngopi di Bukit Menoreh

Jauh dari hiruk pikuk kota Jogja, saya menyesap kehangatan kopi yang beda. Di Kopi Bukit Menoreh Pak Rohmat.

peggy di kedai kopi menoreh
                                                           peggy di kedai kopi menoreh
jalanan mulus, langit biru, sawah di kanan kiri jadi hiburan menuju Kopi Menoreh
jalanan mulus, langit biru, sawah di kanan kiri jadi hiburan menuju Kopi Menoreh
jalanan naik turun dan berliku menuju kedai kopi menoreh
                     jalanan naik turun dan berliku menuju kedai kopi menoreh

Bukit Menoreh sudah tak asing di telinga saya. Komik SH MIntarja yang berjudul Api di Bukit Menoreh menjadi salah satu komik andalan di masa lalu. Tapi saya tak pernah membayangkan benar-benar berkunjung di Bukit Menoreh. Sampai saya membaca ada kedai kopi yang asik di sana.

Adalah Pak Rohmat, petani kopi yang membangun warung kopi di ketinggian, tepatnya di desa Madigondo yang masuk di Kec. Samigaluh, Kab Kulonprogo.

Kopi Menoreh Pak Rohmat memang sulit dijangkau, jauh dari kota. Saya dan Peggy mengandalkan aplikasi waze dengan signal seadanya. Entah berapa banyak desa, kelokan, tanjakan berliku yang kami lalui. Sawah yang hijau kuning, jurang-jurang yang dalam, menjadi teman setia. Pemandangan sepanjang rute menuju Kopi Menoreh benar-benar asik.

Kedai Kopi Menoreh berukuran kecil saja. Menempati pekarangan belakang rumah Pak Soleh. Ada 2 saung di atas dan satu di bawah. Kami memilih saung di atas yang berkursi bambu. Satu saung lainnya dengan gaya lesehan (yang makin hari makin tidak cocok untuk perut gendut saya).

Begitu mendaratkan pantat di kursi bambu, seketika itu pula saya paham, mengapa kedai sederhana ini begitu diburu. Saya disergap rasa nyaman. Duduk memandang hutan tepat di depan mata. Tak ada pemandangan lain selain hutan. Telinga disergap oleh cicit burung, dan suara sungai mengalir di bawah sana. Kalau sudah begini, siapa tak jatuh cinta?

pemandangan di kedai kopi menoreh
                                            pemandangan di kedai kopi menoreh

Saya memesan kopi Arabica dan Peggy memesan Kopi Lanang. Keduanya datang bersama satu paket cemilan berisi kacang rebus, tahu goreng, singkong dan geblek. Dalam nampannya yang cantik, juga terdapat gula merah, gula pasir dan air jahe. Hidung kami kembang kempis.

kopi lanang dan arabica datang dalam tampilan yang cantik
                              kopi lanang dan arabica datang dalam tampilan yang cantik

Kami menunggu sesaat hingga tak ada kopi yang mengambang. Saya menyesap pelan. Rasanya pas. Pahitnya menyisakan sensasi manis setelahnya. Kopi Arabica pesanan saya sukses, pun juga sama dengan Kopi Lanang yang Peggy pesan. Pahitnya kopi Lanang lebih terasa tebal. Tapi tenang, semua akan menjadi biasa, termasuk kepahitan, bukan?! (curcol)

Setelah kopi, kami memesan makan siang. Menu sederhana nasi ayam goreng dan sambal kami pesan sebagai obat lapar. Entah karena perut memang lapar atau (lagi-lagi) karena suasananya yang enak, menu makan siang habis dalam hitungan menit. Duhhhh…mengerikan sekali!

Kedai Kopi Menoreh memang sangat mbetahi. Kami duduk-duduk santai, kadang mencek social media (teteup) sambil ngobrol dengan sesama pengunjung Kedai Kopi Menoreh. Berbagi cerita, tukar info ini itu, membuat rasa hangat menjalar di dada. Hangat yang seringkali dirindukan oleh orang-orang kota yang hidupnya habis untuk mengejar deadline.

Saya pasti merindukan kehangatan Kedai Kopi Menoreh. Jadi, saya pasti kembali!

Note:
jangan tanya bagaimana cara menuju Kedai Kopi Menoreh. Saya benar-benar mengandalkan waze!

makan di mana · oleh-oleh jalan-jalan

Laku Ibu

sate klathak Pak Bari
sate klathak Pak Bari

Tadi malam, warung klathak Pak Bari tampak chaos. Saya yang datang sebelum warung Pak Bari buka, tak kunjung dilayani. Begitupun sekelompok anak muda yang duduk di tikar sebelah. Mereka bahkan sudah datang sebelum kami tiba.

Tak ada system catat pesanan di sini. Semua dilakukan dengan managemen warung pinggir jalan seadanya saja. Siapa yang kebetulan ada di dekat crew, bisa memesan dan jika beruntung langsung dilayani. Dan sebaliknya.

Semrawut memang. Kalau hal ini terjadi di Jakarta, niscaya akan terdengar rentetan kalimat bernada complain.

Untungnya, ini terjadi di Jogja. Tempat dimana selow menjadi bagian dari urat nadi. Jadi, sembari menungu tusukan sate klatak datang, pembeli melakukan interaksi ala mereka masing-masing.

Peggy, sahabat seperjalanan, menunggu dengan cara merebahkan badannya di atas tikar plastik meluruskan punggung yang kaku setelah seharian nyetir naik turun gunung. Usia memang tak bisa boong. Lagi-lagi, untung, ini adalah di Jogja. Jogja coret, bahkan dan di tengah pasar. Saya rasa, Peggy tak akan melakukannya jika kejadian ini ada di Jakarta. Sekawanan anak muda asik ngobrol di tikar yang lain. Saya memilih untuk ngobrol dengan ibunda Pak Bari, yang sedang ngeteh berteman onde.

‘Mbak, ndaleme pundi?’, tanya si ibu. Ketika saya menjawab Jakarta, si Ibu memberi respon yang atraktif. ‘Eyalahhhh….jauh sekali’, kata si ibu yang kemudian saya panggil dengan sebutan SImbah.

Simbah berumur 71 tahun. Masih sangat sehat. ‘Saya masih kuat kerja, ngurus anak, cucu dan cicit. Cuma saya sudah ompomg. Gigi habis semua’, kata Simbah dalam bahasa Jawa.

Ketika saya tanya apa resep awet muda yang dijalankan simbah, beliau menjawab, ‘Saya sedikit tidur dan jarang makan’. Simbah lebih suka ngemil dibanding makan besar.

Untuk kebiasaan tidurnya, simbah punya cerita. ‘Saya tidur setelah isya dan bangun jam 10 malam. Lalu saya melakukan pekerjaan rumah. Setiap jam 3 dini hari sampai jam 5 subuh saya jalan kaki mengelilingi rumah. Itu laku saya untuk keselamatan anak cucu cicit’, begitu jawab simbah ramah.

Jalan kaki mengelilingi rumah adalah ‘laku’ yang dijalaninya sekian lama. ‘JIka hujan, saya jalan mengelilingi rumah sambil payungan. tetangga-tetangga sudah hapal. sekalian ronda’, imbuh Simbah sambil terkekeh.

‘Laku’ ini adalah wujud doa Simbah agar anak, mantu, cucu dan cicitnya senantiasa dimudahkan jalannya dan terhindar dari marabahaya. Orang tua di Jawa memang kerap melakukan laku dengan caranya masing-masing. Ada yang puasa di hari pasar anaknya. Ada yang mutih. Dan Simbah memilih lakunya dengan cara mengelilingi rumah.

Mungkin terasa aneh bagi orang kota. Tapi sejatinya, itu adalah salah satu wujud cinta dan doa Ibu.  Doa yang mengalir tanpa henti, dalam versinya masing-masing. Dan untungnya (lagi), Tuhan yang maha segala, begitu mencintai sosok Ibu, lengkap dengan setiap versi doa yang ia lantunkan, laku yang ia jalankan.

Saya dan Simbah terus mengobrol. Tentang anak-anaknya. Tentang kebiasaannya makan Supermi yang kemudian saya larang. ‘Banyak pengawetnya, mbah. Mending dhahar onde, tiwul mawon’. SImbah pun setuju.

Begitulah. Managemen warung sate klatak Pak Bari yang acakadut, jadi termaafkan karena kami pembelinya, punya cara asik sembari menunggu sate dan tongseng datang.

Di Jogja semua jadi lebih mudah dimaafkan.

note:
photo taken by Peggy

bpm · oleh-oleh jalan-jalan

Pantai-pantai di Lombok

Lombok memang spesial. Pulau ini dikelilingi pantai-pantai yang aduhai dan aduh sayang banget kalau nggak dikunjungi.

Pantai-pantai di Lombok tersebar di 4 penjuru mata angin: Barat – Timur – Selatan – Utara. Saya pribadi, sangat menikmati menjelajahi pantai-pantai di sudut Pulau Lombok. Menurut saya, lebih menyenangkan blusukan mencari pantai-pantai baru ketimbang island hopping di 3 gili yang, menurut saya, too mainstream.

Berikut adalah beberapa pantai di Pulau Lombok, yang menyenangkan untuk dikunjungi:

  1. Pantai Selong Belanak
    Pantai ini terletak di Lombok Selatan. Memiliki garis pantai yang panjang dan berpasir putih yang halus. Terletak sekitar 50 km dari kota Mataram, pantai yang berhadapan dengan Samudra Hindia ini menawarkan ketenangan. Jauh dari kata brisik dan sumpek. Jika datang di hari biasa (bukan saat liburan) pantai ini nyaris kosong. Di sini, pengunjung bisa berenang dengan aman, karena lautnya cenderung tenang.Mengunjungi Selong Belanak, berarti kita akan melewati jalanan yang tidak rata. Banyak kelokan dan bukit-bukit indah di kanan dan kiri jalan. Indah banget!

    pasir putih dan garis pantai yang panjang
    pasir putih dan garis pantai yang panjang
    we love selong belanak beach
    we love selong belanak beach

    jalanan yang asik
    jalanan yang asik
  2. Pantai Tanjung Aan
    Di Lombok Tengah, kita bisa berjumpa pantai Tanjung Aan yang masyur. Pantai ini unik. Terdapat 2 jenis pantai yang dipisahkan oleh bukit/tanjung yang dapat didaki oleh pengunjung. 2 pantai ini berpasir halus dan berpasir merica. Saat sunset, para pengunjung berduyun-duyun mendaki bukit karena pemandangannya indah betul.

    Tanjung Aan sebelum naik bukit
    Tanjung Aan sebelum naik bukit
    sunset from the hill
    sunset from the hill
    pantai yang di bawah itu yang berpasir merica
    pantai yang di bawah itu yang berpasir merica

     

  3. Pantai Mawun 
    Jika Anda penyuka pantai mungil, sepi dan cantik rupawan, segeralah pergi ke Pantai Mawun.
    Terletak di Lombok Selatan, pantai ini terletak di antara Pantai Selong Belanak dan Pantai Kuta Lombok. Bawalah perbekalan (makanan dan minuman) yang cukup, karena di pantai ini sangat minim warung. Hal ini salah satu kekurangan yang juga menjadi berkah…karena pantai ini benar-benar memberikan ketenangan yang maksimal.

    lengkung pantai yang sempurna
    lengkung pantai yang sempurna
    see...nobody there..so peaceful
    see…nobody there..so peaceful

     

  4. Pantai Tangsi
    Pantai Tangsi yang terletak di Lombok Timur ini mendadak heits karena punya pasir berwarna pink, seperti pantai pink yang terdapat di Pulau Komodo, Flores.Berbeda seperti pantai-pantai lainnya di Lombok yang bisa dijangkau dengan mobil, pantai-pantai di Lombok Timur lebih mudah dijangkau lewat jalur laut. Anda harus bermobil menuju pelabuhan Tanjung Luar dan menyewa kapal kayu di sana.

    Dari Tanjung Luar, Pantai Tangsi dapat dicapai dalam 30 menit. Selain Pantai Tangsi, Anda bisa mampir di Gosong Pasir (gundukan pasir yang timbul saat air laut surut) dan beberapa pantai (yang saya ga apal namanya). Pokoknya, tiap liat pasir putih, segera saja tambatkan perahu dan nikmati pantainya.

    gosong pasir yang kece
    gosong pasir yang kece
    salah satu pantai di Lombok Timur dari atas perahu. mampir saja!
    salah satu pantai di Lombok Timur dari atas perahu. mampir saja!
    nah..ayo kita mampir dan buka bekal makan siang di sana
    nah..ayo kita mampir dan buka bekal makan siang di sana
    kawan berlayar
    kawan berlayar
    our boat, the one and only boat at that time
    our boat, the one and only boat at that time

    20150514_114443

  5. Trio Gili di Lombok Barat
    Gili Nanggu, Gili Kedis & Gili Sudak

    Gili Nanggu adalah salah satu gili (pulau kecil) yang cukup terkenal, selain 3 gili yang sudah mendunia. Letaknya di perairan Selat Lombok, masuk di kawasan Lombok Barat. Di pulau kecil ini terdapat resort dengan harga yang sangat terjangkau.Gili Nanggu menjadi favorit snorkling para newbi. Dengan kedalaman sedengkulpun ikan-ikan aneka warna sudah berseliweran.

    mendarat di Gili Nanggu
    mendarat di Gili Nanggu
    Main ayunan di Gili Nanggu
    Main ayunan di Gili Nanggu
    sunset di Gili Nanggu
    sunset di Gili Nanggu
    pulau berpasir putih itu Gili Sudak
    pulau berpasir putih itu Gili Sudak
    Kami di Gili Kedis
    Kami di Gili Kedis

    Tentu saja masih buanyakkkk koleksi pantai di Lombok yang menunggu untuk didatangi. Jadi, kapan kita ke sana?

Note:
catatan lama, sekedarnya saja biar nggak lupa.

me time · oleh-oleh jalan-jalan · personal

Blusukan candi-candi di sekitar Borobudur

4 candi dalam satu hari
4 candi dalam satu hari..dari ki-ka: Ngawen, Selogriyo, Pawon dan Mendut

Oh well, saya seperti berhutang pada diri sendiri karena belom juga mem-posting candi-candi yang ada di seputaran candi Borobudur. *tsah

Di pertengahan Desember, saya mengunjungi kawasan Borobudur dan sekitarnya. Awalnya, saya memang berniat menikmati sunrise, either di Stumbu atau langsung di Borobudur. Tapi (sayangnya), niat sunrise-an selalu berujung gagal bangun pagi. Suasana EloProgo Art House memang terlalu enak untuk dibawa tidur.

Setelah gagal mengejar sunrise, saya segera memutar otak untuk mengisi waktu luang (selain duduk bengong – makan – tidur – ngegosip sama si Ulis. huehehhehee…;p;p)

Sayapun segera menghubungi Pak Joko, pak ojek yang menemani saya makan siang di warung mangut beong dan akhirnya mengantarkan saya ke EloProgo. Bersama Pak Joko, akhirnya saya berhasil mengunjungi candi-candi (selain Borobudur) di Magelang dan sekitarnya

CANDI MENDUT

Pagi sesudah sarapan, Pak Joko sudah siap menjemput. Candi yang pertama kali kami singgahi adalah Candi Mendut yang berjarak sekitar 2 km dari Candi Borobudur. Candi Mendut terletak strategis, persis di tepi jalan besar. Semua yang menuju candi Borobudur dari arah Jogja, pasti melintasi Candi Mendut.

Candi Mendut berukuran jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan Candi Borobudur. Secara bentuk, candi ini termasuk dalam candi Budha. Menurut prasasti Karang Tengah, diperkirakan candi ini dibangun oleh Raja Indra dari dinasti Syailendra pada 824 M, yang artinya lebih tua dibanding Candi Borobudur.

Pengunjung dapat memasuki area utama, sebuah ruang yang menjadi pusat candi Mendut, melalui pintu masuk yang ada di sebelah Barat.

Ruang utama Candi Mendut lumayan luas. Dinding candi yang terbuat dari batu andesit memberi sensasi dingin yang menyenangkan, setelah saya berpanas-panas di atas sadel motor Pak Joko.

Saya sangat betah berlama-lama ngadem di dalam Candi Mendut. Ngobrol bersama pak satpam Candi Mendut yang sungguh sangat well info tentang cerita-cerita yang ada di relief. Juga tentang 3 patung Budha yang ada di ruangan inti candi.

“Patung yang di tengah, yang menghadap ke pintu atau arah barat adalah patung Budha Sakyamuni, yang kanan Bodhisatva Avalokiteswara dan yang kiri adalah Maitreya”, jelas Pak Satpam Candi Mendut. Tampaknya beliau sangat menguasai medan.

Patung Budha Sakyamuni adalah pencerminan Budha saat sedang berkhotbah yang digambarkan dengan tangan seperti memberi nasihat. Patung Bodhisatva adalah ‘patung Budha dalam posisi santai’ dimana kaki kiri dilipat dan kaki kanan menjuntai dan menginjak bunga teratai. Sedangkan Maitreya menggambarkan posisi Budha sedang duduk dengan sikap tangan simhakarnamudra dengan jari-jari tertutup.

Ahh, saya betah sekali di candi Mendut ini. Sembari neduh dalam candinya yang adem dan tenang, saya sungguh berterima kasih kepada Pak Satpam yang begitu murah hati menjawab rupa-rupa pertanyaan saya.

CANDI PAWON

Hanya sekitar 5 menit bermotor dari Candi Mendut, sampailah kami di Candi Pawon.

Menurut saya, Candi Pawon adalah salah satu candi dengan desain yang cantik. Terletak di tengah perkampungan penduduk, Candi Pawon tampak berdiri dengan anggun.

Menurut catatan yang ada di kawasan candi, nama Pawon berasal dari kata ‘awu’ yang berarti abu. Sangat mungkin, pada jamannya, Candi Pawon berfungsi sebagai tempat perabuan atau  menyimpan abu jenazah raja. Jika dirunut dari tahun dibangunnya Candi Pawon, abu jenazah yang mungkin disimpan di candi ini adalah abu jenazah Raja Indra dari dinasti Syailendra yang merupakan ayah dari Raja Samarattungga. Sebagai pengingat, Raja Samaratungga adalah raja yang mendirikan candi Borobudur. Jadi, Candi Pawon berusia lebih tua dari Candi Borobudur.

CANDI NGAWEN

Candi Ngawen terletak di desa Ngawen yang hijau oleh sawah dan perkebunan warga. Lokasinya yang tidak terletak di jalur utama, membuatnya sepi pengunjung. Tapi, hal ini tidak mengurangi kecantikan candi yang dibangun di abad 9 – 10 Masehi ini.

Candi Ngawen adalah candi yang unik karena dibangun oleh dua dinasti dengan latar belakang yang berbeda; dinasti Syailendra yang beragama Budha dan dinasti Rakaipikatan yang beragama Hindu.

Perpaduan 2 keyakinan ini memberi karakter yang berbeda pada Candi Ngawen dibanding candi-candi lainnya. Candi Ngawen berbentuk ramping seperti candi Hindu pada umumnya, tapi dibangun dengan stupa dan teras berundak yang sangat khas dijumpai pada candi-candi Budha.

Di komplek Candi Ngawen, terdapat 5 buah candi yang rata-rata dalam keadaan rusak hingga rusak parah. Hanya ada 1 candi, candi ke-empat ditilik dari arah pintu masuk, yang berdiri (nyaris) utuh dengan patung Budha tanpa kepala.

Ciri khas lain Candi Ngawen terletak pada empat patung singa  jantan yang terletak di 4 pojok masing-masing candi. Mungkin, patung Singa tersebut melambangkan sebagai penjaga.

CANDI SELOGRIYO

Awalnya saya tidak berniat ke Candi Selogriyo yang menurut Pak Joko, ‘candinya di atas bukit dan pemandangannya bagus’. Tapi Pak Satpam Candi Mendut akhirnya sukses mengompori saya dengan cerita ‘Tamunya Aman Jiwo rata-rata ke Selogriyo lho mbak!’ dan menegaskan dengan kalimat pembujuk ‘ga jauh kok, paling setengah jam juga nyampe’.

Akhirnya saya memutuskan untuk mengunjungi Selogriyo.

Jika setahun lalu saya mengalami naik motor paling challenging ketika menuju titik 0 di Sabang, maka rekor itu terpatahkan di Selogriyo.

Perjalanan menuju Selogriyo memang tak mudah. Saya menempuh waktu nyaris 1.5 jam (termasuk nyasar 2x) sebelum akhirnya sampai di desa Campursari, desa terakhir sebelum trakking menuju Candi Selogriyo. Dari arah Borobudur, Pak Joko mengambil arah jalan utama Magelang lalu berbelok menuju arah desa Blandongan. Dari desa Blandongan, jalanan naik turun bukit dengan sawah membentang luas di kanan dan kiri jalan sudah menghiasi perjalanan.

Berlokasi di lereng Gunung Sumbing, perjalanan menuju Selogriyo menyuguhkan pemandangan yang sangat cantik. Sawah terasiring yang sangat luas mengingatkan saya pada persawahan di Bali. Udara segar dengan kabut tipis-tipis menyelimuti bukit Giyanti, Condong dan Malang, menjadi kawan perjalanan yang asik. Jalan setapak selebar 1 m dengan tanjakan dan turunan yang curam membuat siapa saja harus berhati-hati. Apalagi, kadang kami harus berbagi dengan pedati bermuatan tebangan pohon berukuran besar atau warga dengan bawaan sekarung rumput yang menutupi jalanan.

Selogriyo, seperti halnya candi Hindu lainnya, terletak di ketinggian. Umat Hindu percaya candi di ketinggian akan membuat mereka semakin dekat dengan dewa-dewa di kahyangan. Merupakan peninggalan Wangsa Sanjaya, Selogiyo diperkirakan seumuran dengan candi-candi Hindu di pegunungan Dieng.

Sayangnya, saat saya datang, candi dikeliingi ‘police line’, membuat saya urung masuk ke area utama candi. Keberadaan ‘beberapa anak alay’ yang asik pacaran di tempat-tempat tersembunyipun harus menjadi perhatian para petugas candi. Jangan sampai kawasan candi yang berfungsi sebagai tempat peribadatan beralih fungsi jadi kawasan remang-remang.

terasiring di lereng Sumbing
terasiring di lereng Sumbing
Bodhisatva, Sakyamuni dan Maitreya
Bodhisatva, Sakyamuni dan Maitreya
Candi Pawon
Candi Pawon
dari sini...candinya masih...uhmm...lumayan jauh sik..;p;p
dari sini…candinya masih…uhmm…lumayan jauh sik..;p;p
bukit-bukit di lereng Sumbing
pemandangan menuju Selogriyo…bukit-bukit di lereng Sumbing
candi Selogriyo yang lagi diiket...:(
candi Selogriyo yang lagi diiket…:(
komplek candi Ngawen...foto2 candi Ngawen ga ada yang maksimal karena udah keburu loyo setelah turun dari Selogriyo.. *alasan
komplek candi Ngawen…foto2 candi Ngawen ga ada yang maksimal karena udah keburu loyo setelah turun dari Selogriyo.. *alasan
bpm · oleh-oleh jalan-jalan

Mencumbu hutan Tanjung Puting

Ketika melempar ide Tanjung Puting, satu-satu nya alasan yang saya punya adalah…tiket murah ke Pangkalan Bun di akhir tahun. Pangkalan Bun adalah kota kecil di Kab. Kotawaringin Barat, titik permulaan untuk mengeksplor Tanjung Puting, taman nasional tempat rehabilitasi orang utan terbesar di dunia. Tiket pesawat yang murah disempurnakan oleh Dhora yang berhasil mendapatkan harga tur Tanjung Puting yang jauhhhh di bawah harga normal. Yeayyy!

Saya yang anak pantai tulen, tentu saja tak banyak berharap. Yang di otak saya hanya…’oh, bakal ada sedikit trekking, lalu liat orang utan, stay di atas klotok. Itu saja. Sudah. Saya tak banyak nanya seperti apa klotoknya, menu makanannya atau apalah apalah yang biasanya saya tanyakan jika traveling ke tempat yang belum pernah saya datangi. Santai saja.

Berbekal apa adanya, saya merasa bersyukur sekali jika kemudian saya dibuat amazed berkali-kali oleh perjalanan Tanjung Puting.

Amazed pertama kali terjadi saat Mas Husni bercerita bahwa luas Taman Nasional Tanjung Puting mencapai lebih dari 415.000 hektar atau setara dengan luas Pulau Bali. Superwow …Cakupan seluas ini menjadi istana bagi orang utan dan berjenis hewan dan tanaman yang sebagian besar belum pernah saya temui wujud nyatanya.

Kami memulai perjalanan. Klotok meninggalkan Teluk Kumai yang semakin tenar sejak peristiwa jatuhnya pesawat Air Asia tahun lalu. “Perairan Kumai berwarna coklat, hasil dari limbah pertambangan emas”, jelas Mas Husni perlahan.

Saya memandang jauh, ke sebuah cerobong asap tanda sebuah pabrik sedang bekerja. ‘Mungkin dia adalah salah satu sumber limbah ini berasal’, sahut saya perlahan. Syukurlah kami tak jadi bete dengan cerita limbah. Hujan yang cukup deras dan angin kencang membuat kami harus bergegas mengamankan barang bawaan.

Hujan deras dan berangin kemudian menjadi teman setia. Barulah kami paham, di hutan belantara berjenis hutan hujan tropis, hujan dan panas silih berganti dalam sekedipan mata. Awan mendung dan langit biru seakan 2 sisi mata uang, yang bisa berubah dalam sekejap. Satu ilmu yang membuat saya membatin ‘oh iya yaaa…dulu ada tuh di pelajaran geografi’.

Taman Nasional Tanjung Puting  memiliki beberapa tipe ekosistem yang terdiri dari hutan hujan tropika dataran rendah, hutan tanah kering, hutan rawa air tawar, hutan mangrove, hutan pantai, dan hutan sekunder. Diawal perjalanan, selepas patung orang utan sebagai gerbang TN Tanjung Puting, kami melintasi hutan mangrove yang bersambung dengan hutan nipah. Di sini banyak mulai tampak beberapa jenis burung berseliweran. Tentu, tanpa alat bantu kekeran, mustahil kami dapat melihat dengan jelas. Paling dari warnanya saja. Ada burung biru (bukan taksi lho), putih dan kuning.

‘Lihat, warna air sungainya terbelah…warna coklat susu dan hitam’, begitu seru Mas Husni, membuat kami sibuk mengatur hp agar camera dalam posisi on. Sungai Sekonyer yang mempunyai panjang nyaris 50km ini, aslinya berair hitam bening. Warna hitam berasal dari zat tanin yang dikeluarkan oleh akar pepohonan yang mengisi hutan di Taman Nasional Tanjung Puting.

Selama perjalanan di Taman Nasional Tanjung Puting, kami memasuki 4 hutan yang berbeda. 3 jenis hutan pertama adalah hutan yang di dalamnya ada camp tempat memberi makan orang utan; Tanjung Harapan, Pondok Tangguy dan Camp Leakey. Satu hutan lainnya adalah hutan Pesalat.

Hutan pertama adalah hutan yang didalamnya terdapat shelter Tanjung Harapan, shelter pertama dari rehabilitasi orang utan. Lokasi ini berada di hutan sekunder dan hutan rawa yang dilengkapi dengan wisma tamu, pusat informasi dan jalan trail. Tak jauh dari dermaga, kami mendapati pasir putih seperti yang kami jumpai di pantai. Feeding time di Tanjung Harapan dimulai pada jam 2 dan berakhir pada jam 4 sore. Kami berjumpa dengan banyak orang utan jantan di sini.

Keesokan harinya, kami diajak untuk masuk dalam hutan tempat shelter Pondok Tangguy yang merupakan shelter tempat program anak orangutan dan semi-liar rehabilitasi. Di Pondok Tangguy dengan feeding time di jam 9 pagi, membuat kami harus bergegas jika tak ingin melewatkan ‘bertatap muka’ langsung dengan orang utan. Selepas Pondok Tangguy, kami bergegas menuju Camp Leakey, shelter terbesar dan paling terkenal di Taman Nasional Tanjung Puting.

Camp Leakey adalah shelter yang pertama kali dibuat Dr Birute Galdikas pada tahun 1971 oleh. Di kawasan ini, terdapat juga ‘museum orang utan’ yang didalamnya terdapat sejarah orang utan, termasuk family tree dari orang utan penghuni Tanjung Puting. Semisal induk orang utan Siswoyo mempunya anak yang bernama Siswi, Simon, Sugarjito. Lalu induk orang utan Princess, mempunyai anak Prince, Peta, Pan dan Percy dan mempunyai cucu yang bernama Pria, Penny dan Putih. Very intersting!

Camp Leakey mempunyai jalur trekking yang terjauh. Kami melewati jalan setapak ditumbuhi pohon semacam cemara. Setelahnya pepohonan mulai merimbun, tanda kami telah masuk lebih dalam ke dalam belantara. Akar-akar berukuran besarpun tampak memenuhi jalanan yang kami tapak. Daun-daun coklat yang basah membuat tanah jadi empuk saat dipijak. Kami berjalan cukup berhati-hati, karena di dalam hutan seperti ini orang utan bisa tiba-tiba muncul tanpa permisi. Begitupun dengan babi hutan dan ular. Di beberapa titik, kami bergidik geli karena sekumpulan rayap berukuran raksasa sedang asik menggerogoti batang kayu ulin yang berusia 200 tahun. Di tempat lain tampak semut hutan berbondong-bondong entah akan kemana.

Hutan terakhir adalah hutan Pesalat yang kami datangi dalam perjalanan pulang menuju Kumai. Hutan Pesalat adalah area yang didedikasikan sebagai hutan tanaman endemik dan tanaman obat. Hutan ini adalah kawasan yang memiliki kelembaban yang sangat tinggi. Badan akan basah kuyup oleh keringat walau sinar matahari tak mampu menembus lebatnya pepohonan.

Di hutan Pesalat, Pak Lelan (semoga tidak salah namanya), ranger yang tinggal di hutan Pesalat dengan senang hati akan bercerita tentang berbagai jenis tanaman llangka dan tanaman obat. Beliau juga akan membantu pengunjung yang ingin berpartisipasi menanam pohon.

Duh, saya jadi kangen blusukan hutan di TN Tanjung Puting!

setapak di Camp Leakey
setapak di Camp Leakey
kursi untuk pengunjung
kursi untuk pengunjung
neduh dulu ahhhh
neduh dulu ahhhh
pohon tumbang menghalangi jalan
pohon tumbang menghalangi jalan
hati-hati saat berjalan...mereka bisa muncul kapan saja tanpa aba-aba
hati-hati saat berjalan…mereka bisa muncul kapan saja tanpa aba-aba
museum orang utan a.k.a information center di camp leakey
museum orang utan a.k.a information center di camp leakey
setapak tanah kering
setapak tanah kering
hutan dan langit biru di Pondok Tangguy
hutan dan langit biru di Pondok Tangguy
membelah sungai Sekonyer
membelah sungai Sekonyer
area tanaman obat di hutan Pesalat
area tanaman obat di hutan Pesalat
kayu ulin berusia 200 tahun
kayu ulin berusia 200 tahun
pose dulu mumpung adem
pose dulu mumpung adem
bpm · nginep di mana · oleh-oleh jalan-jalan

Menikmati hidup dari atas Klotok

Klotok? apa tuh klotok?

Sini saya bisikin. Klotok adalah sebutan untuk kapal kayu yang menjadi moda transportasi di Kalimantan.

Ya. Kalimantan yang memiliki segudang sungai, memaksa penduduknya untuk hidup tak jauh dari air. Ingat kan, pasar terapung yang jadi salah satu scene yang memorable di tvc tv swasta. Selain pasar terapung, ada juga bamboo rafting mengarungi derasnya sungai Amandit. Jadi, sungai jadi hal yang tak terpisahkan dari hidup orang Kalimantan.

Well, balik lagi membahas klotok yang jadi moda transportasi, khususnya transportasi untuk menjelajahi Taman Nasional Tanjung Puting, taman konservasi orangutan terbesar di dunia. Wuihhh…terdengar seru kan. Cerita tentang Taman Nasional Tanjung Puting saya simpan dulu yaaa. Sekarang saya akan cerita serunya menikmati hidup di atas klotok.

Klotok yang saya dan 3 sahabat saya tumpangi berukuran cukup besar. Terdiri dari 2 lantai, klotok ini muat hingga 8 orang. ABK yang terdiri dari kapten kapal, 2 orang asisten kapten, juru masak dan tour guide, ada di lantai 2. Kamar mandi bershower dan wc duduk pun ada di lantai 2. Juga dapur tempat menyiapkan makanan ada di lantai ini.

Area kami, para pengunjung TN Tanjung Puting ada di lantai 1. Saat siang, area tengah (bagian terluas di lantai 1) menjadi tempat makan. Ada 2 meja knock down dengan 6 kursi yang dipasang. Saat malam, meja akan dilipat lalu abk akan menggelar kasur dan memasang kelambu agar tidur kami nyaman tanpa diganggu nyamuk. Di anjungan kapal kami perlakukan sebagai teras. Di area ini terdapat 2 papan yang dipasang menjadi kursi. Kawan saya membawa tikar kecil yang digelar sebagai piranti piknik saat kami sedang tidak trekking masuk hutan.

Hmm…masih ada buritan yang lebih luas dibanding teras depan. Ada 3 papan kayu sebagai kursi. Area belakang juga menjadi tempat menyimpan tong air ukuran besar. ABK membawa air bersih untuk urusan mck kami. Semua sudah disediakan untuk membuat kami kerasan hidup di atas klotok.

************

Angin berhembus dingin. Saya duduk di kursi, merapatkan pashmina. Cuaca di Tanjung Puting memang ajaib. Cuaca cepat berubah. Hujan 10 menit, disambung panas menyengat dan langit biru cerah. Begitu terus bergantian. Mas Husni, tour guide kami yang asli Jogja bercerita, ‘Di sini tingkat kelembabannya sangat tinggi. Jadi walau tak panas, tapi badan bisa kuyup berkeringat.’

Saya yang beruang madu tentu saja yang paling terkena dampaknya. Jika klotok tidak berjalan, maka saya akan kuyup bersimbah keringat.

Dari atas klotok, saya menikmati hutan yang sesungguhnya. The real jungle, from the heart of Borneo. Wuihhh..keren betul!

Kami menyusuri deretan pohon nipah, lalu menyaksikan saat air berbelah 2 jadi berwarna coklat dan hitam. Sungai Sekonyer memang berair hitam pekat yang berasal dari akar-akar tumbuhan. Walau hitam, tapi airnya bening. Rasanya ingin nyemplung saja. Niat yang buru-buru dicegah oleh Mas Husni sembari berkata ‘Jangan…banyak buaya!.’ Haduhhh…untunglah saya ini tidak senekat anak alay…karena beberapa menit setelahnya, saya melihat buaya beneran sedang bengong di atas kayu. *usapdada *ngucapHamdalah

Selain buaya, kami juga terhibur oleh tingkah owa, monyet dan bekantan yang jumlahnya cukup sporadis. Mereka bergerombol sambil ramai, entah bergosip apa. Kadang burung bangau putih melintas, kadang burung berbulu biru cerah terbang rendah tak jauh dari air sungai. Tapi yang pasti kami hampir selalu diserbu kupu-kupu. Ohhhh…jumlahnya buanyakkkkk betul. Ada yg hitam totol putih, kuning gonjreng, ungu..dalam berbagai ukuran.

Saking banyaknya hal baru yang ada di depan mata, sebagai anak kota yang tinggal 3 hari di klotok kami tak sempat bergosip para mantan. Benar-benar liburan yang positif. Bahkan kami tak sempat bermain chapsa atau membaca buku. Waktu kami di atas klotok habis untuk mengagumi kabut yang menyelimuti pucuk-pucuk daun dan bergerak tipis menjauh dari aliran sungai hitam. Kami kagum dengan suara-suara rimba yang terasa nyaman di telinga, kami sibuk saling sapa dengan klotok tetangga (yang jumlahnya dikiitt banget), dan dimalam hari kami sibuk bernyanyi ‘we wish you merry xmas’ saat kunang-kunang berkelip-kedip membungkus pohon-pohon besar yang membuatnya bagaikan pohon natal.

Lalu di malam selanjutnya, malam pergantian tahun, selepas makan malam kami duduk di teras klotok. Kami berbaring beralas bantal empuk. Kami menengadah dan mendapati langit Tanjung Puting berhiaskan bintang-bintang yang ga karuan banyaknya. Tak salah jika salah satu web menyebut Tanjung Puting sebagai the most remarkable view of the Milky Way. Benar-benar sensasional. Baru kali ini kami menyaksikan bintang jatuh…berkali-kali.

*****************

Note:
Tips agar hidup di klotok tetap nyaman
– bawalah pakaian berbahan tipis & menyerap keringat
– bawa cemilan. kemarin kami bawa kripik singkong, kopi, nastar, kaastengel sampaiii…abon sapi!
– bawa lotion anti nyamuk
– bawa buku bacaan…kartu, dan benda2 anti bosan. apalagi kalau bawa anak kecil. selama perjalanan, signal sangat minim, jadi alat-alat anti bosan akan sangat membantu
– upload musik-musik terkini
– persediaan air tawar terbatas, hemat air mandi

 

Peta Taman Nasional Tanjung Puting yang akan dilewati oleh klotok
Peta Taman Nasional Tanjung Puting yang akan dilewati oleh klotok
klotok tetangga bersandar di tanjung harapan.
klotok tetangga bersandar di tanjung harapan.
klotok lantai 2. tempat kami makan dan tidur
klotok lantai 2. tempat kami makan dan tidur
gelar tikar, aduk kopi...nikmati Sekonyer dari anjungan klotok
gelar tikar, aduk kopi…nikmati Sekonyer dari anjungan klotok. taken by peggy
duduk-duduk asoy nonkrongin buaya (darat) ;p
duduk-duduk asoy nonkrongin buaya (darat) ;p
asupan penuh gizi dari dapur klotok
asupan penuh gizi dari dapur klotok >> orek tempe, cumi asem manis dll
menjemput malam
menjemput malam
pagi yang berkabut
pagi yang berkabut
leyeh2 dulu dalam kelambu
leyeh2 dulu dalam kelambu. taken by dhora
ngintip klotok tetangga
ngintip klotok tetangga
nginep di mana · oleh-oleh jalan-jalan · personal

Asiknya ngadem di EloProgo Art House – Borobudur

Hawa dingin membangunkan saya di jam 6 pagi. Saya berdiri memandang hamparan hijau di seberang sungai EloProgo yang arusnya menggelegak, memanjakan kuping 24 jam nonstop. Kabut tipis perlahan naik. Entah mengapa ada ‘rasa nyaman’ yang menggelitik hati. 

*******

Saya menghabiskan 2 malam di Elo Progo Art House setelah menjalani hari-hari hectic menyiapkan sebuah konser musik.

Memutuskan untuk beristirahat di kawasan Borobudur memang dengan beragam alasan. Kangen Jogja adalah salah satunya. Tapi kalo harus ‘ngadem’ di Jogja pun rasanya mustahil. Kota kesayanganan ini, terasa makin riuh saja. Maka mlipir Borobudur adalah keputusan yang bijak.

Sejak pertama membaca nama EloProgo Art House di salah satu situs pencari hotel/penginapan, saya langsung tertarik. Dari namanya, saya membayangkan bakal menginap di tepi sungai di bangunan yang didesain dengan unik. Apa yang saya bayangkan dikuatkan dengan foto-foto yang ada di situs tersebut. Bangunan-bangunan unik dengan hamparan rumput yang luas..dan…aliran sungai Elo dan sungai Progo yang deras.

Dan, ketika akhirnya saya menjejakkan kaki di EloProgo Art House, semua persis seperti apa yang saya bayangkan.

********

Saya disambut Bang Sony dan Ulis. Bang Sony adalah seniman sekaligus pemilik EloProgo Art House dan Ulis adalah keponakan Bang Sony sekaligus manager operasional EloProgo Art House. Mereka menyambut ramah dan memberi saya kejutan dengan meng-upgrade kamar yang sudah saya pesan.

‘Kamu pakai kamar ini yaa, Bang Sony worry kamu ketakutan kalo kamu pakai kamar yang di belakang’, begitu kata Ulis.

Bang Sony menambahkan ‘Jarang ada orang lokal menginap di sini. Komentar mereka sih tempat ini seram. Dan memang 98% tamu EloProgo adalah tamu luar’.

Saya hanya angguk-angguk dengan sibuk mereka-reka, hmmm…di sudut mana enaknya saya selfie! *ditabok

Selanjutnya, Ulis membawa saya berkeliling EloProgo.

Kami menyusuri jalan setapak menuju area belakang EloProgo, melintasi kebun sayur kecil yang berujung bagian bungalow dan pondokan kecil yang sedianya menjadi tempat saya menginap.

Bangunan yang didominasi oleh unsur kayu ini memagari area rumput yang luas. Di sana-sini terdapat patung dan batu dalam beragam ukuran. Kesan rustic sangat terasa. Kayu dibiarkan tanpa polesan, semua tampak alami. Di bagian tengah terdapat ‘panggung’ permanen yang biasanya digunakan untuk pertunjukkan seni atau yoga.

Ulis lalu mengajak saya ke galeri tempat Bang Sony memajang hasil karyanya.

Galeri Elo Progo berupa rumah yang memanjang. Walau tampak sederhana, galeri Elo Progo didesain dengan baik. Tampak sekali dipikirkan dari arah mana sinar matahari masuk, menjadi penerang alami yang memperkuat pesan dari beberapa hasil karya lukisan. Sebagian besar lukisan yang dipajang bertema Candi Borobudur. Ide lukisannya diambil dari beberapa relief yang ada di Candi Borobudur. Satu spot yang menjadi favorit saya adalah lukisan Jesus yang diletakkan di bawah genteng transparan. Penataan ini membuat Jesus yang bermandikan matahari tampak sangat benderang di siang hari

Selepas area galeri, kami sampai di bagian terakhir EloProgo Art House. Halaman berumput luas dengan beberapa pohon besar sebagai pelindung dari panas matahari.

‘Akhir Oktober lalu, Ratu Denmark datang berkunjung, beliau menghabiskan tea time di sini sambil menikmati aliran Sungai Progo dan Sungai Elo di sini’, Ulis bercerita. Saya mangut-mangut sambil membayangkan Ratu Denmark dan pasukannya menikmati secangkir teh berteman alunan arus Progo dan Elo yang bertemu dan membuat delta sungai tepat di depan saya berdiri, di ujung belakang Elo Progo Art House.

*******

Elo Progo Art House
Desa Bejen, Wanurejo, Borobudur
Magelang, Jawa Tengah

Telp +62 812 2626 4875

salah satu area duduk-duduk di tepi sungai Elo Progo
salah satu area duduk-duduk di tepi sungai Elo Progo

saat Waisak tiba dan pengunjung Borobudur membludak, area ini dijadikan area camping
saat Waisak tiba dan pengunjung Borobudur membludak, area ini dijadikan area camping

 

betah duduk-duduk di sini
betah duduk-duduk di sini

 

 

rumah panggung tempat Bang Sony dan keluarganya tinggal
rumah panggung tempat Bang Sony dan keluarganya tinggal

 

tea time with river view
tea time with river view

 

bangun tidur disambut kabut
bangun tidur disambut kabut

 

ademmmm
ademmmm

 

life is good
life is good

 

Bang Sony, owner EloProgo
Bang Sony, owner EloProgo

 

galeri seni bang Sony...puanjang!
galeri seni bang Sony…puanjang!

 

Jesus bermandikan cahaya
Jesus bermandikan cahaya

 

salah satu koleksi EloPRogo Art House
salah satu koleksi EloPRogo Art House

 

jika cuaca cerah, di sana tampak gn Sumbing
jika cuaca cerah, di sana tampak gn Sumbing
oleh-oleh jalan-jalan · urban project

Melek semalaman di Bandung

Setelah 4 tahun absen menjejak bumi Parahyangan, bulan lalu meluangkan waktu sesaat untuk mampir dan main di Bandung.

Ke Bandung kali ini dengan tujuan utama menghadiri undangan ulang tahun dari client kesayangan. Ulang tahun ke-50 mengundang beberapa sahabat yang terdiri dari teman kerja, agency yang akhirnya jadi teman ini itu, dan keluarga dekat. Pesta ultah yang hangat…dan kenyang!

Selepas pesta, saya mulai menyusun rencana-mau ngapain aja selama 24 jam ke depan…

Untunglah saya ditemani 2 sahabat yang mengerti Bandung dan mereka telah berjanji untuk menemani kemanapun saya ingin pergi. Sik asik!

Kak, lu musti kuat melek kalo pengen foto di tempat-tempat yang lagi heits di Bandung’, begitu Peggy mewanti-wanti saya.

Saya setuju-setuju saja. Bandung memang sedang bersolek, beberapa spot andalannya benar-benar instagram-able.

Maka, selepas maghrib, kami mengisi perut di Bancakan, lalu mampir di Cultivar Coffee House, sebuah coffee shop (yang katanya) milik salah satu artis hits Jakarta yang sedang jadi top list tempat gaul pemuda-pemudi Bandung.

Setelahnya, kami menurunkan isi perut dengan menikmati Braga yang riuh di malam minggu. Jalan legendaris Bandung itu kini makin cantik. Kursi-kursi taman dipasang sepanjang trotoar. Cafe dan resto pun kian menjamur dengan live music, menghibur pengunjung Braga.

Di sepanjang Braga, setiap jengkalnya cantik untuk dijadikan background foto. Jika kaki merasa lelah, duduk saja di kursi-kursi peristirahatan yang ada di sepanjang jalan. Sembari beristirahat, tak akan menjadi dosa jika Anda satu-dua pose lalu unggah akun socmed. Sah, Anda adalah salah satu anak gaul terkini.

Selepas Braga, kami bergegas menuju Lawangwangi Art Space di Dago Giri. Memasuki area parkir, hawa dingin menyergap. Lawangwangi memang berada di ketinggian, membuat angin gunung terasa lebih kencang.

Lawangwangi sangat ramai malam itu. Sayup-sayup terdengar musik gamelan Sunda mengalun. Muda-mudi Bandung seperti tumpah memenuhi area art space, cafe, dan terutama di jembatan yang menjadi icon Lawangwangi. Sayang saya datang terlalu malam membuat saya tak dapat mengeksplore lebih jauh artspace yang cantik ini.

Tak lama di Lawangwangi, kami memutuskan untuk turun (lagi) ke kawasan kota Bandung. Kali ini kami menuju Upnormal, sebuah kedai indomie masa kini. Mengapa masa kini? Lebih dari sekedar menyajikan menu-menu inovatif dengan bahan baku indomie, jam buka Upnormal pun lain dari kedai indomie pada umumnya. Dibuka jam 4 sore hingga jam 6 pagi, Upnormal benar-benar kedai yang istimewa.

Jam sudah ada di angka 12 ketika saya memesan indomie rasa pedas membara, Eno memesan pancake berlapis 3 dan Peggy memesan roti bakar selai srikaya. Wuihhhh…perut penuh di jam-jam sadis!

Setelah selesai urusan Upnormal, saya dan Peggy mengantar Eno kembali ke penginapan. Eno yang tak tahan ngantuk memutuskan untuk tidak mengikuti kami yang sudah bertekad untuk melek semalam suntuk di Bandung.

Akhirnya, apa yang saya tunggu sejak sore datang juga. Saya dan Peggy ada di alun-alun Bandung yang berkarpet rumput. Karena kami datang di jam dini hari, maka tak tampak luapan pengunjung seperti saat siang, sore dan malam hari. Beberapa remaja lelaki main bola dengan semangat, beberapa lainnya asik gegoleran menunggu subuh tiba. Saya dan Peggy? Kami asik selfie dengan background masjid agung Bandung.

Saya dan Peggy ikutan antri juga untuk berfoto di spot-spot andalan kota Bandung. 2 tembok bertuliskan penggalan puisi Pidi Baiq adalah salah satu spot terlaris. Kami benar-benar mengantri untuk foto di spot ini.

Selebihnya, kami berjalan menyusuri jalan Asia Africa yang sempat kondang saat Konferensi Asia Afrika berlangsung di Bandung beberapa saat lalu. Sisa-sisa kemeriahannya masih ada. Saya bertemu jajaran bendera peserta KAA, mannequin kepala negara peserta KAA dengan bonus mannequin Jokowi dan Kang Emil.

Begitulah. Menjelang subuh nan kudus di sepanjang jalan Asia Afrika bandung, saya dan Peggy begitu sibuk mengcapture ini dan itu. Bangunan-bangunan tua yang cantik, suasana yang lengang menyempurnakan momen menikmati Bandung semalam suntuk.

Oahmmmm…ngantuk. Udah ah!

secangkir cappuccino di Cultivar
secangkir cappuccino di Cultivar
menikmati Braga berteman pengamen jalanan
menikmati Braga berteman pengamen jalanan
eno dan peggy
eno dan peggy
salah satu cafe yang cantik di dago pakar
salah satu cafe yang cantik di dago pakar
bangunan kuno selalu menarik untuk diabadikan
bangunan kuno selalu menarik untuk diabadikan
tulisan Pidi Baiq diabadikan di sini
tulisan Pidi Baiq diabadikan di sini
tembok di seberang
tembok di seberang
makan di mana · oleh-oleh jalan-jalan

Kenyang-Kenyang Senang di Lombok

Jika ditanya, apa yang membuat saya kembali (dan kembali lagi) ke Lombok? Selain pantai-pantainya yang zupahkewl, tentu saja karena makanannya yang enak. Apalagi saya menyukai masakan pedas, dimana Lombok adalah salah satu surganya.

Siapa yang tak kenal ayam taliwang yang selalu bersanding dengan plecing kangkung? Siapa yang berani protes, mengapa ayam yang pedas selalu datang dengan kangkung yang berlimpah sambal pedas? Pendeknya, masakan pedas (ternyata) bukan monopoli milik masakan Manado. Lombok pun, sesuai namanya, sama.

Tapi, apakah Lombok hanya tentang ayam taliwang, plecing kangkung dan beberok terong? Ooohh…tentu tidak!

Pada perkenalan pertama beberapa tahun lalu, saya sudah mencicip Sate Rembige yang manis pedas-nya susah untuk dilupakan. Sate sapi dengan bumbu minimalis, cocok disantap dengan lontong berbungkus segitiga dan krupuk yang renyah. Sate Rembige tak pernah sepi pembeli, bukti kelezatannya memang djempolan.

Saya juga berkenalan dengan Nasi Puyung, semacam nasi rames dengan suwiran ayam pedas dan kacang kedelai renyah, yang bisa dijumpai kapan saja rasa lapar menyerang.

Nah, saat berkunjung ke Lombok kemarin, kembali lidah saya dijamu dengan ragam kuliner lezat yang ada di Lombok. Tak melulu kuliner tradisional, tapi apapun yang lezat dan jarang disebut-karena bukan sajian khas Lombok-pun kami datangi dan cicipi. Saya harus berterima kasih kepada Fian dan Adam, dua sahabat yang mengajak saya dan sahabat-sabahat mencicip kelezatan kuliner selma di Lombok.

Yok kita sebut satu per satu…

1. NASI EBETAN

nasi ebetan for happy tummy
nasi ebetan for happy tummy

Pagi sebelum kami menjelajah Lombok Timur, Fian mengajak sarapan dengan menu Nasi Ebetan.

Ebetan adalah semacam urap yang terdiri dari daun turi, kacang panjang dan terong bulat….yang diurap dengan parutan kelapa bumbu pedas. Sebagai pendamping, ada daging suwir, ayam goreng, tumis paria, beberok terong juga sayur lebui yang berkuah pekat. Lengkap, lezat dan sehat.

Melihat porsi yang cukup besar sebagai menu sarapan, rasanya mustahil kami bisa menghabiskannya. Tapi apa daya….pada kenyataannya, piring kami kosong hanya dalam beberapa menit saja. Glek!

2. SATE IKAN PASAR TANJUNG

simply yummy!
simply yummy!
siap dibakar
siap dibakar

Pada hari terakhir di Lombok, Adam mengajak kami khusus untuk tur kuliner. Pemberhentian pertama kami ada di parkiran pasar Tanjung, tempat gerobak sate ikan langganan Adam menjajakan jualannya.

Sate ikan pada dasarnya adalah daging ikan tongkol yang ditusuk, lalu dicelup santan pedas yang kental. Sate kemudian dibakar hingga matang. Santan yang dibakar menimbulkan rasa pedas gurih yang legit.

Cara penyajiannya pun sangat simpel. Sate ikan hanya disajikan dengan potongan cabe rawit dan setengah potong jeruk nipis. Duuhhhh….ini lejaaaaatttttt sekali, pemirsaaaa!!!!

Harganyapun sangat bersahabat, hanya Rp. 10 ribu saja!

3. SOP BUNTUT ISTANA RASA

sop buntut juara dunia
sop buntut juara dunia
perut kenyang hati senang
perut kenyang hati senang

Selepas mencicip sate ikan, Adam mengajak kami untuk makan siang di Istana Rasa. Seperti biasa, asalkan itu ajakan makan…kami tak akan protes atau cerewet bertanya-tanya. Hayok waeeeee!

Istana Rasa adalah sebuah warung makan yang terletak di daerah Cakra. Ada banyak menu yang ditawarkan, tapi Adam berkeras untuk memesan 1menu yang sama….SOP BUNTUT. Saya yang tergoda menu lidah pun akhirnya menuruti apa pilihan Adam.

Tak berapa lama 6 mangkok sop buntut  pun terhidang. Hati saya berdesir melihatnya. Tampak glek dari pandangan pertama.

Sop Buntut ala Istana Rasa memang istimewa. Sangat simpel, hanya berisi 3 potongan buntut ukuran besar dengan daging buntut yang lumer di mulut, dilengkapi dengan potongan daun bawang. Kuahnya yang berwarna gelap terasa sangat legit. Tak ada potongan wortel atau kentang. Mantappppp!

Selama makan, tak banyak obrolan yang terucap. Kami sungguh asik dengan apa yang ada di hadapan….semangkuk Sop Buntut Istana Rasa yang sungguh istimewa!

4. EGG TART COFFEE CITO
Adam juga mengenalkan kami pada toko kue yang sepertinya cukup lejen di Mataram. Namanya Coffee Cito.

Coffee Cito terletak di JL Niaga, Ampenan, Lombok. Sesuai dengan namanya, lokasinya memang terletak di kawasan perniagaan. Dekat dengan pasar Tanjung dan merupakan area Pecinan.

Favorit di Coffee Cito adalah egg tart home made nya yang soooo yummy. Sekilas, bentukan egg tart sungguh mirip dengan pie susu. Yang membedakan adalah filling nya. Jika pie susu, filling nya adalah susu dan telur, maka filling egg tart berupa fresh cream dan telur. Slrrpppp…

Sayang sekali, saya tak sempat mendokumentasikan egg tart Coffee Cito karena keburu abis tak berbekas…*hiks

Begitulah hasil blusukan kuliner di Lombok kemarin. Kurang banyak ya? Ntar deh kalo saya balik lagi ke Lombok, dilengkapin lagi list nya. Sementara, saya mau menahan rindu ngemil egg tart Coffee Cito yang auk ahhhh, kok terbayang-bayang di mata gini jadinya….hiks!

note:
Special thanks to Fian dan Adam, 2 cowok andalan yang kenal Lombok luar dan dalam!

Berikut beberapa foto makanan lainnya yang kami santap selama di Lombok

seperangkat seafood dibayar tunai!
seperangkat seafood dibayar tunai!
ikan bakar ukuran kenyang
ikan bakar ukuran kenyang
standar bahagia di Lombok...ayam taliwang dan plecing kangkung
standar bahagia di Lombok…ayam taliwang dan plecing kangkung