learn from other · my thought · personal · Uncategorized

reviewing my life

kemarin saya dihadapkan oleh kejadian yang membuat saya merasa insecure. saya mengingat banyak hal; tentang karir, keluarga, hubungan yang ga pernah jelas arah mata anginnya, pertemanan. semua.

setelah me-review 10 tahun perjalanan terakhir, berujung pada banyak sekali ketidakpuasan dan pertanyaan yang tak bisa saya jawab. bukan karena tidak tahu jawabnya, tapi saya benar-benar takut pada kenyataan hidup bahwa selama ini saya memang agak salah jalan. saya tahu saya salah jalan, tapi saya diam dan hanyut makin dalam. i hate myself for being so damn stupid, stubborn and atulah…ngepet!

hari ini saya ada di titik di mana saya harus mengambil sebuah keputusan besar. dimana keputusan yang saya ambil memberi dampak pada kehidupan saya seluruhnya. saya merasa lemah, lalu merasa butuh pertolongan. ketika orang-orang yang anggap bisa menolong ternyata tidak sesuai harapan, saya jadi gemas-gemas beringas. itu baru satu hal.

di saat genting seperti ini, saya ingin sekali fokus bekerja, tidak mendengar kabar sumir, tidak melihat hal-hal yang tidak ingin saya lihat. ketika inipun gagal…saya bertambah emosi. yawlaaaa…saya beneran kesel sampai ke ubun-ubun.

lalu hari ini saya ngobrol banyak dengan sahabat saya. dimana kami saling nyampah, bercerita apa saja.

saya bercerita tentang kegamangan yang sedang saya alami. diapun mengeluarkan semua keruwetan hidup yang sedang dijalani. mendengar dia bercerita, saya nangis. saya merasa Tuhan menjawab semua pertanyaan yang tak bisa dan tak berani saya jawab sendiri. sekali lagi, God is always Great! Tuhan menjawab semua kegamangan  lewat sahabat saya.

sepanjang kami ngobrol, sahabat saya terus-terusan ngingetin bahwa kami memang terlahir sebagai pejuang yang teruji di medan laga. sahabat saya ‘membesarkan hati’ bahwa saya pasti bisa melewati ini semua. pasti bisa karena saya sudah teruji di medan-medan pelik di hari-hari kemarin. tak perlu memikirkan yang tak penting. prioritaskan apa dan siapa saja yang memrioritaskan kita. bahwa berbuat bodoh adalah manusiawi…terima saja and take a good learnt from our lesson.

betapa Tuhan memang maha pembuat skenario. jika kemarin Ia membuat saya bertanya dan mempertanyakan banyak hal, hari ini Ia memberi saya jawaban. Clear and bold!

so, keep on fighting..dear me!

 

Advertisements
my thought · personal

jangan (cepat) menyerah

malam ini saya menghabiskan 2 cangkir kopi pahit demi membahas hal-hal yang pahit dalam hidup. *duh

baiklah.

diumur yang menjelang 40 *bookkk…, kisah hidup terasa semakin lucu.

tetangga kanan kiri sudah bersarang dan membangun hidup baru. banyak cerita bahagia menguar. tak sedikit juga cerita sedih terdengar.

si A baru saja memutuskan mengadopsi anak setelah gagal program bayi tabung. si B memutuskan pisah rumah karena jika bersama, hidup dua hati akan makin susah. si C sedang iri melihat teman-temannya yang tampak bahagia dan dia tidak. si D sedang berkeras hati untuk berpisah.

ah, hidup.

dalam sepenggal waktu minum kopi malam ini, saya sempat menggumam, ‘mengapa orang terlalu cepat menyerah, padahal untuk bersama butuh usaha, untuk bersatu rasanya harus menaklukkan jalan berliku’.

duh, saya terjebak jadi tukang tuduh! 😦

siapa tahu mereka yang kini sedang ingin berpisah sudah melalui keluh resah gundah yang tak sudah-sudah. siapa tahu mereka yang kini sedang ingin sendiri sudah melewati hari hiruk pikuk yang melelahkan, hingga mereka begitu rindu pada sunyi sepi. mereka rindu (untuk) sendiri.

*********

paham bahwa hidup bisa demikian rapuh, saya ingin mengingatkan diri sendiri, untuk tidak (mudah) menyerah dengan apapun yang membuat hati (saya) gundah. untuk tidak mudah menyerah walau rasanya ingin. walau suara-suara ajaib seringkali berkata ‘sudah!’

 

jika rasanya duniamu akan runtuh, semoga Tuhan hadir dalam ingatan-ingatan saat duniamu terasa biru. semoga Tuhan hadir dalam tarikan nafas yang membawa harapan.

jika rasanya kau tersudut di jalan yang buntu, jangan ragu untuk berbalik arah. saya yakin saat kau berjalan, ada Tuhan di sana. ada Semesta yang mendukung. ya, Semesta selalu mendukung…kalau Ia (kadang) terasa menikung…Ia hanya ingin menguji sebentar. selalu ingat, susahmu datang diapit dua kemudahan. jadi, jangan terlalu kalut dan larut.

saya tahu dan paham benar, ada kala hati terasa berat. rasanya, bernapaspun satu-satu. jika kau sedang merasa begitu, pejamkan matamu dan berusahalah untuk tenang. aturlah napas, karena ada Tuhanmu di situ. di udara yang kau hirup dan memenuhi rongga dadamu.

***************

ingat, jangan (mudah) menyerah. karana kita (aku dan kamu) ditakdirkan untuk berjuang. berusaha sebaik kita bisa. dan yakinlah kita (memang) bisa (pada akhirnya).

***************

me time · oleh-oleh jalan-jalan · personal

Lebaran bersama Agan

Lebaran tahun ini saya tidak pulang. Alasannya? Tentu karena ibu dan mamak sudah tak ada. Rasanya saya nggak siap untuk menikmati sepi di rumah sendiri. Pedih, kak!

Jadilah lebaran kali ini jadi lebaran yang paling santai selama saya jadi imigran gelap ibukota.

Saya tidak begadang rebutan tiket mudik. Nggak blusukan Tanabang. Ngga nuker-nuker duit (tapi teteph transfer sana sini sik ;p)..dan nggak-nggak yang lain. Beneran woles.

Lebaran hari pertama, saya shalat di dekat rumah, lalu ngacir ke rumah kakak ke-2 untuk salam-salaman dan makan opor. Ga pake lama karena jam 10 pagi saya sdh sampai Pejaten lalu nonton tv dan bobok siang. Nonton tv dan bobok siang kemudian diulang dilebaran ke dua, plus saya nge-mall demi menghindari santan.

Bangun pagi di lebaran ke-tiga, Agan mengirim pesan..bertanya apakah saya ingin menepi ke rumah gunung. Saya menolak. Entah darimana ceritanya, tiba-tiba saya dan Agan bersepakat untuk pergi ke Lombok. Agan sudah punya tiket, saya belum. Maka, segera saya cek website tiket online dan segera membeli tiket untuk penerbangan jam 18.30. Well…saya harus segera berkemas.

Agan yang terbang jam 3.30 tentu saja lebih dulu sampai. Dia menunggu saya landing nyaris 3 jam setelahnya. Ketika saya turun dari lantai 2 bandara, saya melihatnya duduk persis di dekat eskalator. Kami bertukar senyum lebar. Lalu saling minta maaf…dengan agak-agak dramatis. yah, hidup tanpa drama pasti akan terasa datar saja kan…

Dari bandara, kami menuju rumah Fian untuk menunggu pagi dan bisa berpikir jernih tentang ‘mau kemana sih kita?’ kami memang pergi tanpa rencana. Terserah hati dan kaki saja.

Maka, ketika pagi hari Agan mengajak untuk bablas ke Maluk, saya langsung oke saja. Saya janji akan jadi anak manis..no rewel..no protest..

Mungkin karena saya berjanji akan jadi anak manis…maka Agan juga jadi anak manis (banget). hahahha…duh, saya harus akui ini…biasanya he’s the reseh and nyebelin and nyiyir to the maxx…tapi kemaren Agan berubah jadi malaikat. Selama nyaris seminggu hidup bareng, kami bahkan ga sempet berantem. Ini PRESTASI yang membanggakan!

Jadi, ngapain aja selama kami di Maluk?

                                                              lebaran di seberang
  1. Piknik dari pagi sampai menjelang sore dimana tiap pagi Agan belanja cemilan dan ransum makan minum. Seperti biasa, saya bangun siang, cuci muka dan cuss…duduk bonceng motor menuju spot-spot pantai
  2. Berenang
  3. Saling foto dan record some moments to remember *uhuk…sebenernya Agan si yang lebih rajin…dia kan lebih narsis…;p
  4. Baca buku *salah bawa buku..ketebelan jd ga kelar-kelar
  5. Dengerin musik dari playlist Agan. Selera musik kami kebetulan sama
  6. Tidur siang
  7. Pulang…mandi dan nerusin tidur siang..
  8. Bangun sore…lapar…makan (lagi)
  9. Malam makan lagi
  10. diulang berhari-hari

Diantaranya…kami sempat piknik sama penduduk sekitar dan makan siang bareng mereka. Diantaranya kami berburu sunset sampai ke Nomad Cafe…demi mengabulkan permintaan saya nyari yang dingin-dingin menyegarkan.

Kami juga sempat melihat-lihat celah untuk mewujudkan impian rumah pantai…YaTUHANNNN…saya deg-deg-an…hvft!

_____________________

Note:
– Seminggu hidup enak bareng Agan berakibat fatal. Saya menderita  ga bisa mikir ga bisa kerja berkepanjangan.
– Teluk Maluk ada di Kabupaten Sumbawa Barat. Pantainya banyak, semua cakep, mostly ga pake ombak goyang dombret, jd aman sentosa buat berenang syantiekk.
– Bagaimana cara ke Maluk?
a. Pesawat Jkt – Lombok = sekitar 700rb harga normal
b. damri dr bandara lombok ke kota mataram = 25rb
c. travel (inova) dari mataram ke pelabuhan kayangan = 50rb
d. speed boat dari kayangan ke benete = 135rb
sampai deh di Maluk….

Gampang kan?! #AyoKeMaluk

 

 

Continue reading “Lebaran bersama Agan”

personal

long day today

jam 3.01

saya masih di kemang. berhadapan dengan 4 deadline sekaligus. 4 deadline yang nyaris sama tp beda. beda target, beda gaya, satu yang sama: bikin saya pusing kepala

jam 3.02

beberapa hari terakhir, saya benar-benar dilanda bosan. saya pengen punya waktu lebih untuk diri sendiri. sekarang, mana mungkin saya hidup jauh dari hp…client-client setia menghubungi, bertanya dan menagih janji deadline yang harus saya penuhi. lagi-lagi deadline. deadline lagi lagi!

long wiken kemarin saya menghabiskan waktu bersama agan.

saya memasak sebentar, lalu kami makan dan sesuai rencana…saya…bekerja! *hih

saya menyelesaikan sebuah proposal, saat agan sibuk mencuci baju. dari spot tempat saya bekerja, saya memperhatikan agan. ia asik memasukkan detergent, memasukkan baju-baju kotor. lalu memencet tombol mesin cuci. menunggu saat proses mencuci berjalan, lalu mengeluarkan baju-baju saat proses usai. proses mencuci, agan ulangi berkali-kali. agan memang baru pulang dari site, baju kotor pasti menumpuk

sembari menyelesaikan proposal, saya mengingat…kapan terakhir saya mencuci baju *bigGrin

‘aku kangen nyuci baju deh, keknya terakhir nyuci…sekitar 8 th lalu’, saya membuat pengakuan, dalam obrolan lewat ponsel di kemang-thamrin.

iya. saya yang dasarnya pemalas, memang jauh dari pekerjaan rumah tangga (kecuali memasak). badan saya terlalu letih untuk nyuci, nyetrika dan sebangsanya. dan…perlu diakui bahwa saya kangen.

saya kangen berbasah-basah kena busa sabun cuci, menjemur, melipat pakaian lalu menyetrika. saya juga kangen menyiram tanaman. yaampun…saya menyimpan jiwa mbok inem, ternyata! :))

jadi, jika nasib membawa saya pensiun dini, saya pengen menceburkan diri pada aktivitas cuci-cuci. merendam pakaian, kucek dikit, bilas dan merendam dengan pewangi. saya perhatikan, agan menikmati proses ini. di sela-sela waktu menunggu mesin berhenti berputar, dia bahkan bisa pulas di pojokan!

saya rindu hidup wajar. bangun pagi, kerja sewajarnya, tidur siang, membaca, doing things that i love, ga terburu-buru melakukan ini itu.

3.17

masih ada 2 deadline yang terpampang nyata. entah akan selesai jam berapa. how i miss my messy room…

 

 

personal

enjoy the ride, dear

itu kalimat yang saya ketik, ketika saya tidak tahu lagi musti bilang apa pada salah satu sahabat saya.

hidupnya sedang sangat menantang.

untuk seorang yang sangat menjaga kualitas kesehatan, divonis sakit dan musti menjalani treatment yang berat, pasti tidak mudah. galau sudah pasti. stress mudah menghampiri.

tapi, sekali lagi…hidup memang hanya untuk para pemberani. untuk mereka yang punya nyali.

saya tahu pasti, sahabat saya tak punya alasan untuk takut. selain keberanian, dia hanya butuh sedikit kecerdasan dan kecepatan bertindak. itu sudah cukup.

sisanya, cukup tersenyum karena Sang Maha Pemilik yang akan menyelesaikan semua.

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS  Al-Insyirah: 5-6).

keep the fight, keep the faith.

 

learn from other · personal

cerita tukang kayu

16 Oktober kemarin, isirumahku berusia 3 bulan. kalo berwujud anak, isirumahku adalah bayi yang belum bisa apa-apa selain nangis, nenen dan tidur. paling banter belajar tengkurep atau mesem dikit saat mimpi ketemu bidadari.

isirumahku, anak kandung saya dan agan, yang kami lahirkan dengan kesadaran penuh. walau terkesan begitu tergesa, tapi kami, saya dan agan sudah kadung cinta. mau bilang apa.

seperti bayi 3bulan lainnya, isirumahku sukses bikin kami, orang tuanya, sibuk luar biasa. yang biasanya tidur on time, bisa nulis blog, sedikit nongkrong atau nonton…setelah punya anak isirumahku..waktu 24 jam terasa kurang. tidur pun kadang sambil mikir. saya tak sempat lagi ngariung breakfast club bareng remaja putri #bpm. agan pun tak sempat lagi olah raga (katanya). pendeknya hidup kami berubah.

saya ingat saat agan bertanya serius…‘ semalem tidur jam berapa kamu?’…pertanyaan yang rada mustahil dilayangkan pada saya yang sering bilang ‘aku molor duluan ya’ atau ‘aku udah bangun tp masih punya waktu sejam buat tidur lagi’ saat jam sudah di angka 8 pagi.

saat itu saya tidur jam 2 pagi dan di jam 4.30 sudah terbangun oleh tang ting tung di wa. oh well…urusan isirumahku bisa seserius ini. :p

saya dan agan tidak membayangkan isirumahku akan jadi hal yang bikin hidup kami makin sibuk. awalnya kami hanya ingin coba-coba aja. dapet pesanan syukur…nggak juga tak apa. santai saja.

tapi, siapa sangka jika tiba-tiba ada apartemen yang harus diisi ini itu…lalu ada rumah yang baru dibeli juga butuh diisi dengan perabot kayu. siapa sangka saya harus mringis kesel saat itung-itungan cash flow meleset angkanya..dan bikin agan misuh? lalu, siapa kira saya harus belajar kayu dengan sistem kebut semalam. dan bahkan tak hanya kayu…tapi juga cor-cor-an dapur, marmer, granite, lalu urusan harga kenop yang kecil tapi mahal. siapa pula saya, yang bego bgt soal gambar dan angka-angka…lalu musti memahami gambar perspektif, pola kitchen set, roda macam apa yang kuat menahan beban sekian kilo ..YAWLAAAAAAAAAAAAAA….IT’S BEYOND MY WORD!

segitu doank riweuhnya?

cencu tidak.

ada lagi urusan yang selalu sukses bikin saya sembelit. apalagi kalo bukan urusan tukang kayu, dari mulai cerita lucu, polos, ngeselin, sampai rasanya saya mati rasa dan cuma bisa nyengir saat hidup rada tergoncang karena drama tukang kayu.

begini kira2 dramanya…

drama 1, antara agan dan tukang kayu yang siap memasang kitchen set di rumah customer
agan: heh, mau kemana?
tk kayu: lho, katanya mau masang kitchen set
agan: kok masih pake sarung
tk kayu: apa ndak bole? *cuek bebek
agan: &*_#__$)*#*#
(lalu terbit surat perintah pake baju rapi saat ke rumah customer. surat perintah yang berasa segitunya amat….tapi HARUS dibuat saat itu juga!)

drama 2, antara saya dan tukang kayu, yang baca WA tapi yagitu deh sama info didalamnya
pesan di wa tertulis ‘mas, kirim barang ga jadi sabtu ya..minggu aja’ 
dan di WA ada tanda centang 2 warna biru yang artinya pesan sudah terbaca. lalu siapa yang tak jantungan saat tukang kayu menelpon di sabtu pagi dan mengabarkan dia sudah berangkat dari bengkel di depok menuju CIKUPA…dengan bersungut-sungut saya bangun..lalu saya dan agan terlibat ‘komunikasi intens *baca: komunikasi dgn nada tinggi’ dan terjadilah sabtu yang saya gadang-gadang jadi sabtu santai jadi sabtu yang sibookkk amattttttt…*hakdezz

masih buanyakkkk banget drama-drama tukang kayu yang lain. mulai dari keliru ukur, keliru beli barang, miss comm ini dan itu. huvt!

dalam masa-masa genting trimester pertama, masalah komunikasi menjadi barang berharga. betapa saya yang hidup di industri komunikasi, sering merasa gagal jadi komunikator yang baik.

ya begitulah. 3 bulan punya bayi isirumahku mengajarkan buanyaaaaaaakkkkk sekali.

lebih dari sekedar itung-itungan bisnis, tapi juga bagaimana mengendalikan emosi, menyimpan ego di tempat yang paling tersembunyi.

sudah tak terhitung agan bertanya ‘are you okay?’…saat saya mendengus kesal, saat saya tak mampu mengendalikan air muka atau saat saya begitu dodol, gagal paham tentang suatu bahasan yang terjadi dijam yang salah. siapalah yang mampu memikirkan urusan detail kayu saat mama macan juga mengejar deadline apalah apalah.

dari berbagai drama, ada banyak pula kantung-kantung bersyukur yang tumbuh subur.

menjadi orang tua bayi isirumahku membuat saya dan agan jadi jauuuuh lebih dewasa. kami tak lagi lari jika ada hal-hal menyebalkan yang datang menghampiri. semua masalah harus dicarikan SOLUSInya. semua harus diupayakan jalan keluarnya. sekesal apapun saya pada agan (dan sebaliknya) kami tak berbalik badan dan pergi. semasam apapun muka saya (dan agan) kami tak pernah lari. biasanya, kami akan duduk dan berdiskusi. mungkin ada nada-nada tinggi, tapi kami anggap itu manusiawi.

kami bersyukur kami punya teman-teman dan keluarga baru lewat isirumahku. kami belajar banyak hal baru, kami punya kesempatan untuk menjadi murid dan guru, di saat yang sama. dan yang paling penting, kami punya kesempatan untuk berbagi ilmu….berbagi rejeki, berbagi hal-hal baik.

isirumahku adalah jalan. adalah usaha kami menjadi manusia yang lebih baik. yang lebih pandai bersyukur. semoga Tuhan memberkahi kesabaran dan kemampuan.

 

 

 

personal

Selamat Dua Empat

 

Hai kamu…

Untuk kesekian kalinya, aku ucapkan selamat dua empat. Mungkin kamu bosan. Tapi aku tidak. Kamu harus bersabar untuk itu.

Dua empat kali ini rasanya beda. Buatku sih. Entah buatmu.

Mungkin kamu akan bilang aku berlebihan. Mungkin memang begitu. Tapi sebagai anak ikan yang hobby bikin segala sesuatu jadi special, hari lahir adalah koentji. Kamu harus tau itu. Dan (sayangnya) Kamu harus sabar (lagi) ya.

Dua empat kali ini, mungkin kamu belum sampai di ibukota. Mungkin juga sudah sih. Tapi itu tak penting. Karena yang paling penting adalah, di dua empat kali ini (aku yakin) ada banyak larik-larik doa untukmu. Dari kakak-kakakmu, keponakan-keponakanmu, dan tentu saja dari aku.

Hmm, pengen tahu apa doaku di dua empat kali ini?

Masih sama sih, seperti dua empat dua empat yang lalu-lalu. Semoga Tuhan ada di setiap langkahmu. Ini penting. Supaya kakimu selalu tertambat di bumi, walau mungkin mimpi dan maumu membumbung ke langit. Biarkan Tuhan selalu menjadi pemandumu. Walau kau tak cacat arah sepertiku, kau tetap butuh pemandu.

Aku juga ingin kau selalu sehat. Ini serius, bukan doa yang klise. Sebenernya jantungku ga cukup kuat mendengar ‘wabah malaria’, membaca area HIV, atau lihat toilet seadanya tanpa membayangkan isinya yang horror, atau mana mungkin aku lupa adegan ketemu harimau atau cerita peluru nyasar? Duh…jantung halimah lemah, bang! :p

Ada banyak semoga-semoga lainnya tentu saja. Dari yang biasa aja, sampai yang sedikit luar biasa. Yang lainnya, cukuplah aku dan yang maha mengabulkan yang tahu isinya.

Dari banyak semoga-semoga itu, ada satu hal yang mungkin berbeda. Aku ingin bilang terima kasih banyak. Untuk mau berbagi mimpi dan menapakinya satu-satu. Untuk bersabar menghadapi kelemahanku terhadap angka. Untuk energy baikmu yang menular. Untuk ketelitianmu. Untuk baksomu yang lebih enak dari bakso depan kantor Kemang (pls jangan GR), Juga untuk bercangkir-cangkir kopi buatanmu (asal bukan kopi papua beraroma kunyit).

Selamat dua empat bulan sembilan, partner.

Doaku selalu deras untukmu.

-ditulis saat sore gerimis, beberapa hari lalu-

 

personal · poems

adakah?

adakah yang lebih indah dari kita?
yang dalam diam, kita sibuk saling mendoa
yang tanpa kata, kita sibuk menyuburkan cinta

adakah yang lebih indah
dari kita?

aku yang selalu menantimu di sela sibukku
kamu yang selalu datang setelah kita lelah berjeda
dan kita yang sama-sama menjatuhkan diri
dalam kisah yang berulang

ah!

 

personal

harinya ibuk

2 tahun lalu, jam 7 pagi, handphone berbunyi membangunkan saya dari mimpi. Di seberang terdengar suara kakak pertama.

‘hei, udah bangun?’, sapanya
‘baru aja. mau jemput ibuk ya’, saya menjawab dengan semangat. pagi itu memang jadwal kakak saya menjemput ibuk yang punya jadwal operasi angkat pen di jam 4 sore.

semalam saya sudah menelepon ibu untuk mencek kesiapannya. dan seperti biasa, ibuk sangat bersemangat. walaupun saya tahu dia sedikit nervous, apalagi saya yang biasa jadi bodyguardnya tak bisa mendampingi. sengaja saya tak ambil cuti dihari ibu operasi. saya punya rencana sendiri, ingin memberinya surprise akan datang di hari jumat. pada ibu saya hanya bilang, tak bisa mendampinginya di operasi lepas pen. rencana surprise yang kemudian saya sesali seumur hidup saya.

di telepon, kakak saya ngomong dengan pelan bahwa ibu jatuh dan sudah tak ada.

saya diam beberapa saat. saya merasa harus mengumpulkan nyawa yang berhamburan entah kemana. mendadak saya merasa kosong sekali. kosong. melompong.

saya hanya mendengar satu kalimat penutup dari kakak saya bahwa..saya harus memberi tahu kakak ke dua tentang kabar ini. saya mengiyakan. lalu sudah.

setelahnya saya sibuk mencari oksigen. dada saya sesak. anehnya, air mata saya kering. mungkin saya sedang denial tingkat tinggi. atau mungkin saya sedang berpikir keras untuk mencari cara bagaimana menyampaikan kabar ini ke kakak ke dua. entahlah. saya ingat saya duduk diam cukup lama. entah dapat kekuatan dari mana, saya bisa menelepon kakak ke dua dengan tenang, nyaris tanpa perasaan. saya menutup telepon ketika mendengar kakak ke dua menangis histeris.

hari itu kemudian jadi hari yang sangat panjang.

saya pergi ke kamar windy, house mate saya, untuk memberi tahu kabar ini. saya memberi tahu dengan kalimat pelan. tangis windy pecah, tangisnya keras. tangisan windy menular. inilah tangis pertama saya ketika ibu pergi.

saya kembali ke kamar, menelepon kuyus sahabat saya. entah, saat menelepon kuyus, dada saya terasa sakit sekali. sa-kit-se-ka-li. berkali-kali saya menyebut namaNya, mencari kekuatan, mencari pegangan.

lalu penggalan-penggalan cerita berganti-ganti muncul di kepala. seperti slide presentasi.

saya ingat ketika saya datang ke pemakaman ibu-nya ponyak. saat itu saya sibuk bertanya pada diri sendiri. bisa nggak ya saya sekuat ponyak, yang hari itu tampak keren banget di mata saya. ponyak sangat tenang, cenderung dingin. dia sigap turun ke liang kubur untuk menangkap jasad ibunya. ponyak menguburkan ibunya dengan kedua tangannya. hari itu sibuk bertanya-tanya…apakah jika hal itu terjadi pada saya, saya bisa sekuat ponyak?

saya juga ingat semua tentang ibu saya. omelan-omelannya, masakannya, telepon-teleponnya, gosip ini itunya, dua gigi depannya yang ompong. saya juga ingat satu minggu bersama ibu di ruang icu, saya ingat betapa sulitnya meredakan amarah ibu yang sering tak terkendali.

saya ingat hari-hari saya di hadapan kabah, di raudah..dan semua doa dan harapan yang saya panjatkan. saya hanya minta satu, untuk selalu memiliki kesabaran menghadapi ibu saya. saya tidak mau jadi anak durhaka. lalu ketika ibu saya benar-benar pergi sendiri…tanpa ada seorang pun di sampingnya. tak ada anak-anaknya yang membantunya melewati sakaratul maut. saya merasa saya adalah pecundang yang benar-benar ga berguna. saya dihantui rasa bersalah yang membayangi seumur hidup saya.

**********

kemarin 12 juli, adalah hari ulang tahun ibu saya.

ketika ibu masih ada, saya nyaris tak pernah melewatkannya dengan biasa saja. saya mengiriminya kado, surprise bday cake dan mengundang teman-teman rumpinya. apa saja. saya hanya ingin bikin ibu saya senang.

setelah tak adapun saya berusaha bikin something special. saya pernah melewatkan peralihan tanggal 11 – 12 di resto padang pagi sore. saya rayakan ultah ibu dengan makan enak. saya rasa, jika ia masih ada..dia pasti akan sependapat dengan saya. pagi sore memang one of the best!

kemarin 12 juli, adalah hari ulang tahun ibu saya. kali ini saya hanya bisa bilang, saya kangen ngen ngen sama ibuk. pft!

senang-senang sama bapak ya, buk!

 

personal

Lebaran Sudah Dekat

sebentar lagi ngemil nastar
sebentar lagi ngemil nastar

Lebaran sudah dekat.

Itu terbukti ketika tadi pagi saya mendapati Mbak Yem sudah sibuk di dapur. Menguleni tepung, telur, gula untuk berubah wujud jadi nastar yang aduhaiii rasanya.

Saya yang masih mengantuk urung melangkah kembali ke kamar.

Saya ambil dingklik, lalu duduk dan ambil bagian dengan membuat bola-bola nastar. Memlenet (apa ya istilahnya di bahasa Indonesia?), membuat lubang kecil untuk tempat selai nanas bersarang, menutupnya kembali dan mengolesi permukaan bola nastar dengan kuning telur agar nastar tampil cemerlang saat matang nanti.

Selama berkutat dengan adonan nastar, saya tak dapat menahan ingatan tentang ibu. Mungkin semacam rindu. Dan memang datangnya rasa rindu tak bisa kita prediksi. Datang tiba-tiba, menyelinap dan meninggalkan rasa nyelekit di dada.

Ibu si ratu dapur adalah dia yang tak pernah gagal membuat perut anak-anaknya berdendang. Jejak kelezatan olahan tangannya masih terlihat nyata di badan XXXL saya.

Masih terekam jelas di kepala, saat lebaran mulai dekat, Ibu akan menjadi sibuk (sekali) di dapur. Saya sempat heran melihat ibu-ibu di kota sibuk memesan makanan ini itu menjelang lebaran. Karena di masa saya tinggal bersama ibu bapak, hal itu tak pernah terjadi. Ibu memasak apapun yang akan kami makan.

Di awal-awal puasa, Ibu sudah mulai mencicil bahan-bahan yang ia prediksi akan naik di saat lebaran makin dekat. Tepung, gula ia bawa pulang. Lalu ia membayar telur, daging dan lain-lain. Barang-barang ini tak ia bawa pulang karena expired date nya yang singkat. Ia membeli dengan harga hari ini dan akan ia ambil saat dibutuhkan. Entah bagaimana cara negosisasi yang terjadi di tkp. Tapi bertahun-tahun lamanya, ibu selalu melakukannya.

Lebaran yang semakin dekat akan lebih terasa di dapur Ibu. Beliau tak pernah kembali tidur selepas subuh, Mixer akan meraung-meraung, tangannya putih tepung, aroma kue kering tercium dari oven andalannya. Ibu juga akan menumbuk ketan untuk dijadikan wingko babat kesukaan saya. Ya..WINGKO BABAT yang prosesnya subhanalloh susahnya. Itupun ia buat sendiri. Dan entah apa resepnya, sepanjang ingatan saya..rasanya selalu OKE BANGGET!

Walaupun di keluarga kami, Opor dan ketupat bukanlah item favorit, tapi ibu tetap akan membuatnya untuk dibagikan tetangga kanan kiri. Untuk kami, ibu selalu memasak sambal goreng kentang, soto babat dan iso dengan emping dan krupuk udang. Oh, di meja makan kami selalu terhidang tempe tepung. tentu saja itu adalah sajen untuk si bungsu.Tempe tepung tak pernah salah dan tak  mengenal musim.

Menu yang sering jadi favorit adalah pecel. Ibu selalu berpikir, orang-orang akan blenek makan menu santan. Dan semua rasa blenek itu tak akan terjadi di rumah kami. See, how thoughtful she’s.

Sepagi tadi saya menguleni cikal bakal nastar. Saya dan Mbak Yem asik mengobrol tentang ini itu, dengan otak saya tak lepas dengan episode-episode lebaran di rumah Ibu.

Rindu memang tak kenal waktu. Nyerinya tak habis oleh hitungan tahun. Dan untuk sebuah cinta yang dalam, kehilangan akan selalu terasa aktual.